Coretan Teknik

Diam

Diam

Senja mulai berlari menemui malam, matahari mulai bersiap untuk bertukar posisi dengan bulan. Begitulah rutinitasku,  diam dan hanya melihat aktivitas bulan dan matahari yang selalu berulang dan berulang. Bahkan terkadang aku sampai bosan melihatnya. Aku masih diam, ya berdiam di tempat yang sama dengan kondisi yang berbeda.

Jika kalian ingin  bertanya tentang sejarah tempat ini, mungkin akulah yang harusnya kalian cari. Entah kalian percaya atau tidak, tapi aku di sini sudah sejak lama bersama pohon, matahari, bulan, bumi dan tanah. Kami berteman akrab, bahkan kami selalu saling mendampingi. Aku tau bagaimana keadaan di sini dahulu dan sekarang. Mungkin kau akan berfikir aku tua, tapi tidak! Usia ku jauh lebih muda dibanding mereka ber empat yang mungkin harus kau sebut “para kakek renta” itu. Namun aku tau apapun mengenai mereka, sejarah kelam yang bahkan aku malas untuk mengingatnya, serta perjuangan macam apa yang mereka lakukan, aku lah yang tau itu.

“Hei langit! Apa yang kau lakukan? Bagaimana harimu?,” teriak si bulan. Ah dasar si bulat yang suka berteriak. Selalu berteriak dimanapun dia berada.

“Baik, ya kau tau sendirilah keadaanku bagaimana,” ujarku acuh tak acuh.

“Bah, bagaimana bisa aku tau? Aku baru saja bertukar posisi dengan matahari. Aku tidak menemanimu seharian langit,” ujarnya.

Aku hanya memutar bola mataku dan berharap waktu berjalan sedikit lebih cepat agar matahari cepat kembali. Ya, aku sedikit tidak suka dengan bulan.  Bukan aku membencinya, Aku hanya tidak suka. Dia selalu berteriak membuat semuanya menjadi tidak tenang. Dan aku tidak suka  keributan.

“Hei langit, apa kabarmu?,” sapa angin tiba- tiba datang entah dari arah mana.

“Hei angin! Yaa.. seperti ini, bosan hanya melihat pertukaran senja dan malam, matahari dengan bulan,” ujarku.

“Haha nikmatilah langit. Hey! Aku membawakan cerita untukmu langit. Kemarin aku melihat sesuatu yang sangat menarik,” ujarnya sembari mendekat kepadaku.

Angin memang selalu berpetualang, dia tidak pernah lelah untuk selalu mengembara. Ketika bertemu dengan ku dia selalu membawakan cerita yang menarik. Terkadang aku iri dengannya yang bisa pergi kemanapun tanpa batas dan dapat melihat perubahan-perubahan yang terjadi.

“Apa itu? Semoga bukan berita si kuda nil tertidur di kolam air ya..” ujarku sambil tertawa.

Angin pun ikut tertawa, “bukan langit, bukan itu. Ini jauh lebih menarik! Kau tau? Aku kemarin melihat sesuatu yang bergerak. Begitu lucu dan menggemaskan. Sudah berhari-hari aku mengamatinya. Aku kira dia hewan, namun sepertinya bukan.. “ ujarnya.

“Apa itu? Bagaimana bentuknya?” tanyaku menjadi ikut penasaran.

“Hei aku ingin tau juga, angin ayo  ceritakan kepadaku juga agar aku bisa mendengarnya. Tapi aku sedang sibuk sekarang jadi tidak bisa bergabung dengan kau dan langit. Jadi keraskan saja suaramu biar aku dapat mendengarnya” ujar pohon yang sepertinya sedang membantu tanah mengatur bibit –bibit buah untuk dibawa para hewan besok.

“Hahaha, sibuk sekali kau! Baiklah aku teruskan, entahlah aku juga tidak tau bentuk apa itu. Tapi dia memiliki kaki dan tangan juga seperti hewan, namun cara berjalannya sedikit berbeda dan yang ku tau pasti dia sangat pintar dan dia juga cepat untuk berkembang biak,” lanjutnya.

“Bagaimana bisa kau yakin dia pintar  angin? Kau sendiri hanya mengamati kan?” celetuk tanah.

“Hei, aku kan sudah bilang aku mengamati berhari hari” bela angin. “Oh ayolah kawan-kawan, biarkan angin bercerita dulu” ujarku mengingatkan.

“Nah iya benar langit. Lalu selain itu mereka juga baik, mereka merawat para tumbuhan yang baru tumbuh, namun mereka juga membangun seperti sebuah tempat untuk mereka tinggal dengan bantuan ranting-ranting tumbuhan yang patah. Baik sekali. Sungguh “ ujar angin.

“Benarkah? Wah… alangkah beruntungnya apabila aku dapat melihatnya langsung..” ujar pohon dengan binar di matanya yang membuatnya semakin terlihat cantik.

“Sepertinya bisa terjadi, yang kutau mereka sedang berjalan menuju kearah sini. Namun entah kapan mereka akan tiba disini” tambah angin.

“Benarkah? Berarti kita harus menyiapkan perayaan untuk penyambutan mereka? sungguh aku tidak sabar, sepertinya mereka dapat diandalkan untuk membantu tanah dalam menyiapkan hal–hal seperti ini. Aku lelah setiap hari menyiapkan makanan dan biji bijian untuk para hewan” celoteh si pohon.

“Jadi kau tidak ikhlas? Baiklah. Pergi saja, tak ada yang melarangmu!” ujar tanah tersinggung, disusul cibiran dari pohon.

Aku lagi–lagi diam. Sepertinya itu sudah menjadi watak burukku, selalu diam dan hanya mengamati. Aku tertarik mendengar cerita angin, cukup lama aku terhanyut dalam pertanyaan pertanyaanku, tidak sadar bahwa angin telah pamit untuk mengembara kembali dan seperti yang pohon katakan. Aku juga menanti kedatangan para makhluk yang sepertinya baik itu.

***

Seminggu setelah angin datang dan membawa berita tersebut, Saat itu matahari sedang bekerja melaksanakan tugasnya dan akupun seperti yang biasanya hanya mengamati dalam diam. Dan saat itu pohon berteriak kepada kami berdua, dia mengatakan bahwa makhluk yang dimaksud angin itu sudah datang. Aku dan matahari langsung beranjak melihatnya.

Oh tuhan! Mereka sangat menggemaskan!.  Benar saja mereka sangat baik, mereka langsung membantu pohon memberi makan para hewan.

“Siapa mereka?” Tanya matahari kepadaku dan tanah.

“Entahlah, sepertinya itu yang diceritakan angin kemarin” ujarku.

“Dengar, tadi aku menguping pembicaraan makhluk itu. Mereka menyebut diri mereka manusia” ujar tanah sedikit berbisik.

“Manusia? Cukup bagus untuk nama makhluk menggemaskan itu” ujarku. Lalu kami pun mengamati sebentar kemudian beranjak pada pekerjaan kami masing – masing.

Hari berganti menjadi bulan, lalu berganti menjadi tahun. Aku  mulai terbiasa dengan kehadiran manusia. Teakhir yang ku tahu mereka semakin banyak. Namun aku tidak terlalu memperhatikan polah tingkah mereka. Yang kutau tanah dan pohon yang sangat dekat dengan mereka. Namun hal itu berubah ketika angin datang.

“hei langit. Apa kabarmu? Aku membawakan kabar buruk untuk kau, pohon serta tanah” ujarnya.

“Kau masih ingat ceritaku kemarin? Tentang makhluk yang menarik itu, ternyata nama mereka adalah manusia” ujar angin. Aku hanya mengangguk karena aku sudah tahu lebih dulu “ ketika kemarin aku bermaksud melihat keadaan mereka lagi, aku kaget bukan kepalang dan sungguh aku sangat marah langit. Mereka ternyata tidak seperti apa yang aku ceritakan padamu” ujarnya dengan nada geram.

“Ada apa memangnya?” tanyaku “ mereka jahat langit! Mereka berkembang biak semakin banyak. Dan kau tau? Mereka menghancurkan tanaman membakarnya dan menghabiskannya untuk membangun tempat tinggal mereka yang lebih besar, para hewan ketakutan, tanah disana pun juga sudah sekarat dengan racun racun yang telah manusia itu berikan” ujar angin berapi api.

“Benarkah? Tapi aku belum mendengar laporan apapun dari tanah dan pohon disini mengenai hal tersebut” ujarku terkejut.

“Hati – hati saja. Ingatkan pada pohon dan tanah jangan terlalu percaya dengan mereka, aku merasakan hal yang…..”  Belum sempat angin meneruskan kalimatnya. Suara jeritan dari pohon dan teriakan dari tanah menyadarkan aku dan angin, bukan hanya kami berdua. Matahari pun terkejut. Dengan cepat kami menghampiri mereka berdua. Sungguh! Aku mematung menyaksikan apa yang terjadi. Kalian pasti menangis membayangkannya. Para manusia sialan itu menusuk-nusuk pohon, jeritan pohon sangat memilukan, dan tanah pun menangis gemetar menyaksikan sahabatnya diperlakukan seperti itu. Dia tak bisa apa-apa, para manusia itu juga telah meracuninya dengan zat yang menjijikan. Keadaan keduanya sangat menggenaskan.

“Angin, langit, matahari tolong kami….” Jerit pohon dengan lirih. Menggenaskan.

Sungguh! Aku terdiam, bukan diam seperti yang sudah-sudah, aku terdiam dengan segala macam perasaan. aku terkejut, marah, dan bahkan sangat marah. Untuk pertama kalinya aku merasakan emosi yang seperti ini. Angin juga terlihat murka, matahari pun juga terlihat sama.

“Jika kau ingin meluapkan amarahmu, bergabunglah dengan angin. Aku akan pergi mencari bantuan” ujar matahari kepadaku.

Mataku memanas, sungguh manusia-manusia itu dengan tawanya yang dahulu menggemaskan berubah menjadi menjijikkan untukku. Angin telah lebih dahulu murka, hembusannya semakin menguat, aku bergabung dengannya. Menciptakan kilatan cahaya yang biasanya kusebut petir.  Para manusia itu masih tidak sadar akan kemurkaan kami, bumi pun sangat murka. Namun dia seperti matahari, memilih mencari bantuan dan mengandalkan segalanya kepadaku dan angin. ketika tanah dan pohon semakin melirih suaranya. Kilatan petir ku dan hembusan angin menyambar para makhluk menjiikkan itu,  mereka terlihat kebingungan dengan amarah kami berdua, berulang kali kusambar manusia itu tanpa ampun, berulang kali juga angin menghempaskan mereka jauhjauh, hingga tidak sadar para manusia itu mati. Namun sayang, ketika bantuan datang hanya tanah yang dapat tertolong. Sedangkan  pohon telah kehilangan jiwanya, dia telah pergi dengan kesakitan yang sangat akibat ulah makhluk yan dulu dia tunggu-tunggu.

***

Begitulah sejarahnya, sejarahku dan teman-temanku, maka jika kau tanya tentang peristiwa apa yang  pernah terjadi di sini. Jangan kau tanya kepada tanah, dia pasti akan menghindar. Bukan hal yang mudah kehilangan sahabat dengan cara yang menggenaskan didepan matamu. Maka ketika kau ingin mengetahui tentang sejarah, tanyakan saja padaku, maka aku akan menceritakannya padamu. Kisah tentang bagaimana nenek moyangmu yang menjijikan itu membunuh dan memporak-porandakan semua kedamaian yang ada dan mengukirnya menjadi kisah sejarah yang kelam.

 

Mahasiswa D3 Teknik Kimia

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Wisata Alam Posong dengan Pemandangan yang Menakjubkan

adminAugust 16, 2018

E-RUPCHI membawa silver medal di Ajang Japan Design and Invention Expo 2018

adminAugust 14, 2018

Kau Datang

adminAugust 13, 2018

Menanti Sebuah Jawaban

adminAugust 8, 2018

Rindu

adminJuly 24, 2018

Bukan

adminJuly 8, 2018