Coretan Teknik

Aku Mencintaimu Laki-laki

Aku Mencintaimu Laki-laki

“Sederhananya, aku ingin berbicara apapun asal bukan tentang kita,” ujarnya tenang sambil mengetuk puntung rokok yang tinggal separuh.  Suasana saat ini terasa aneh. Aku menarik napas berat.  Telah kuhabiskan ribuan hari menyiapkan saat ini. Dia juga terlihat berbeda. Berkemeja rapi dan rambut disisir miring ke kanan stelah diberi pomade. Aku yang biasa melihatnya memakai jeans robek dan kaos oblong dengan rambut acak-acakan merasa gugup.

“Aku akan membuat pengakuan hebat malam ini”, sahutku tak peduli. Sedikit tersenyum mencoba meraih tangannya.

“Aku tau. Jangan membahasnya lagi!”

Semua kacau karena satu kalimat keparat itu. Aku memakluminya tanpa alasan. Pesanan datang. Kopi hitam pahit mak ali disesapnya tanpa ragu. Aku menyeruput  vanilla latte melenyapkan kegugupan. Sial, lidahku terbakarl!

Aku tak pernah menjadi penggemar kopi. Namun baginya kopi merupakan kewajiban. Rasa getir dapat dilimpahkan ke cangkir-cangkir kopi. Setiap ampas yang tersisa punya cerita masing-masing meringankan beban peminumnya. Itu pesan  yang selalu dikirimnya setiap ingin bertemu denganku.

“Kopi memang tidak punya lengan, tapi mampu memeluk dengan kehangatan”, dia memecah keheningan dengan tetap tenang. Menatap kosong ke arah cangkir kopi yang berisi separo. “Jika lebih dari ini, kopi takkan sanggup menerima kita berdua lagi. Aku akan tetap seperti ini saja, sudah cukup”, aku sama sekali tak paham arah pernyataannya.

 

 

Detik brengsek aku mulai menjadi “budak” minum kopinya adalah saat tugas-tugas kuliahku menumpuk. Aku mengerjakannya di sebuah kafe langganan yang terpencil demi sebuah ketenangan.  Sudah larut, 00.03 WIB. Hening. Hanya sedikit desing laptop tua yang lelah dengan tugasnya sebagai laptop mahasiswa teknik. “Sunyi akan mengundang luka”,  dia datang dari remang lilin hias membawa kopinya berpindah ke mejaku. Mataku menubruk matanya yang menyimpan keanehan, berbinar dan sendu bersamaan.  “Cheers, dengar saja. Aku kasian melihatmu sendirian”, dia berbicara seolah aku adalah cermin yang memantulkan dirinya. Tak peduli aku mau mendengar atau tidak dia mulai bercerita. Keparat! Aku memang mendengarkan.

“Ini pertama kali aku ke tempat ini”

“Iya, aku tahu”

“Cinta memang identik dengan hal-hal bangsat. Lihat dirimu. Kamu seperti orang patah hati. Meratap bersama kopi menunggu hujan turun. Hujan sering turun dalam gelap dan pagi berkabut. Cocok sekali untukmu. Aku suka hujan karena perempuan penghianat itu. Kami banyak bicara dalam kata, tapi kalo hujan turun kami menari bersama lebih banyak bicara antara mata. Wajah kami menengadah kelangit dan tubuh berputar-putar. Setelah itu kami menghangatkan diri dengan kopi, hanya secangkir kopi tanpa ada makna mendalam. Ah, cerita tentang cinta, hujan, dan kopi memang terlalu klise”

Percakapan tak biasa dari sebuah pertemuan tampak biasa. Kami tak mengenal satu sama lain. Dia menceritakan dirinya seolah-olah akulah yang patut dikasihani. Tapi aku merasa dia telah menembus diriku berjuta tahun lalu, dia seperti takdir yang memang akan menganggu tugasku malam itu.

“Kamu aneh”

“Memang. Kamu juga menyedihkan dengan laptopmu itu”

“Memang.”

“Jadi kita sama-sama cacat emosi nih?” urat-urat mulutnya tertarik ke atas mencipta segaris senyum.

Cerita tentang si perempuan penghianat, kopi dan hujan tidak pernah selesai. Semua selalu membentuk lingkaran yang mencari titik pemberhentian. Dia kembali bermain hujan dengan pacarnya, bertengkar karena kopi dan mengutuki cinta. Hanya aku titik stagnan yang berdiri di tengah lingkaran. Terjebak di abad gelap masa skolastik, terbelenggu penantian.

Kecuali tentang kopi, aku tak punya kisah hebat lain dengannya. Aku hanya menunggu pesan pendek dia ingin minum kopi dan membutuhkan pendengar. Sesederhana itu. Tidak ada kisah menari bersama di bawah hujan, semua tentang kami biasa saja. Aku yang rela mengendarai sepeda motor perjalanan satu jam sekejap setelah menerima pesan pendek darinya tidak bisa dihitung sebuah cerita hebat.

 

 

Namun, malam ini sudah ku mantapkan. Untuk pertama kalinya aku mengirimnya pesan mengajak minum kopi

“Aku akan membuat pengakuan hebat malam ini”

“Aku tau, jangan membahasnya lagi!”

Semua kacau karena satu kalimat keparat itu. Aku bohong mengatakan bahwa aku maklum tanpa alasan. Sejujurnya ada sebuah alasan yang sangat jelas. Dia tak mau membahasnya karena aku laki-laki yang mencintai laki-laki aneh seperti dia.

 

“Aku akan membuat pengakuan hebat malam ini, aku mencintaimu detik pertama melihat matamu”

Lativa Israr/ Momentum. Semarang (Maret 2017)

View Comments (1)

1 Comment

  1. Titano

    March 10, 2017 at 9:31 pm

    Nice ending btw. Keep writing!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Bukan

adminJuly 8, 2018

Mengenal Pesona Negeri Indah di Atas Awan

adminJuly 3, 2018

Mahasiswa Undip”Menyulap” Limbah Plastik Botol dan Limbah Cangkang Kerang Hijau menjadi Genteng

adminJuly 2, 2018

Manfaatkan Sampah Organik, Mahasiswa UNDIP Tingkatkan Produktivitas Karang Taruna dan Itik

adminJuly 1, 2018

Pendidikan Berbasis Kebun Cerdas dan Ceria

adminMay 16, 2018

Hening

adminMarch 16, 2018