Event

Pelaksanakan Upacara Kemerdekaan di Undip

Pelaksanakan Upacara Kemerdekaan di Undip

DSCN6149

Merdeka, Merdeka, Merdeka. 17 Agustus menjadi tanggal yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. 71 tahun yang lalu negara ini memproklamirkan haknya terbebas dari belenggu penjajahan. Untuk mencapai sebuah kemerdekaan tak lupa kita akan perjuangan para pahlawan yang telah gugur dengan semangat perjuangan kemerdekaan dan merelakan tumpah ruah darah. Menghargai jasa para pahlawan salah satunya dapat dilakukan dengan mengikuti upacara bendera.

Seperti halnya upacara yang di laksanakan di Lapangan Widya Puraya Universitas Diponegoro Rabu (17/8/2016). Dalam upacara sakral ini dihadiri oleh para Dosen, Staff Pengerja, Rektor Undip dan mahasiswa Universitas Diponegoro. Upacara terbuka untuk umum dan semua mahasiswa diperbolehkan untuk mengikutinya.

Dalam berlangsungnya upacara sakral memperingati hari kemerdekaan tak luput Rektor Yos Johan Utama menyampaikan pidatonya dengan pesan dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. “Keberagaman, saya percaya dalam beragam perbedaan yang ada di indonesia selalu ada cara untuk menjaga kebersamaan karena kita di persatukan dalam kondisi real perbedaan namun mempunyai satu tujuan untuk menggapai Indonesia merdeka, satu tanah air satu bangsa. Sekecil apapun karya kita akan sangat berarti bagi bangsa ini. Jangan hanya diam saja, bangsa ini tidak akan pernah maju. Bukan karna terbatasnya sumber daya yang berkualitas. Bangsa ini kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mempuni. Bangsa ini tidak maju karna hanya diam saja ketika ibu pertiwi memanggil.” Pesan Bapak Gubernur melalui pidato Bapak Rektor.

Upacara juga disertai dengan pengumuman pemenang Pimnas dimana 3 emas, 4 perak dan 5 perunggu telah berhasil mengharumkan nama Almamater Undip di kancah Nasional. Pencapaian tersebut mengalami kemajuan dari tahun sebelumnya. Selain itu sebagai hadiah untuk para peserta Pimnas dibebaskan dari Tugas Akhir atau Skripsi.

Dibacakan pula Fakultas Teknik meraih prestasi dengan dosen mahasiswa yang telah mampu meraih tingkat nasional hingga mendunia melalui publikasi internasionalnya. Jurnal dosen yang masuk dalam insentif demokrasi publikasi internasional dari Fakultas Teknik tahun lalu 65 dan tahun ini mencapai 118. Prestasi yang membanggakan bagi Fakultas Teknik ini mendapatkan tepuk tangan dari hadirin ketika diumumkan.

Suasana upacara sakral tahun ini terlihat sedikit berbeda dengan upacara lainnya. Tenda dan kursi bagi peserta upacara menjadi faktor utamanya. Tidak hanya itu, sebagai pelengkap fasilitas kesehatan disediakan juga mobil ambulans.

Tentunya hal ini menimbulkan perbedaan pandangan masing-masing individu. “Alangkah baiknya upacara dilakukan berdiri selayaknya upacara seperti biasa. Sehingga lebih hikmat. Tapi semua tergantung pimpinan saja.” Ujar Eric selaku Wakil Ketua Bem Fakultas Hukum Undip.

Pendapat yang berbeda diucapkan oleh Luthfi Rahman selaku Wakil Ketua Bem Undip. “Tahun ini cukup berbeda dengan penambahan tenda dan lebih adem dan para tamu bisa lebih menikmati suasana upacara. Kesannya pakai tenda, agak canggung karena sepengalaman saya belum pernah upacara pakai tenda lengkap dengan kursinya. Menurut saya lebih kondusif dan lebih nyaman serta lebih hikmah dalam mendengarkan amanah. Tetapi lebih sakral kalo berdiri. Namun kekurangannya adalah (peserta upacara red.) banyak main handphone dan saling ngobrol karena santai” Ujar Luthfi.

Bapak Darwanto, S.H. selaku Kasubag Keuangan Undip ikut berpendapat mengenai penggunaan kursi dan tenda. “Dengan adanya tenda tentunya masyarakat sipil senang. Tetapi mungkin dari pandangan mahasiswa kurang hikmat tapi tidak begitu. Yang saya rasakan kita duduk pak rektor berdiri, maunya pak rektor disediakan tempat duduk. Itu menurut saya yang kurang hikmat. Tapi kita upacara serius karena kita pemimpin bangsa jadi wajar kalo di kasih kenyamanan tetapi tidak melunturkan rasa nasionalisme kita” tutur Bapak Darwanto.

Dibalik itu semua tentunya terselip harapan yang besar bagi bangsa ini serta penerusnya kelak. “Harapan kedepannya untuk mahasiswa sendiri agar lebih antusias untuk mengikuti upacara ini karena hanya sekali setahun. Dan juga amanah dari pembina upacara (Rektor red.) dan pesan dari Gubernur Jateng menambah semangat tersediri. Dan prestasi yang di umumkan di Undip juga membuat bangga dan lebih terpacu untuk berprestasi” imbuh Luthfi.

Setelah upacara selesai disambung dengan acara sarapan pagi yang telah disediakan oleh panitia. Pihak rumah tangga Undip telah mencoba memberi pelayanan terbaik bagi pelaksanaan upacara kemerdekaan ini. Meski begitu sifat kritis mahasiswa sebagai peserta upacara tetap tumbuh menyebabkan kontroversi penggunaan fasilitas upacara.

(Momentum/Selli)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Event

More in Event

INCRID 2019 Konferensi Internasional Pertama Teknik Lingkungan

adminOctober 24, 2019

Pasca Dasar LKMMD Fakultas Teknik 2019 , Pemantik Gerakan Penanaman dan Penghijauan

adminOctober 22, 2019

STERIL 2019: Expose The Heritage

adminSeptember 23, 2019

GORe FT 2019, Pemantik Mahasiswa Baru untuk “Berekspresi” di Bidang Riset

adminSeptember 16, 2019

DESA KENDALDOYONG MAKIN HIJAU DENGAN GERAKAN TANAM 100 POHON

adminAugust 19, 2019

Dari Puan Hingga Vidi, Penutupan ODM Undip Hadirkan Nuansa Toleransi dan Persatuan

adminAugust 19, 2019