Coretan Teknik

 Tiga Cangkir Kopi Untuk Satu Orang

 Tiga Cangkir Kopi Untuk Satu Orang

Papa selalu berujar, dia sangat menyukai mata biruku. Senada dengan warna laut. Mata yang menyimpan kedamaian. Warna yang menyiratkan kelembutan. Sama seperti milik Mama.

Dahulu, sepuluh tahun yang lalu, Papa dan Mama masih sering melihat laut. Menghirup aroma laut yang asin bercampur amis. Merasakan dera ombak yang menghantam kulit. Bagi mereka, laut adalah tempat pertemuan dan perpisahan saling berikatan. Jika cinta harus ada saksi, maka laut adalah saksi pertama saat pertama kali Papa memutuskan untuk mencintai Mama.

Aku tidak tahu banyak tentang Mama. Aku hanya mengenal sosoknya dari kisah-kisah yang diceritakan Papa. Aku hanya merangkai bayangannya dari kata-kata Papa. Aku tidak pernah benar-benar melihat wajahnya. Wajah jelita yang membuat Papa memupuk cinta yang tumbuh kokoh seperti mahoni. Aku pun tidak pernah merasakan kasih sayang darinya. Kasih sayang yang menghantarkan Papa kepada cinta yang mengakui sisi luar dan dalam manusia. Mama seperti tokoh fiksi yang hadir di setiap buku yang kubaca di waktu luang.

Mama meninggal beberapa bulan setelah melahirkanku. Diriku di masa kecil, yang belum bisa merekam citra Mama, terlahir ke dunia ini sebagai buah kesalahan. Aku seperti singgah di sebuah ruang kosong tak berpenghuni, tidak memiliki perabotan, dan tidak memiliki warna. Lalu ketika aku hendak keluar, kutemukan diriku terkurung, tanpa ada celah yang bisa kulewati untuk lepas dari dinding yang memerangkapku.

Jika aku tidak ingin merindukan Mama, maka aku memiliki alasan kuat. Aku tidak pernah bertemu dengannya, maka aku tak perlu merasa kehilangan dirinya. Kehilangan hanya timbul jika sesuatu terampas dari dalam diri manusia.

Papa adalah satu-satunya orang yang kehilangan Mama. Telah banyak kenangan yang mereka buat bersama. Dan semua itu pudar. Punah. Pupus. Hilang dari kehidupan Papa. Mama menjadi tokoh sejarah di dalam hidupnya. Hanya tersisa cerita – cerita manis untuk dikenang, tanpa bisa diulang kembali. Menyisakan kisah manis, namun menggurat luka yang diiris kerinduan.

Selain laut, kopi adalah pemicu lain yang bisa membuat kenangan Papa kepada Mama tersulut kembali. Kopi adalah satu-satunya wadah yang mengisi persamaan di keluarga kecil kami. Kami adalah keluarga yang memfavoritkan kopi.

Papa membuat kebun kecil di halaman rumah, berisi pohon-pohon kopi yang rutin disiramnya setiap hari. Katanya, jika menyiram pohon-pohon kopi itu, dia jadi teringat Mama yang dulu sering melakukan hal yang sama.

Kalau pagi, sebelum aku berangkat sekolah, Papa pasti menyiapkan secangkir kopi hangat di atas meja. Ada tiga cangkir kopi yang tersaji, untuk dua orang. Papa menganggap ada orang ketiga yang hadir di meja itu. Tiga cangkir untuk tiga orang, katanya. Dan Mama adalah orang ketiga itu. Walaupun raganya sudah tiada, tetapi sosoknya selalu muncul ketika kami minum kopi bersama. Awalnya, aku tidak percaya. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku percaya, orang yang telah tiada akan hadir dalam bentuk kenangan yang membungkus kesadaran untuk bisa berada di antara orang yang disayanginya.

“Kenapa kamu suka kopi?” tanya Papa suatu saat.

“Karena pahit. Tanpa gula, itu yang kusuka,” sahutku.

“Pahit? Anak kecil tidak suka pahit. Seharusnya begitu,” dia berseru kembali, heran.

“Karena pahit itu jujur. Menunjukkan sisi yang tidak disukai kebanyakan orang. Totalitas. Lalu bagaimana dengan Papa? Kenapa sangat menyukainya?”

“Kopi hanyalah sebuah bungkus. Isi dalamnya yang membuat Papa tidak bisa mengabaikannya. Kenangan.”

Papa tersenyum. Diseruputnya kopi yang masih hangat itu. Mata hitam jernihnya menabrak tatapanku.

Hubunganku dengan Papa sebenarnya terbentur waktu. Papa selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Larut malam barulah dia pulang. Sehingga saat dia datang, hanya diriku yang telah tertidur lelap yang dia temukan. Di hari normal kami hanya bertemu di pagi hari, sebelum aku berangkat sekolah dan dia menuju kantornya hingga larut malam kembali. Hanya hari liburlah kami baru benar-benar bertatap muka dan bercerita. Dia bercerita tentang masa lalu. Tentang Mama. Selalu begitu.

Katanya, Mama adalah wanita yang cuek dan pendiam. Mendekati wanita seperti Mama adalah kemustahilan bagi Papa. Berpuluh kali penolakan telah dia dapati. Namun Papa tidak pernah menyerah. Dia tahu, Mama tidak pernah benar-benar menolaknya. Mata birunya terlalu lembut untuk menyiratkan ketidaksukaan apalagi kebencian. Sorot matanya seakan meminta pertolongan, menunggu seseorang untuk menyelamatkannya dari jurang kesepian.

Masa lalu, jauh sebelum aku lahir, sebelum pertemuan Papa dan Mama, adalah sumber dari kesepian Mama. Mama di masa kecil tidak lebih baik daripada diriku di masa kini. Mama mengarungi kehidupan tanpa sosok orangtua. Nenek meninggal saat dia kecil. Kakek bunuh diri tak lama setelah Nenek meninggal. Dia tinggal dengan Pamannya. Namun Mama sudah terlanjur tahu bahwa dirinya tidak akan pernah mengerti arti dari keluarga sebenarnya. Masa kecilnya digerogoti kesepian dan kehampaan. Sebuah jurang menjeratnya. Dia mengharapkan pertolongan, namun harapan adalah sesuatu yang setia menolaknya.

Papa adalah jawaban dari harapan yang akhirnya terjawab. Perlahan, Mama mulai merasa terselamatkan oleh kehadiran Papa. Papa adalah sosok yang bercahaya. Mendung di dalam hati Mama sirna. Senyumnya berpendar kembali. Kehangatan dan kedamaian lahir di dalam diri Mama, untuk Papa, walau hanya sejenak, sebelum perpisahan menjemput Mama.

Daripada membeli kopi bubuk yang tinggal diseduh, Mama lebih memilih membeli biji-biji kopi yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru, kemudian digiling sendiri, dan dinikmati.

Mama menghargai proses. Menggiling biji kopi bersama Papa akan menghadirkan kenangan baginya. Walaupun sebenarnya kenangan itu tersimpan bukan untuk dirinya, melainkan bagi Papa yang sudah lebih dulu ditinggalkannya. Tangan Mama kecil dan lemah. Dia tidak bisa melakukan semuanya sendirian. Selalu hadir sosok Papa.

Belakangan Papa tahu ada alasan mengapa fisik Mama lemah dan rentan terkena penyakit. Faktor keturunan, ada penyakit turun temurun dari keluarganya yang menyebabkan kekebalan tubuh mereka tidak terlalu baik. Alasan mengapa nenek meninggal adalah penyakit turun temurun ini. Dan sayangnya, Mama pun mewarisi ketidakberuntungan itu.

Jika mendengar dari cerita Papa tentang perlakuannya terhadap Mama, maka aku yakin caranya memandangku sangat mirip dengan caranya memandang Mama. Sosokku adalah refleksi Mama.

Aku paham, Papa mencintai aku dan Mama. Telah banyak rasa sakit yang Papa dapatkan karena mencintai orang-orang yang akhirnya meninggalkan Papa sendirian. Kehadiranku dan Mama meninggalkan kutukan berupa rasa rindu yang bergejolak. Kutukan yang tidak bisa disembuhkan. Namun Papa tetap kuat. Papa tidak pernah menyerah meniti kehidupan sendirian. Papa berusaha tegar dan menganggap kami masih berada di sisi Papa.

Setiap pagi, belum sempat matahari menjenguk langit, Papa sudah bangun dan setia menyirami pohon kopi di halaman rumah. Sebelum berangkat kerja, selama lima belas menit, Papa berdiam diri di hadapan tiga cangkir kopi di atas meja. Yang terlihat adalah tiga cangkir untuk satu orang. Namun bagi Papa, tiga cangkir untuk tiga orang. Dua orang yang berarti di dalam hidupnya tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Aku dan Mama duduk mengitari meja kecil di ruang makan kami, menemani Papa.

Saat usiaku menginjak delapan tahun, tiba-tiba fisikku melemah. Kondisi tubuhku menurun drastis. Berbagai penyakit mendera tubuhku. Kematian semakin dekat, seakan mati adalah sosok karib yang kapan saja bisa menghampiriku. Setahun digerogoti penyakit, akhirnya aku mencurangi Papa dan pergi lebih dahulu dari dunia ini. Menyusul mama.

Dua orang wanita yang dicintainya pergi. Sosok kami hilang dari keseharian Papa. Tidak ada lagi mata biru langit yang menyejukkan hari-hari Papa. Bola mata yang menenangkan seakan berkata “Semua akan baik-baik saja,” kepada Papa, sirna sudah dimakan waktu.

Papa tidak pernah absen menghidangkan tiga cangkir kopi di atas meja. Hanya itu cara Papa merasakan pelukan kami. Pelukan yang menguatkan dan menenangkan Papa. Walaupun Papa tidak bisa melihat senyum kami, namun dengan percaya diri, Papa membalas senyum kami sambil mengangkat cangkir kopi, lalu meminumnya. Kemudian Papa berangkat kerja, menunggu hari esok di mana Papa membuatkan tiga cangkir kopi lagi.

 

BIODATA PENULIS

Nama: Andra Titano Busra

NIM: 21120113130083

Fakultas/Jurusan: Teknik/Sistem Komputer

 

 

 

 

 

 

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Hening

adminMarch 16, 2018

WHAT HOME SUPPOSED TO BE

adminMarch 8, 2018

LUNAR ECLIPSE

adminFebruary 10, 2018

Diponegoro : Simbol yang Menandai Zaman

adminJanuary 27, 2018

Indonesia Darurat Membaca

adminJanuary 18, 2018

Aku Cinta Kamu

adminJanuary 12, 2018