Umum

Keindahan yang Hilang

Keindahan yang Hilang

Masih seperti hari-hari biasanya di bangku yang sama, di jam yang sama namun dengan senja yang berbeda. Sore itu, aku hanya duduk terdiam di sebuah mini bus yang tengah melaju ke kotaku. Lelahku seharian dengan segudang aktivitas di kampus yang padat, membuat senja sore itu terasa amat mencekam. Bukan soal tugas, bukan soal organisasi, atau bukan soal pacar yang tengah merajuk. Entah aku sendiri juga sulit untuk menerjemahkan resah dan gelisah kala itu. Hingga tanpa tersadar akupun tertidur dan akhirnya terbangun dalam situasi yang tidak aku kenali.

Sore itu, disaat aku terbangun tanpa kusadari mini bus yang membawaku tengah berhenti di sebuah desa yang nampak begitu indah. Harumnya angin dengan pemandangan bunga warna-warni bermekaran memaksaku beranjak dari kursi penumpang dan berjalan menyusuri sekeliling desa. Padi menguning harum, air mengalir deras. Indah, hanya indah yang terlihat. Kaya, desa ini sungguh kaya. Tanpa arah, akupun berjalan melewati alang-alang yang tumbuh begitu lebatnya. Hingga pada persimpangan jalan, takdir telah membawaku pada seorang teman untuk berbincang. Kala itu, seorang gadis kecil bertubuh kurus kering duduk memeluk lutut di pinggir jalan. Di depannya terhampar indah padang rumput yang luas. Pakaiannya begitu lusuh. Rambutnya nampak tak pernah tersentuh sampo. Hingga lama kuamati, ternyata air matanya mengalir membasahi pipinya yang penuh oleh bekas luka. “Dek, kamu kenapa?” tanpa basa-basi akupun memberanikan diri menyapanya. Satu dua kali bertanya, namun dia tetap diam menangis.

“Aku gatau kenapa kamu menangis, tapi aku merasa kamu tidak seharusnya menangis, lihatlah kamu punya sejuta keindahan yang seharusnya bisa membuatmu bahagia, apa yang harus ditangisi?” ucapku hingga membuat si gadis mengangkat wajahnya dan menatapku. Tampak kemarahan muncul dari dalam dirinya. Dengan suaranya yang parau, ia menjawabku dengan lantang. “Kalian tidak tahu, dan selamanya kalian tidak akan pernah mengerti. Orang-orang besar seperti kalian hanya bisa melihat keindahan saja. Orang jahat tidak akan sudi melihat kesalahannya!”. Mendengarnya, amarahkupun sempat mencuat, aku hanya bertanya tapi kenapa dia justru menyebutku jahat? Tetapi melihatnya semakin keras menangis, hatikupun terenyuh. Ada duka mendalam tercermin dari bola mata coklatnya yang sayu.

“Oke! Aku mau kamu menunjukannya padaku, apa yang tidak aku lihat,” ucapku padanya. Tak lama kemudian, si gadis itupun berdiri dan mengajakku pergi bersamanya. Semakin jauh mengikuti langkah gadis kecil itu, entah mengapa tubuhku semakin terasa panas. Cahaya senja kuning yang hangat, perlahan semakin meredup. Warna-warni perlahan menghilang, yang terlihat hanyalah hitam dan gelap. Senja itu, matahari seolah tenggelam bersama cahayanya tanpa membawa panas bara apinya. Semakin gelap dan semakin panas. Hingga di suatu tempat, gadis itu menghentikan langkahnya. Tangisnya semakin menjadi. Dengan secepat kilat, dia berlari kearahku dan memelukku sangat erat. “Aku takut, aku takut, aku takut,” tuturnya dalam tangisnya. Dalam hitungan detik, keluarlah air mata membasahi mataku. Resah dan gelisah yang kurasa, semakin terasa. Hatiku iba, jiwaku sesak saat melihat apa yang ada di hadapanku.

Entah kau percaya atau tidak, tetapi tempat terindah yang aku injak saat itu, perlahan berubah menjadi tempat usang mengerikan. Melihatnya aku merasa tengah berada di kota mati yang lama ditinggal. Dihadapanku, bangunan-bangunan tinggi menjulang. Kepulan asap muncul dari corong-corong bangunan. Air yang mengalir di sungai entah pergi kemana dan terganti oleh cairan berbau busuk yang keluar dari pipa-pipa di sekitar bangunan. Suara burung yang nyaring berkicau sekejap hilang tertelan suara bising mesin-mesin dan kendaraan yang entah di mana. “Ya, inilah kehidupan kamu yang sebenarnya,” ucap gadis itu dalam isaknya.

Lalu, sebuah jerit menggema di salah satu sudut desa. Jeritan itu terdengar berulang, terus menerus. Akupun ikut menjerit dan si gadis kecil itu juga semakin menjerit. Aku masih tak mengerti dengan semua ini. Dengan tangan gemetar, kutarik tangan gadis itu dan menggandengnya untuk menyelusuri setiap sudut gang di desa itu.

“Hei anak muda!” seseorang memanggilku dengan suara serak yang hampir menghilang. Dia adalah seorang nenek renta dengan tongkat ditangannya. “Marilah nak, ikuti aku jika kau ingin mengerti tentang semua ini,” kata si nenek membawaku ke salah satu bangunan besar di sudut desa. Bangunan terbesar namun rapuh di desa itu. Akhirnya, aku mengetahui bahwa suara itu adalah suara kumpulan anak kecil yang tak beruntung. Mereka menangis, mereka terus menjerit. Dan anak kecil yang terus bersamaku itu adalah bagian dari kelompok itu. Mereka adalah sekelompok anak yang kehilangan oksigennya. Mereka kehilangan sumber makanannya. Mereka terpapar panas yang melukai kulitnya. Dan mereka telah kehilangan orang tuanya.

“Nek, kemana orang tua mereka pergi? Mengapa anak-anak ini terkurung disini?” tanyaku penuh rasa iba dan penasaran.

“Lihatlah nak, desa kami telah rusak. Anak-anak ini tidak mempunyai tempat yang lebih aman lagi selain di sini,” jawab nenek membuatku semakin bertanya-tanya.

“Tapi kemana orang tua mereka? Nenek belum menjawab pertanyaanku,” desakku masih belum mengerti.

“Gedung-gedung kokoh disana, gedung-gedug dengan gumpalan asap disanalah yang membuat orang tua mereka pergi. Asap dan cairan beracun itulah yang membuat keindahan di desa ini semakin menghilang. Kau melihatnya bukan?  Semua warna yang kau lihat semakin memudar? Ya mesin pabrik dan kendaraan itulah penyebabnya,” ujar si nenek.

“Lalu apa  yang terjadi pada anak-anak ini nek?” tanyaku masih penasaran. Nenek itu terdiam.

***

Mungkin kau tak akan pernah percaya, tapi sekejap nenek dan semua anak-anak itu menghilang. Ya dan semua yang ada dihadapanku kala itu menjadi benar-benar hitam. Entah itu hanyalah mimpi, khayalan atau kenyataan. Tapi aku sekarang tahu kenapa keindahan itu menghilang. Orang-orang yang anak kecil sebut itu, ya merekalah si penguasa yang gagah di negeriku. Tak semuanya memang. Tetapi beberapa dari penguasa serakah itu, mereka hanya melihat keindahan saja. Mereka mengambil kekayaan di seluruh penjuru negeriku. Mereka memperkaya diri dengan meninggalkan ketidakadilan disana-sini. Kini aku tahu berapapun rupiah yang mereka raup, tidak akan pernah cukup untuk membeli oksigen yang baru. Tidak akan pernah cukup. (Momentum/Ikrima)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umum

More in Umum

Indonesia di Masa Revolusi Industri 4.0

adminNovember 14, 2018

Rutinitas Aksi Buruh, Didengarkah oleh Pemerintah?

adminMay 6, 2018

Taman Segitiga Widya Puraya Dirombak

adminMarch 18, 2018

Mengenai Diskusi Pesta Pendidikan, Begini Tanggapan Ketua BEM FT Undip

adminOctober 18, 2017

90 Menit Bersama Jokowi dalam Dies Natalis ke-60 Undip

adminOctober 18, 2017

Jelang 30 September, Mahasiswa GERAM Adakan Nobar

adminOctober 1, 2017