Opini

Media Masa : Antara Bisikan Setan Dan Malaikat

Media Masa : Antara Bisikan Setan Dan Malaikat

Saya lebih takut pada sebuah pena dari pada seratus mariam
(Napoleon Bonaparte)

Media massa merupakan sarana atau channel yang digunakan untuk menyuarakan informasi. Secara nyata, eksistensialnya mampu berbuah menjadi opini publik dalam masyarakat. Inilah yang menjadikan media massa sebagai tombak mematikan bagi siapapun.

Sebenarnya bukan pada media apa yang menjadikan seseorang binasa, tapi lebih pada informasi yang ada. Entah menggunakan koran, majalah, televisi, maupun internet sudah mampu merubah pola pikir seseorang mengenai isu yang berkembang saat ini. Informasi yang tersirat akan melahirkan difusi informasi atau suatu pemikiran yang melihat bahwa media massa memiliki kontribusi penuh atas segala pembaharuan serta inovasi yang tengah berkembang di masyarakat.

Seperti yang dikatakan oleh Rogers dalam Bungin (2009:152) bahwa ada beberapa unsur dalam difusi inovasi, yaitu inovasi, saluran komunikasi, waktu, dan sistem sosial.

Adanya perubahan pola pikir ini mengubah mindset masyarakat, bahwa mereka harusnya paham dan mengerti kondisi negara dan dunianya saat ini. Tak jarang tukang becak menunggu penumpang sambil membaca koran, ibu-ibu rumah tangga meracik masakan sambil menonton berita, mahasiswa mengerjakan tugas sambil menilik koran online. Dengan mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, masyarakat memiliki opini publik sesuai yang diharapkan si pembuat berita. Meski berawal dari teori minimalist effect (Vivian, 2008:471) yang menyebutkan bahwa media massa tidak memiliki efek langsung pada masyarakat, namun apabila ditambahi dengan pengalaman dari teman atau kenalan mampu menambahkan efek kuat bagi pembaca.

Jika hanya berperan sebagai media massa, mengapa kaisar ternama di Perancis, Napoleon Bonaparte, begitu takut pada pena (baca : media massa)? Sama seperti alasan konflik di Maluku yang tak kunjung usai dan hangusnya Los Angles oleh penduduk berkulit gelap merupakan senjata mematikan yang diciptakan media masa.

Sebagai contoh lain, kisah konflik Maluku yang berawal dari berita dalam Majalah Time, edisi Desember 1998 terpampang foto vulgar pembunuhan sadis yang terjadi karena kerusuhan antara preman penjaga taman hiburan dengan pemuda kampung. Namun mereka menyebut korban sebagai Ambon Kristen dan pelaku pembunuhan Muslim. Berita ini berakibat dua bulan selanjutnya terjadi pembantaian saat sholat Ied di Ambon oleh umat kristen. Bahkan media internasional juga menyebut kasus ini sebagai Pemusnahan Minoritas Kristen oleh Mayoritas Islam di Indonesia.

Kemudian contoh lain adalah konflik antara polisi dengan pemuda kulit hitam di Los Angles yang mana adegan kekerasannya hampir ditayangkan terus menerus sepanjang minggu. Hasil berita tersebut mampu memicu kerusuhan yang berimbas membumi-hanguskan kota LA. Rasa benci dan sentiment ras berhasil dibangun di sana.

Dari beberapa kejadian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemberitaan media yang hanya cover one side akan memunculkan konflik, kekerasan, bahkan diskriminasi. Tentu saja keadaan ini semakin meruncingkan pertikaian yang sudah ada. Sebab suatu kasus bisa dilihat dari berbagai sisi dan sudut pandang. Maka pakailah kacamata kebenaran, yang mampu merekam kejadian nyata dengan berbagai sudut pandang kebaikan. Hentikan penggunaan labelling, stereotyping serta kata sifat yang memunculkan makna ambigu.

Gunakanlah bahasa yang tepat, tegakkanlah prinsip Peace Journalism dalam mengabarkan peristiwa. Seperti pemberitaan politik Apartheid (deskriminasi ras kulit hitam dan putih) di Afrika Selatan yang sudah usai karena desakan internasional. Siapa lagi kalau bukan media massa yang ikut turun tangan?

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Kondisi Kebebasan Pers Pada Lembaga Pers Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Posko Pengaduan UU Cipta Kerja, Cara Undip Menyerap Aspirasi Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Dilema Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

adminOctober 10, 2020

Polemik Kata “Anjay”

adminSeptember 21, 2020

Mahasiswa Baru: Keresahan Kaderisasi, Teman, dan Dosen Online

adminAugust 17, 2020

New Normal, Herd Immunity dan Segala Ketidakabsahannya

adminMay 31, 2020