Coretan Teknik

Manajemen Waktu

Manajemen Waktu

Punya berapa waktukah kamu dalam 1 hari? 1 bulan? 1 tahun?  Butuh kesadaran seberapa besar untuk kamu menyadari waktu-waktu itu berlalu? Butuh kemampuan seberapa ahli untuk kamu tahu apa saja yang sudah kamu lakukan selama waktu-waktu itu berjalan? Setiap orang sama. Kita hidup dalam rotasi waktu yang sama. Kita semua memiliki 24 jam dalam 1 hari, 30 hari dalam 1 bulan, dan seterusnya hingga 365 hari dalam 1 tahun. Tetapi dalam waktu yang sama itu, apakah setiap dari kita dapat meraih hal yang sama? Tidak. Tergantung kamu.

Secara teoritis, menurut Atkinson, manajemen waktu didefinisikan sebagai suatu jenis keterampilan yang berkaitan dengan segala bentuk upaya dan tindakan seorang individu yang dilakukan secara terencana agar individu tersebut dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya. Terlepas dari definisi tersebut, kata manajemen waktu tentunya sudah tidak asing lagi di telinga mahasiswa, bahkan beberapa dari kita sudah sangat sering menyebutkannya. Tetapi jangan hanya merasa tidak asing, kita juga harus bisa menerapkan manajemen waktu itu dengan baik, disinilah poin pentingnya.

Kamu organisatoris? Jangan jadikan kesibukanmu dalam organisasi sebagai kambing hitam ketika akademikmu amblas. Kamu akademisi? Jangan jadikan pencapaian IPK mu sebagai alasan untuk menutup kesempatanmu memperluas pergaulan di kampus. Dan yang paling penting lagi, jangan jadikan organisasi dan akademikmu menjadi alasan untuk kamu tidak punya waktu bagi dirimu sendiri dan keluarga atau orang-orang terdekat. Disini, bukan lagi masalah kamu mahasiswa jenis apa, tetapi seberapa terampilnya kamu membagi waktu untuk memenuhi segala aspek dalam hidup kamu?

Menurut saya, segala aspek dalam hidup saya itu penting. Keluarga, teman, kuliah dan organisasi itu adalah contoh sebagian aspek yang saya dan teman-teman semua alami disini. Tidak dipungkiri bahwa saya yang menulis ini, sering kerepotan mengatur waktu untuk semua aspek dalam hidup saya. Saya bukan orang hebat, prestasi saya tidak banyak, dan pengalaman organisasi pun mungkin tidak sehebat teman-teman. Tetapi setidaknya saya bisa menghargai waktu untuk dapat menyelamatkan diri saya dari segala rutinitas yang semakin lama semakin menyesakkan.

Kamu anak teknik? Ya, saya juga. Mungkin bukan hanya anak teknik yang merasakan hal yang sama. Tugas dimana-mana, kuliah dari pagi hingga sore hari, praktikum dengan laporan yang berhamburan, belum lagi ketika ada kegiatan organisasi atau keperluan lain yang harus diselesaikan. Semua serba deadline dan deadline itu sifatnya memaksa (haha). Dan ketika semua huru-hara itu datang, jangan berpikiran untuk memilih salah satu yang akan jadi korban. Tetapi coba untuk memilih salah satu yang menjadi prioritas utama. Ketika prioritas utama sudah ditentukan, apakah yang lain dibiarkan saja? Jelas, tidak.

Saya merasa berdosa ketika menulis paragraf diatas, karena saya sendiri masih belum ahli dalam menempatkan prioritas saya, tetapi setidaknya saya mencoba (hehe). Setiap orang memiliki prioritasnya masing-masing dan tidak bisa disamakan, jadi untuk hal ini saya biarkan teman-teman memikirkannya sendiri. Yang pasti, kalau saya, keluarga dan kuliah menjadi prioritas utama. Selain itu, yang saya lakukan selama ini adalah mengikuti alur yang ada, dan saya berprinsip “semua ada waktunya”. Jadi ketika saya harus mengikuti perkuliahan di dalam kelas maka saya usahakan untuk memberikan 90 % konsentrasi saya untuk mengikuti perkuliahan dengan maksimal. Begitu juga sebaliknya, ketika saya sedang dalam rapat suatu organisasi maka saya juga usahakan untuk memberikan konsentrasi saya disana. Saya bukanlah orang yang lihai melakukan multitasking dengan hasil yang maksimal, maka saya melakukan hal yang demikian. Tetapi diluar semua itu, tentunya saya juga tidak memungkiri segala kewajiban yang harus saya penuhi setelahnya.

Hal yang lain lagi adalah jangan suka menunda pekerjaan, kalau bisa sekarang kenapa nanti? Walaupun hasilnya tidak diminta sekarang, tetapi kita mencicil prosesnya sedikit demi sedikit tidak masalahkan? Tetapi hal itu juga terkait dengan rasa malas. Siapa yang tidak kenal malas? Semua pasti kenal. Bahkan saya pun akrab dengan yang namanya malas (haha). Itu hal yang manusiawi menurut saya. Sedikit saran dari saya, dari pengalaman yang biasa saya lakukan, ketika saya sedang malas maka saya lebih memilih istirahat atau melakukan hobi saya dibanding memaksakan diri untuk melakukan pekerjaan tetapi hasilnya berantakan, kasihan waktunya kalau terbuang untuk melakukan pekerjaan yang sama dua kali.

 

Masyitha Putri Febriani (21080114120012)

S1 – Teknik Lingkungan

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

(Ulasan Film) “Christopher Robin” : Kisah Beruang Pandir dalam Balutan Live Action

adminSeptember 6, 2018

Gerakan Nasional Revolusi Mental Untuk Indonesia yang Lebih Maju

adminAugust 28, 2018

GEMES (Gerakan Masyarakat Peduli Sanitasi) di Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa

adminAugust 27, 2018

Pola Hidup Sehat Tentang Hipertensi

adminAugust 27, 2018

KKN Undip Jelajahi dan Eksplorasi Pesona Alam sebagai Potensi Desa Kalimanggis

adminAugust 26, 2018

Sulap Baju Bekas Jadi Tas Belanja, Kok Bisa?

adminAugust 25, 2018