Tokoh

Mengenal Sosok Susatyo Nugroho Widyo Pramono, S.T., M.M., Dosen Unik dengan Seribu Kisah Klasik

Mengenal Sosok Susatyo Nugroho Widyo Pramono, S.T., M.M., Dosen Unik dengan Seribu Kisah Klasik

psus

Dosen memiliki peran penting dalam  rangka mendidik anak bangsa. Menjadi dosen yang dekat dan bersahabat dengan mahasiswa menjadi salah satu kelebihan pada dirinya. Beliau adalah Susatyo Nugroho Widyo Pramono, S.T., M.M. salah satu Dosen Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro. Lelaki yang lahir di Purworejo pada 11 Maret 1969 itu seringkali menyingkat dirinya dengan nama “SNWP” di beberapa akun jejaring sosialnya. Saat menginjak usia 2 tahun, beliau pindah ke Ungaran untuk mengikuti orang tuanya. Lalu saat duduk di bangku kelas 4 SD, beliau berpindah lagi ke Magelang sampai bangku SMP hingga menamatkan SMA.

Pada tahun 1987, beliau melanjutkan pendidikannya di Jurusan (sekarang menjadi  Departemen) Teknik Mesin Universitas Diponegoro melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Bicara mengenai jurusan yang beliau pilih, rupanya berawal dari ketertarikannya untuk membongkar pasang angkot milik orang tuanya dan juga melihat lingkungan di sekitarnya yaitu kebiasaan masyarakat untuk mengutak – atik mesin. Selain itu beliau mengikuti jejak dari kakak yang juga mendalami ilmu di Teknik Mesin.Walaupun sempat kecewa karena gagal mendapatkan Teknik Industri ITB pada pilihan pertama PMDK, namun takdir justru mengantarkannya menjadi Dosen Teknik Industri Universitas Diponegoro.

Semasa menjadi mahasiswa, beliau aktif mengikuti Keluarga Mahasiswa Teknik Mesin atau yang sekarang berganti nama menjadi Himpunan Mahasiswa Mesin sebagai Sekretaris Umum. Salah satu prestasi yang beliau raih saat menjadi mahasiswa adalah menulis karya tulis yang berjudul “Pentingnya Bahan Bakar Alternatif untuk Indonesia” yang pernah dimuat di LIPI pada tahun 1990. Karya tulis tersebut menginisiasi Seminar berlevel nasional pertama yang diselenggarakan Teknik Mesin, dengan mengundang Menteri Pertambangan dan Energi,  Dirjen Migas, Dirjen Perhubungan Darat serta Kepala Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Propulsi ITB. Tentu bisa dibayangkan bagaimana beratnya mencari pembiayaan untuk mengadakan seminar nasional tersebut. Namun karena kegigihan beliau dalam memimpin tim, akhirnya panitia  mendapatkan dana sponsor dari salah satu perusahaan BUMN ternama di Indonesia sebesar Rp 5,5 juta,-  atau saat ini kurang lebih setara dengan 75 juta rupiah, sehingga acara berjalan sukses.

Setelah lulus sarjana pada Juli 1994, beliau mulai bekerja di PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN sekarang menjadi PT Dirgantara Indonesia) pada bagian Engineering Office. Tidak lama disitu, beliau menerima tawaran untuk bekerja di PT Dwima Grup sebagai Mechanical-Electrical Manager yang menangani pembangunan apartemen. Sembari bekerja di Jakarta beliau melanjutkan pendidikan S2-nya yaitu Magister Manajemen Universitas Diponegoro. Perjuangan yang beliau jalani saat itu yaitu hidup di dua kota yang cukup berjauhan dalam satu minggu. Hal tersebut yang kemudian mendorong pemilik Dwima  Group menawarkan untuk membuat perusahaan secara mandiri. Akhirnya mulai akhir tahun 1994 beliau bekerja mengelola perusahaan sendiri walaupun dengan modal milik orang lain. Bidang kerja pertama yang beliau dapatkan yaitu membuat satu unit bisnis yang membenahi supply chain produk fresh food seperti sayur, daging, jamur dan lain-lain dari pemasok di Jawa Tengah untuk dipasok ke PT Makro Karabha Unggul (Pusat Perkulakan Makro). “Sampai kemudian saya diminta untuk ke sayap bisnis yang lain yaitu menjadi Kontraktor. Dan itu saya jalani sembari saya menjadi Dosen. Saya berhenti usaha sejak tahun 2006. Saya ingin fokus menjadi seorang pendidik,” ungkap Pak Susatyo.

Beliau mulai menjadi seorang Dosen pada Oktober 1996 dan menjadi CPNS Dosen pada Februari 1997. Pada awal masa kerja, beliau sudah langsung menjadi Dosen Pembina Kemahasiswaan, yang dijalaninya lebih dari 12 tahun ini. Pengalamannya dibidang Kemahasiswaan mengantar beliau menjadi Staf Ahli Pembantu Dekan III Fakultas Teknik (2012-2015) dan saat ini menjadi Ketua Tim Pembina Kemahasiswaan Fakultas Teknik, membantu Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan. Keterlibatan beliau secara intens pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) pada lima tahun terakhir ini, membuat beliau mendapatkan amanah menjadi Koordinator Pembinaan
Tim/Kontingen Universitas Diponegoro pada PIMNAS 28 di Universitas Halu Oleo Kendari dan PIMNAS 29 di IPB Bogor. Pada PIMNAS 29 ini, kontingen Universitas Diponegoro meraih 3 Emas, 4 Perak dan 4 Perunggu.

Menjawab pertanyaan tentang bagaimana prestasi dan kualitas PKM UNDIP, ”Kami mencoba mengusulkan kepada Direktorat Kemahasiswaan UNDIP agar pembinaan PKM dimulai dari hulu, yaitu sejak tim PKM menetapkan topik dan proses penulisan. Agar tim PKM yang lolos dibiayai Kemenristek Dikti benar-benar tim yang siap melaksanakan proposalnya,” ungkap beliau. Untuk mendokumentasi karya-karya PKM, beliau juga mengusulkan Universitas Diponegoro memiliki tempat untuk prototype hasil PKM, agar terdapat kompilasi sehingga saat ada research exhibition, bisa dipamerkan kembali atau mungkin bisa dihubungkan dengan investor untuk dihilirisasi/komersialisasi, terlebih  lagi di Fakultas Teknik memiliki Pusat Inovasi Bisnis dan Teknologi (PIBT). “InsyaAllah kegiatan kami yang paling awal pada sekitar akhir september adalah Technopreuner Camp. Jadi baik semua di PKM T, PKM KC dan PKM P yang ingin alatnya diinkubasi untuk menjadi alat yang bisa dikomersialisasi silahkan ikut,” ujar beliau. Menurut beliau, topik utama yang saat ini menjadi unggulan PKM yaitu Energi, Lingkungan, Pendidikan dan Kesehatan.

Melihat dari sisi pribadi , beliau mempunyai prinsip hidup Nothing is Impossible, the word itself says I’m Possible”. Pesan tersebut bermakna bahwasanya tidak ada yang tidak mungkin selagi mau berusaha. Beliau juga berpesan kepada seluruh Mahasiswa Undip agar menjadi mahasiswa yang Komplit dan “COMPLETE”. Komplit dalam pengertian menjadi pribadi yang utuh, memiliki berbagai macam kebisaan sehingga mudah beradaptasi dengan perubahan apapun, dan “COMPLETE” sebagai profil lulusan Undip yaitu Communicator, Proffesional, Leader, Entrepreuner, Thinker dan Educator. (Momentum/Ardining)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tokoh

More in Tokoh

MENGENAL SEORANG ANJANA DEMIRA LEBIH DEKAT

adminNovember 4, 2018

Mengenal Lebih Dekat Sosok Kepala Departemen Teknik Geodesi, Dr. Yudo Prasetyo, ST., MT.

adminMay 6, 2018

Sampaikan Kotak Aspirasi, Ketua BEM Undip Diberi Wejangan Bu Menteri

adminApril 10, 2018

90 Menit Bersama Jokowi dalam Dies Natalis ke-60 Undip

adminOctober 18, 2017

Prof. Sudharto P. Hadi, : Pemimpin Tidak Banyak, Merekalah yang Bisa Membagi Waktu

adminMay 31, 2017

Sosok Perempuan : Kepala Departemen Teknik Industri Undip, Dr. Naniek Utami Handayani, S.Si

adminApril 5, 2017