Coretan Teknik

Koleksi Puisi karya Tegar Satriani

Koleksi Puisi karya Tegar Satriani

Repetisi Mimpi

 

Di ranjang ini acapkali maut bersitegang dengan khayal

Akan kubangunkan tanganku

dari kabut meski semalam telah terkirim prolog itu

dalam nyiur pasir dan dahan-dahan pantai :

gelap, atau debur yang membawakan buih kembali

pada estuari

 

Dan kaki-tak-bersepatu ini masih fasih

memilih arah, ke semenanjung, dengan

bekas karang yang tak terlihat

di telapak

 

Aku tak mencatat ketika bulan berkemas

dan dingin mengecil di tengah punggung

 

Di bawah selimut ini

laut seperti sembunyi

 

Walaupun noktah itu masih tersisa

pada bantal, akan ada bentuk tubuh yang gaib

dan desir yang ramai di titik beku : entah apapun itu

 

(Tegar Satriani)

 

 

Semarang – Ambarawa

 

Aku telah melipat kaku pada kerongkongan

dan melihat tubuh kayu yang bergumul

hujan akan 1-2 jam tersimpan

tanpa jarak dan sebuah simpul

 

Musim semi adalah serumpun pagi

yang terselip di pegunungan

seperti kita, yang mencari-cari

tanda marka pada sebuah tikungan

 

Bakal kita saksikan juga

pasar yang menimbun malam

kita tetap berangkat di jalur pertama

dalam fragmen cuaca yang kusam

 

(Tegar Satriani)

 

 

Ronda

 

Jam telah menitahkan hujan

yang berkelebat di luar

 

Kita telusuri jejak anjing yang panjang

ke sebuah ingatan, yang mengendus bau makam

 

Kita rangkum keluh yang terkunci

pada bangku-bangku besi

 

Selagi atap masih menahan waktu

yang singgah di antara pion-pion catur

 

Dan uap akan habis

di atas gelas ketiga

 

Senyap yang terlentang di sebuah beranda

tak akan terbaca, saat kelelawar tak mengudara

 

Tapi sudahlah, barangkali tak ada angka pasti

dalam sinyal dan perintah yang tak berhenti

 

(Tegar Satriani)

 

 

Hujan Yang Menepis Jembatan

 

Hujan yang menepis jembatan

akan ikut serta

membereskan nama

bangsal-bangsal putih

dalam perjamuan

 

Untuk ini mari simak kembali

altar yang memadamkan lampu

sebelum jam malam

 

Sabda yang terpatri

pada beton-beton jalan

akan berangkat dari lidahmu

ke sebuah museum

 

Seperti relief-relief barok

Firenze abad ke-16

gerimis menegakkan beku

di kota yang tanpa penjaga

 

Bila lembah digerus dan wabah bercampur

masih adakah yang kau lihat

dari sebuah ornamen bersama

sisa-sisa katedral bertingkat ?

 

Sementara hujan yang menepis jembatan

akan ikut serta

menyamarkan dataran

 

(Tegar Satriani)

 

 

Untuk Laki-Laki yang Sedang Mengemis di Persimpangan

 

Ia melihat tanda hujan di atas daratan

dengan alamat yang dipesan

pada sebuah nalar yang jauh

 

Saat itu juga

senja telah membawa sihir ketakutan

seperti sorak sorai

yang timbul tenggelam

 

“Beri aku wadah”, katanya,

“atau apapun yang membuat cuaca

tak membius tangan kananku..”

 

Ketika cahaya berpencar :

lampu iklan urban

membentuk ornamen

dan warna trotoar

 

Dan pergilah sebelum desau terjalin

di antara kedai, dan kau lihat

gerak jam yang mulai dilupakan

 

Tiap-tiap doa akan berubah

di setiap sudut besi

yang sangsi

 

Ia pernah mendengar

mimpi berteriak pada seutas ajal

yang tak sampai

 

Mungkin seperti minggu lalu

retika razia datang mencopot bajunya

dan menempelkan bekas biru

di pinggangnya

 

Ia hanya merasakan

sepasang kelopak yang terpejam

kota yang mati rasa

telah menyembunyikan pesannya

 

Hanya terlihat ruang angkasa yang hangus

dan lalu lintas yang terputus-putus

 

Kenyataan akan berlalu

dalam orbit yang berputar

seperti dongeng yang memar

 

(Tegar Satriani)

Tegar Satriani – S1-PWK

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Setangkai yang Lekas Layu

adminDecember 3, 2019

Apa Kau Masih Mau Bilang Jika Kau Sama Sekali Tidak Mencinta?

adminDecember 3, 2019

Menikmati Horor di Siang Bolong dalam Midsommar

adminSeptember 26, 2019

PRIA: “Apakah Tuhan Telah Salah Memberikan Rasa Cinta?”

adminSeptember 26, 2019

Melodi Rindu

adminSeptember 20, 2019

Mau Menambah Ilmu di Luar Negeri? Yuk, Ikut PELTAC!

adminAugust 3, 2019