Teknik

Kembalikan Freeport

Kembalikan Freeport

Selasa, 28 Februari 2017 pukul 15.50 WIB bertempat di Student Centre Undip telah berlangsung Diskusi Publik mengenai Nasionalisasi Freeport yang di hadiri oleh warga Undip dari berbagai Fakultas serta jurusan yang berbeda. Dalam diskusi ini, membuka fikiran mahasiswa dalam menyikapi isu yang sedang berlangsung saat ini mengenai Freeport. Dimana kita tahu, bahwa sekarang ini PT. Freeport Indonesia ( PTFI ) kembali membuat kontroversi. Banyak pendapat dan opini yang dilantunkan oleh mahasiswa Undip guna mengkaji dan membahas topik ini lebih mendalam serta dapat saling bertukar fikiran antara satu dengan yang lainnya.

 

Diskusi berlangsung dengan tertib dan penuh mufakat dimana satu dengan yang lainnya bebas menyuarakan pendapat dan pengetahuan mengenai Freeport tanpa ada kisruh didalamnya. Berbagai pendapat yang dilontarkan dari mahasiswa Undip, seperti dikatakan oleh John Seno salah seorang mahasiswa yang datang pada diskusi tersebut “Melihat awal kedatangan Freeport dapat dianggap sebagai parasit. Menurut menteri ESDM Ignatius Jonan pada IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus) kita mendapatkan 3% dari yang dikerjakan Freeport saat ini. IUPK merupaka pilihan terbaik saat ini karena didalamnya terjadi defestasi saham sebesar 6%. Freeport saat ini keberatan untuk defestasi saham karena akan memungkinkan lepasnya kendali mereka”.

 

Selain itu kontrak yang akan habis pada tahun 2021 dipercepat masa negosiasinya menjadi tahun 2019. PT. Freeport Indonesia tetap tidak bergeming bahkan dengan semena-mena memberikan ultimatum kepada Pemerintah Indonesia sang pemilik lahan. Agusto mahasiswa Hukum Undip berpendapat “Dari hukum mendukung Pemerintah Indonesia untuk melakukan arbitrasi internasional. Kita tidak perlu takut apabila di arbitrase internasional karena kita punya UU untuk menghadapi masalah itu. Terlebih Freeport pada tanggal 24 Februari di bursa saham mengalami penurunan drastis hingga titik terendah”.

 

Ketua BEM Fakultas Teknik juga mengutarakan pendapatnya bahwa, “IUPK tidak sama dengan nasionalisasi tapi sama dengan KK (Kontrak Karya). Cara yang paling tepat ialah sosialisasi tetapi tunggu sampai kontrak selesai”. Melihat begitu banyak pendapat yang diutarakan oleh mahasiswa Undip, membuktikan bahwa mahasiswa Undip sangatlah peduli terhadap nasib warga Indonesia yang berada di Papua dimana PT. Freeport pernah menggusur 2.000 jiwa masyarakat Papua. Kemungkinan Indonesia bisa memutuskan kontrak pada tahun 2019 dan merebut PT. Freeport pada tahun 2021. Pada hari jumat tanggal 3 Maret 2017 jika tidak ada halangan akan ada undangan audiensi ke ESDM Jawa Tengah guna membahas berita ini lebih lanjut.

 

Melihat antusias warga Undip guna membahas isu ini, maka diadakan diskusi kloter kedua pada hari Rabu, 1 Maret 2017 guna membahas tindakan apa yang dapat dilakukan warga Undip dalam menyikapi hal ini serta tidak hanya sebatas mengkaji atau mengulas isu ini saja. (Selli / Reporter)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Teknik

More in Teknik

SETELAH VAKUM 4 TAHUN, POR TEKNIK KEMBALI LAGI

adminApril 13, 2018

Laboratorium Terpadu, Pabrik yang Unggul untuk Produk yang Unggul

adminMarch 26, 2018

Desa Binaan Sebagai Wujud Pengabdian Mahasiswa

adminMarch 26, 2018

SURVEY KEBUTUHAN FAKULTAS TEKNIK

adminMarch 18, 2018

Aplikasi “FT Undip Mobile” Siap Diluncurkan

adminMarch 16, 2018

BEM FT dan SM FT 2018 akan Menyelesaikan UKT Semester 9

adminFebruary 15, 2018