Teknik

Makan Siang Ditanggung Fakultas, Beberapa Mahasiswa Keracunan Nasi Basi

Makan Siang Ditanggung Fakultas, Beberapa Mahasiswa Keracunan Nasi Basi

Bagi mahasiswa yang terjun langsung dalam kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru Jurusan Fakultas Teknik tentu masih ingat kejadian makan siang yang diisukan banyak ditemukan nasi basi khususnya pada Kamis (27/8/15), hari pertama kegiatan berlangsung . Pasalnya, hal ini mengakibatkan banyak mahasiswa baru dan para panitia mengalami mual dan diare bahkan sampai harus dibawa ke RS.

Menurut Ketua BEM FT UNDIP Aulia Hashemi mengonfirmasi bahwa peristiwa itu benar adanya. “Awalnya dapat kabar dari Ketua Senat hari kamis malam. Sebelumnya, siangnya beliau bertemu dengan PD 3. Beliau bilang bahwa hari ini PD 2 banyak dikomplain terkait makanan untuk kegiatan PMB. Saya pikir hanya beberapa, ternyata pas pagi harinya dapat masukan bahwa beberapa himpunan komplain. Hampir semua himpunan ada, di Teknik Sipil bahkan sampai panitia. Tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya, tahun lalu dana diturunkan dan konsumsi disesuaikan di masing-masing jurusan sehingga sistem koordinasi tidak terlalu terpusat. “Mungkin saya pikir, kemarin maghrib jam 6an, Pak Agung selaku Dekan meminta maaf secara teknis. Beliau meminta maaf, mungkin kateringnya belum pernah membuat pesanan sebanyak ini sehingga secara teknis tidak sebaik itu sehingga terjadi seperti ini,” ujar kembali Ketua BEM FT.

“Kronologi, saya kurang tau. Hari kamis hampir seharian di kampus, saya heran biasanya konsumsi datang secepatnya. Datang jam setengah 12 tapi setahu saya datang jam 10.00 WIB di Teknik Sipil sudah ada artinya masakan dibuat dari pagi. Bahkan Di Teknik Planologi ada yang dimasukkan ke RS oleh kajurnya,” ujar kembali Aulia. Jumlah keseluruhan yang diketahui oleh Ketua BEM FT bersumber dari para kahim adalah Teknik Sipil sejumlah 13 orang, Teknik Perkapalan sejumlah 1 orang, Teknik Planologi sejumlah 1 orang, Teknik Sistem Komputer sejumlah 1 orang panitia mual, dan D-3 Teknik Elektro sejumlah 4 orang yang mual. “Beberapa jurusan sewaktu makan tidak ada apa-apa, tetapi besoknya banyak yang izin sampai 15 orang dari D-3 Mesin,” ujar kembali. “Sebaiknya masakan dipisah antara kuah dan tidak berkuah, untuk yang sakit saya tidak tahu apa ada kompensasi atau tidak. Pak Agung, mengatakan bahwa kita harus membuat surat permintaam maaf. Ini menjadi sebuah pelajaran buat kita, bahwa sebenarnya kita harus percaya kepada mahasiswa. Kedepannya ada kebijakan yang lebih logis,” ujar kembali Ketua BEM FT tersebut.

Di Teknik Planologi bahkan ada mahasiswa baru yang harus dibawa ke RS. “Sebenarnya untuk kronologinya saya kurang tahu karena secara teknis saya tidak terjun. Baru satu orang yang diketahui. Cuma terkait konsumsi, panitia sempat mencium bau makanan yang bau. Tindak lanjut sudah sampai ke dosen dan bakalan mengajukan ke dekanat. Dan kami sudah kabarkan ke Senat Mahasiswa,” ujar Baikuni selaku ketua Himpunan Teknik Planologi.

“Habis makan siang perut aku nggak apa-apa, tapi tiba-tiba mulut aku asam rasanya mau muntah jadi ke toilet ajak teman. Aku muntah sedikit cuma nasi yang aku makan aja. Terus aku minta tolong ke teman aku buat minta tolong minta minyak kayu putih ke kakak kesehatannya. Setelah dimintai, lalu sama Kak Vina datang nanya ke aku. Terus di ajak ke ruang HM. Disana dikasih teh hangat, sama air putih, sama roti terus aku makan. Nggak sampai 5 menit aku muntah lagi. Terus aku ke toilet lagi dan kembali lagi ke ruang HM, disana aku di kasih kantong plastik supaya aku gak bolak-balik terus. Tapi aku kembali lagi ke toilet, pas keluar dari toilet badan aku lemas, aku buka pintu langsung pingsan. Aku mau sadar, aku udah dibawa kedalam mobil buat dibawa ke Klinik Kita. Disana kata dokternya harus diinfus soalnya cairannya udah keluar semua. Jadi aku dibawa ke RS Banyumanik,” ujar Intan mahasiswa baru Teknik Planologi sebagai salah satu korban.

Untuk di Teknik Sipil ada sekitar 20 orang yang mengalami perutnya sakit. Menurut penuturan Darma, wakil ketua himpunan Teknik Sipil kalau nasi yang mereka terima sekitar jam 11.00 adalah nasi dengan lauk ayam bumbu dan sayur kacang. Bukan basi, hanya saja nasi dan sayurnya disatukan tidak ada pemisah sudah dibungkus cukup lama jadi menimbulkan bau. “Kemarin sempat disampaikan ke ketua jurusan. Beliau menghimbau untuk didata, terus ditanya ke fakultas apakah makanannya bisa diganti atau tidak. Memang benar dari fakultasnya sudah membuat tindak lanjut dan besoknya makanan lebih baik. Tanggapan saya pribadi, baik niat dekanat untuk menyatukan konsumsi di seluruh jurusan dalam satu fakultas, hanya saja untuk mengelolanya butuh kerja yang lebih keras dibandingkan dengan jurusan sendiri yang mengelola. Menurut saya lebih efektif jika diberikan hak untuk jurusan sendiri mengelola konsumsi,” ujar Darma.

Lain lagi dengan kasus di Teknik Lingkungan. “Kalau korban pingsan tidak ada. Cuman yang diare dan mual itu ada sekiranya panitia 40 sampai 60 dan mahasiswa barunya 119 orang. Kronologinya makanan disuplai jam 11an dan yang parahnya adik-adiknya gak bilang, malah panitia yang bilang kalau makanannya basi. Malamnya panitia banyak yang sakit. Pihak jurusan sudah ke dekanat untuk diganti kateringnya. Benar diganti, tapi sayangnya hari kedua di TL terlambat dan paling terakhir datang sekitar jam 1. Untuk hari selanjutnya alhamdulillah lancar. Sebaiknya untuk makanan diberikan kepada jurusan, biar kita yang mengelola dan terjamin,” ujar Diky selaku ketua panitia acara di Teknik Lingkungan. Sedangkan di Teknik Sistem Komputer, Teknik Industri, Teknik Perkapalan dan Teknik Mesin tidak ada sama sekali.

Dikonfirmasi hari Kamis (3/9), pihak dekanat sendiri bahwa membenarkan adanya aduan dari beberapa jurusan mengenai kondisi makan siang yang tidak layak makan. Pembantu Dekan 2 yang mengurus segala administrasi makanan PMB jurusan Fakultas Teknik menyesalkan adanya kecolongan dalam pengadaan makanan dan memohon maaf atas peristiwa tersebut. Beliau juga membeberkan alasan hal tersebut bisa terjadi dikarenakan rentang waktu yang pendek dalam mempersiapkan teknis penyediaan makanan mulai dari operator hingga distribusi. “Untuk mengelola lebih dari 2000 bahkan 3000 makanan tidaklah mudah, mencari katering yang benar benar bisa untuk memenuhi pengadaan tersebut cukup sulit,” ujar Dr. Sulardjaka. Kedepannya beliau akan mengevaluasi dan merencanakan konsep dan teknis yang matang agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan. (Momentum/ Gegik dan Umi)

IMG_9681(Foto : carolina clara)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Teknik

More in Teknik

Public Hearing X Format 2020 sebagai Forum Dialog Mahasiswa Teknik

adminNovember 16, 2020

Kegiatan PKKMB FT Undip 2020 Secara Daring disambut Antusias oleh Mahasiswa Baru

adminSeptember 16, 2020

Sekilas Info Tentang English Day yang Diterapkan di FT

adminAugust 17, 2020

Mahasiswi FT Undip Juarai Kompetisi Debat di Malaysia

adminFebruary 5, 2019

Rapat Dengar Pendapat (RDP) Bahas Poin Penting Juknis

adminSeptember 22, 2018

FORMAT: Indonesia Kekurangan Insinyur

adminSeptember 8, 2018