Coretan Teknik

Reaksi terhadap Isu : Opini dan Diam

Reaksi terhadap Isu : Opini dan Diam

Ketika sebuah isu muncul, muncul pulalah bermacam-macam opini dari berbagai sudut pandang. Orang-orang mengutarakan pendapat, namun tak sedikit pula yang memilih untuk diam, entah memang tidak peduli atau memang karena tidak tahu permasalahannya. Di tulisan ini, saya tidak akan memaksa Anda untuk mengikuti salah satu golongan. Anda memiliki kebebasan untuk memilih, baik masuk ke golongan opini maupun golongan diam.

Golongan pertama adalah golongan opini. Golongan ini merespon isu dengan mengungkapkan pikiran-pikiran yang ada di kepalanya. Orang-orang golongan ini cenderung pandai merangkai kata, cepat tanggap, serta responsif terhadap isu. Beberapa orang dari golongan ini memang benar-benar paham terhadap permasalahan yang ada, namun tidak sedikit pula yang hanya memahami permasalahan secara sekilas, atau bahkan sekedar ikut-ikutan meramaikan suasana.

Jika Anda memilih untuk masuk ke golongan opini, maka beruntunglah Anda. Anda secara tertulis telah didukung oleh UUD 1945 pasal 28 E ayat 3 yang berbunyi “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Tidak perlu diragukan lagi, beropini adalah hak setiap warga negara.

Perihal yang ingin saya sarankan untuk golongan opini adalah tentang respon terhadap adanya perbedaan pendapat. Sering saya jumpai golongan ini malah menjatuhkan satu sama lain apabila terjadi silang pemikiran. Golongan ini selayaknya perlu mengetahui bahwa asalkan perbedaan opini tersebut bukan hal yang fundamental, maka sah-sah saja terdapat perbedaan pendapat (di sini saya tidak akan menjelaskan apa yang dimaksud fundamental lebih jauh).

Saya sarankan pula ada baiknya untuk mengetahui alasan mengapa orang lain memiliki perbedaan pendapat dengan Anda. Misalkan Anda sedang menanggapi suatu isu. Anda menanggapi dengan opini A, sedangkan orang lain menanggapi isu yang sama dengan opini B. Di posisi demikian, seyogyanya Anda perlu tahu mengapa orang lain beropini B. Misalkan orang lain beropini B karena D, sedangkan Anda beropini A karena C. Ketika Anda sudah berada di tahap ini, maka langkah yang Anda harus lakukan adalah terus mencari alasannya sampai Anda menemukan titik dimana alasan Anda dan alasan orang lain bertemu. Misalkan dalam kasus ini, D dan C terjadi karena E. Disini, E adalah titik temu antara opini Anda dan opini orang lain. Di titik E ini pulalah Anda akan menemukan pertanyaan “Apa yang menyebabkan opini kami berbeda padahal faktor penyebabnya sama?”. Ketika pertanyaan itu telah muncul ke benak Anda, maka selamat! Anda telah menyelesaikan semua tahapan.

Harus saya akui, pengaplikasian saran tersebut memang membutuhkan lebih banyak waktu dan pikiran. Apalagi apabila terdapat lebih dari satu orang yang memiliki opini berbeda dengan Anda, tentu akan menguras lebih banyak tenaga. Namun metode tersebut sangatlah efektif untuk menikmati betapa indahnya perbedaan opini. Anda akan menyadari bahwa Anda dan orang lain adalah individu yang berbeda dengan pemikiran berbeda, latar belakang berbeda, pendidikan usia dini berbeda, hingga pengalaman yang berbeda. Satu hal yang terpenting dari itu semua, ketika Anda memilih untuk masuk golongan opini, maka sampaikanlah opini Anda dengan baik. Anda tidak perlu menjatuhkan lawan opini maupun memperkeruh keadaan yang ada. Anda tidak akan menjadi lebih tinggi atau superior dengannya. Namun jika Anda memang berniat untuk melakukan salah satu dari kedua hal tersebut, maka saya sarankan Anda untuk masuk ke golongan kedua : golongan diam.

Golongan diam merupakan golongan yang berkebalikan dengan golongan opini. Golongan ini cenderung menahan hasratnya untuk mengemukakan pendapat, entah karena memang tidak tahu, tidak mau tahu, atau kekurangan pengetahuan terhadap isu. Beberapa orang dari golongan ini akan berpikir seperti “Untuk apa saya menanggapi isu-isu yang tidak berhubungan dengan kehidupan pribadi saya?”, atau jika memang isu tersebut memengaruhi kehidupannya, mereka akan berpikir seperti “Ya sudah, jalani saja”. Namun beberapa orang dari golongan ini pun sebenarnya cukup paham mengenai isu yang beredar, hanya saja mereka memang lebih memilih untuk diam. Orang-orang golongan opini pun awalnya mereka adalah bagian dari golongan diam. Tetapi karena proses pencarian informasi mereka yang cepat dan ketidakmampuan menahan hasrat untuk mengemukakan pendapat, maka mereka berpindah ke golongan opini.

Perihal yang ingin saya sarankan untuk golongan diam adalah tetaplah berdoa agar isu yang beredar cepat selesai dan menghasilkan solusi terbaik. Negeri ini memang sedang butuh tindakan nyata, tetapi negeri ini juga tidak kalah butuh yang namanya doa. Doakanlah agar negeri ini ditunjukkan bahwa yang benar itu benar, dan diberi jalan untuk mengikuti kebenaran itu, serta doakanlah agar negeri ini ditunjukkan bahwa yang salah itu salah, lalu diberi jalan untuk menjauhi kesalahan-kesalahan yang ada.

Pada dasarnya, diam dan opini adalah sebuah siklus. Anda yang masuk ke golongan opini juga awalnya adalah orang-orang dari golongan diam. Anda yang masuk ke golongan diam pasti akan ada saatnya bagi Anda untuk masuk ke golongan opini. Ini hanyalah tentang bagaimana manusia merespon sesuatu. Mereka merespon dengan cara berbeda dan pandangan berbeda karena mereka berlatar belakang berbeda, dididik dengan cara berbeda, serta pengalaman hidup yang berbeda. Orang-orang golongan diam tidak perlu bersinis ria terhadap orang-orang golongan opini. Itu hak mereka. Mereka hanya menyuarakan apa yang ada di kepala mereka, dan tidak ada yang salah dengan itu. Begitu pula orang-orang golongan opini pun tidak perlu merendahkan orang-orang golongan diam. Kita tidak pernah tahu, jangan-jangan orang-orang yang kita anggap diam adalah orang-orang yang berada di garis terdepan dalam mendoakan supaya isu yang beredar cepat selesai dan memberikan solusi terbaik. Terakhir, saya akan mengutip dari kitab agama saya tercinta tentang perbedaan yang sengaja Tuhan ciptakan kepada manusia. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” (QS Al Hujurat :13)

 

Anugra Dewa Ramadhan

Teknik Industri 2014

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Wisata Alam Posong dengan Pemandangan yang Menakjubkan

adminAugust 16, 2018

E-RUPCHI membawa silver medal di Ajang Japan Design and Invention Expo 2018

adminAugust 14, 2018

Kau Datang

adminAugust 13, 2018

Menanti Sebuah Jawaban

adminAugust 8, 2018

Rindu

adminJuly 24, 2018

Bukan

adminJuly 8, 2018