Coretan Teknik

Pemakaman

Pemakaman

Setelah 4 tahun 11 bulan, akhirnya disini aku sekarang. Berdiri menatap wajah samarmu yang berada dua meter di bawah tanah. Rinai menemaniku melarutkan makammu yang kering. Aroma kenanga menyerbak menciptakan hawa magis yang mengantarkanku pada kenangan.

 

Erlangga Yudhistira, namamu yang ada di nisan, kekasihku yang sendu. Aku kesini sama sekali tak mencoba menggali kuburan tempatmu membusuk, Lang. Atau meratap sekencang-kencangnya. Atau mengutuki pilihan dan rencana-rencana. Karena yang mati akan tetap mati, yang pergi akan tetap pergi. Aku datang hanya menagih pembenaran. Bukankah yang hidup harus melanjutkan hidupnya?

 

 

Mereka bilang aku adalah perempuan murahan, tanpa harga berhasil dimiliki dengan harapan. Hanya dengan kata dilenakan tanpa fakta. Sialnya aku tak peduli!

 

Beberapa kilometer dari pemakaman, di tepi jalan berlubang terdapat bangku kayu melingkar di bawah pohon beringin dengan akar-akar menggapai tanah.Dimana menurut pemuja dinamisme terdapat konspirasi mistik dan makhluk astral keramat menempatinya.Akan tetapi menjadi tempat favorit seorang penjual kacang rebus dan orang-orang yang rehat sejenak dari kekusutan hidup.

 

Adalah takdir, kita datang ketempat itu bersamaan, Lang. Angin sepoi membelai dengan tenang mengarahkanku padamu. Kau, lelaki sendu beraura hangatdatang bersama seorang teman, atau aku pikir suruhanmu, dia mengantarmu menuju pohon dan berlalu. Aish, sudahlah, tak penting. Jelasnya itu adalah titik termagis atau bagi mereka titik termurah bagian diriku.Sore itu hanya ada tiga orang pendatang di beringin. Aku, kau, dan mamang kacang rebus.

 

“Neng, tadi yang di kantor kecamatan ya?” Mamang kacang rebus yang bermuka bulat dan bertahi lalat di hidungmengajakku bicara sambil mengambil pesananku.

“Iya mang, saya ngurus KTP buat nyoblos. Dompet saya kemarin hilang,”

“Oalah, hati-hati neng, di dunia ini jangan mudah percaya orang,”aku berlalu mencari tempat duduk.

Beberapa saat kitasama-sama terdiam dan sesekali curi pandang memahami sendu masing-masing. Kau melangkah menuju mamang kacang rebus. Menulisi sesuatu, sesekali menunjuk padaku.

Mamang kacang rebus mendekatiku dan menyerahkan kacang yang berbungkus kertas putih dengan tulisan.“HOPE”.

 

 

“Kamu tau, Coming together is a beginning; keeping together is progress; working together is success. Dunia hanya butuh penyatu. Terus sama-sama kita maju,”tiba-tiba kamu muncul dan menyemburkan kalimat itu didepanku, disela iklan sinetron duyung-duyungan episode 3456 yang dihapal bulat adikku kelas satu SD.

 

Biasanya aku akan melayangkan senyum sarkastik untuk setiap kata yang ku anggap bullshit. Namun kamu beda, aku percaya kamu, Lang. Aku sama sekali tak akan membahas cinta diceritamu ini. Tapi tanamkan, Lang. Kita adalah sepasang kekasih yang telah diikat percaya. Usah diperdebatkan, genggam saja tanganku.

 

Pagi yang dingin aku terbangun mendengar tapak kakimu masuk ke kantor. Kantor kecil yang tak akan muat menampung ide dan imaji manusia sekelas Erlangga Yudhistira. Kau berpakaian necis seolah akan mendatangi pertemuan penting hari ini. Bagai bianglala aku berada di titik paling bawah berbanding terbalik dengan penampilanmu. Kantung mata hitam dan iler yang mengering.

 

“Hari ini aku butuh doa dan dukungan, babak penentuan, jika nanti berhasil kau tak usah lembur begini lagi. Hidup kita akan ku ubah bagai surga dunia selayak kata orang-orang. Akan kuhadiahi kau kolam susu agar kulitmu jadi selembut sutera, ku bawa kau menari di bawah pelangi, karena badai akan kureda dan hujan akan kuhentikan,”belai tanganmu membuat sekujur tubuhku bergetar.

Seketika kudekap tubuhmu erat dan menatap lentik bulu matamu dalam. Sedikit jinjit aku membaui aroma kenanga, parfum yang kubelikan.”Aku percaya sayang,”bisikku lembut mengecupmu.

 

Dengan kilat, kuraih pisau yang ada di meja belakangmu dan menusukannya ke perutmu yang datar sekuat tenaga. Kuat, sekuat kepercayaanku. Menusukan semakin dalam hingga merobek seluruh isi perut dan janji-janjimu. Kau mengerang menatapku dengan sinis. “Aku mendoakanmu sayang, suatu saat akan menagih janji yang kau katakan, lakukan semampumu, jika terlalu berat, masih banyak kekasih lain yang ingin ku tusuk dengan pisau ini,” Aku tersenyum menyeringai, mencabut pisau yang merobek perutmu.

Semoga kau berhasil. Aku percaya padamu Elang.

 

 

Setelah 4 tahun 11 bulan, akhirnya disini aku sekarang. Aku benci menggenapkan menjadi 5 tahun. Karena 1 bulan cukup untuk menghapal kekasih-kekasih yang telah kuantarkan menuju pemakamannya. Membuat mereka membusuk bersama janji-janji yang mereka tulisi sendiri dan setengah rakyat di dalam kubur. Menyoblos dengan percaya bahwa semua akan begini saja. Bukankah yang hidup harus melanjutkan hidupnya?

 

Erlangga Yudhistira, kekasihku yang sendu. Dua meter di bawah tanah, kau membusuk. Kuburanmu yang sempit, diatasnya tumbuh pohon beringin, dengan poster wajahmu yang bernomor dipaku suruhanmu.Pohon yang persis sama saat kita pertama bertemu. Namun telah mati di lalap api janji. (Momentum/Lativa Israr)

 

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Hening

adminMarch 16, 2018

WHAT HOME SUPPOSED TO BE

adminMarch 8, 2018

LUNAR ECLIPSE

adminFebruary 10, 2018

Diponegoro : Simbol yang Menandai Zaman

adminJanuary 27, 2018

Indonesia Darurat Membaca

adminJanuary 18, 2018

Aku Cinta Kamu

adminJanuary 12, 2018