Opini

Mahasiswa dan Organisasi, Bersahabatkah?

Mahasiswa dan Organisasi, Bersahabatkah?

Mahasiswa dan organisasi merupakan kedua hal yang tidak dapat terpisahkan.  Kura-kura, alias kuliah-rapat kuliah-rapat, itulah sebutan bagi mereka, para mahasiswa yang aktif di berbagai kegiatan kampus. Bahkan, tidak jarang mereka rela pulang larut malam dari kampus setiap harinya demi menghadiri kegiatan organisasi seperti rapat dan agenda program kerja yang menumpuk. Kehidupan berorganisasi di kampus nyatanya memiliki begitu banyak pandangan dan sorotan. Ada yang memandang negatif bahwa dengan mengikuti kegiatan organisasi hanya akan menghambat nilai akademik. Namun, tidak sedikit juga yang menganggap positif bahwa dengan bergabung dalam organisasi kampus akan memberikan banyak sekali manfaat bagi dirinya, salah satunya dengan menjadi mahasiswa yang eksis yang terkenal seantero kampus.

Mahasiswa berorganisasi terkadang menjadi momok bagi orang tua. Apalagi, mahasiswa tersebut tidak menunjukkan perkembangan di bidang akademiknya. Ia hanya sibuk dengan organisasi, menjadi pengurus dengan melaksanakan program-programnya. Sebagai seorang mahasiswa, berprestasi di bidang akademik sudah menjadi sebuah kewajiban. Karena, tugas kita sebagai seorang mahasiswa adalah belajar. Tapi, apakah cukup dengan belajar saja? Nah, bagi kamu yang baru memasuki bangku kuliah tahun ini, setidaknya kamu perlu mengetahui apa untungnya organisasi bagi kepentingan kamu di masa depan. Jangan sampai kamu sudah hilang minat sebelum mengetahui apa pentingnya organisasi.

Selain datang ke kampus untuk menimba ilmu, sebaiknya seorang mahasiswa juga menyeimbangkan kehidupannya sebagai mahasiswa dengan mengikuti berbagai kegiatan di bidang non akademik. Salah satunya dengan aktif di beberapa organisasi kampus, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), himpunan mahasiswa jurusan, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), atau bergabung dalam kepanitiaan sebuah acara di kampus. Bergabung dalam organisasi kampus atau kepanitiaan acara kampus ternyata memberikan manfaat yang banyak terutama bagi mahasiswa yang masih berada ditahun pertama perkuliahan.

“Organisasi tahun pertama itu momentum yang pas buat nyobain organisasi, akademik masih belum maksa otak banget, dan teman-teman seangkatan juga dalam porsi pengetahuan tentang organisasi yang sama, karena kalau udah di tahun kedua atau ketiga, jadi malas rasanya, apalagi kalau temen kita udah megang jabatan di lembaga tapi kita masih nggak ada pengetahuan tentang lembaganya,” Ujar Azhar, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2015.

Bahkan banyak pula yang menganggap bahwa soft skill seperti melatih leadership skill, mengasah kemampuan sosial, menyalurkan hobi dan minat, networking atau memperluas jaringan dan belajar manajemen waktu akan lebih banyak diperoleh mahasiswa ketika mengikuti kegiatan organisasi atau kepanitian dibandingkan di kelas kuliah. Hal inilah yang membuat mahasiswa akhirnya menyempatkan diri untuk aktif dalam berbagai kegiatan di luar kelas kuliah.

Bagi seorang mahasiswa yang cukup aktif dikegiatan organisasi, Azhar Taufiqurahman, ikut organisasi tak sekadar melatih soft skill, tetapi juga hard skill. Adapun manfaat tersebut dia rasakan ketika menjabat sebagai salah satu staff bidang PSDM BEM FT Universitas Diponegoro.

“Sebagai mahasiswa Teknik Industri yang hanya belajar seputar keteknikan dan perindustrian. Tetapi di Organisasi, ketika aku harus merekrut anggota, aku harus paham human resources, ketika aku harus berhadapan dengan pihak birokrat, aku harus paham birokrasi. Nah, aku harus belajar psikologi, politik dan advokasi bahkan bagaimana cara untuk merancang anggaran. Aku dapat banyak ilmu macam-macam di samping soft skill,” ujarnya.

Sedangkan untuk soft skill, Azhar mendapatkan banyak sekali manfaat selama bergabung diorganisasi sepeti ia menjadi mengerti bahwa leadership, public speaking dan manajemen waktu dengan lebih baik. Selain itu, ia pun dapat memperluas jaringan komunikasi ke sesama aktivis kampus, ketua lembaga dan pihak birokrat kampus.

Pengalaman serupa juga dialami oleh mahasiswi Teknik Kimia angkatan 2015, Nada Silvia. Jurusan yang dipilihnya berbeda jauh dengan tanggung jawab yang diemban di Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia sebagai Staff Hubungan Luar Masyarakat dan Alumni. “Aku anak Teknik Kimia tapi aku juga harus mengerti mengenai marketing, networking, dan ilmu public relation. Aku enggak segan belajar sama anak komunikasi,” tukasnya.

(Momentum/Maulidya)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Jelang Pelantikan Presiden dan Wapres 2019

adminSeptember 26, 2019

Hikmah Pro Kontra RUU KPK

adminSeptember 19, 2019

SERI 1 MENYELAMI UNDIP : BENARKAH UNDIP TIDAK PUNYA AMDAL?

adminSeptember 9, 2019

BAGAIMANA KABAR AMDAL?

adminJune 24, 2019

MAHASISWA PEKA AKAN HOAX

adminMay 9, 2019

Pelaksanaan UTBK, Berbeda dengan SBMPTN Tahun Sebelumnya?

adminMay 5, 2019