Seputar Tembalang

Tentang BRT: Dampak Kecelakaan dan Peranan Undip

Tentang BRT: Dampak Kecelakaan dan Peranan Undip

Semarang – Koridor VI Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang telah resmi beroperasi setelah diluncurkan pada tanggal 31 Maret 2017 silam. Koridor ini memiliki delapan belas shelter dengan rute yang menghubungkan kampus Undip Tembalang dan Unnes. Namun, pada minggu pertama setelah peluncurannya, sempat terjadi dua kali kecelakaan yang melibatkan bus koridor ini, yaitu pada Minggu (2/4/2017) di Jalan Pawiyatan Luhur dekat Kampus Unika dan pada Jumat (7/4/2017) di Jalan Kolonel Hardijanto, Sampangan. Berkaitan kejadian tersebut, bagaimana pengaruhnya terhadap pengguna serta sejauh mana peran Undip dalam pengadaan Koridor VI BRT Trans Semarang?

Pasca kecelakaan yang kedua, beberapa pihak mulai mempertanyakan kesiapan dari koridor baru ini. Seperti yang dilansir oleh radarsemarang.com, Tutuk Kurniawan selaku Komisaris PT Minas Makmur Jaya, operator pemenang lelang Koridor V dan VI, rute ini termasuk salah satu rute yang berat jika dibandingkan dengan rute lainnya. Terlepas dari itu, kejadian ini sempat membuat resah pengguna BRT, secara khusus bagi yang baru pertama kali menggunakan layanan BRT ini. Kejadian ini pun langsung direspon oleh Plt Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Tri Wibowo, yang berjanji untuk segera melakukan evaluasi mengenai masalah pada rute BRT Koridor VI.

Di sisi lain, Uswatun, mahasiswi FSM, salah satu mahasiswi pengguna setia BRT mengaku tidak terlalu memusingkan kejadian tersebut. Menurutnya, kecelakaan seperti itu dapat terjadi di mana saja dan kapan saja, tidak selalu terjadi karena faktor kesalahan dari pihak BRT.

Salah satu petugas BRT Koridor VI, Fahmi, juga sempat menuturkan bahwa kejadian tersebut tidak berpengaruh terhadap banyaknya penumpang. Antusiasme pengguna tetap tinggi, terutama pada akhir pekan dan hari-hari tertentu. “Kebanyakan (pengguna) mahasiswa-mahasiswa, ada yang juga bikin tugas laporan di sini, di armada,” jelasnya. Ia mengatakan bahwa kejadian tersebut berada dalam tanggungjawab dan lingkup bagian operasional dari Badan Layanan Umum (BLU) dan Dinas Perhubungan Kota Semarang. Namun, dalam pengadaannya, Undip turut memiliki peran dalam pemberian izin mengenai rute dan titik-titik yang akan dijadikan sebagai tempat pemberhentian.

Ditemui dalam kesempatan terpisah, Kepala Bagian Aset dan Logistik Universitas Diponegoro, Bapak Yunarso Hendrianto, S.E., membenarkan pernyataan tersebut. Beliau dalam keterangannya menjelaskan bahwa untuk pengelolaan dan lain sebagainya murni dilakukan oleh dinas perhubungan sementara pihak Undip hanya berperan untuk menyediakan jalur yang akan dilewati oleh BRT tersebut, termasuk menentukan tempat-tempat pemberhentian. “Karena jalan lingkar itu kepunyaan Undip, mereka (Dishub) memohon izin untuk melewati dan dari Undip mengizinkan. Ya sebenarnya prinsipnya hanya itu saja,” beliau menjelaskan. Tempat-tempat pemberhentian yang diusulkan pun diupayakan merupakan titik-titik yang mendekati keramaian. Namun, dari pihak dinas perhubungan tetap memiliki pertimbangan lain sehingga tidak semua titik yang diusulkan dijadikan tempat pemberhentian.

Kehadiran Koridor VI BRT ini diharapkan dapat membantu mobilitas masyarakat, baik bagi mahasiswa maupun penduduk sekitar. Terlebih lagi karena jalurnya yang menghubungkan perumahan dan pemukiman penduduk dan mahasiswa dengan rumah sakit dan tempat-tempat umum lainnya. (Momentum/Vania)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Seputar Tembalang

More in Seputar Tembalang

#DamaiItuNyata Project: Perdamaian dan Toleransi

adminNovember 30, 2017

Suasana Undip Kala Liburan

adminDecember 25, 2016

Tembalang Macet, Adakah Solusi?

adminAugust 30, 2016

Siaga Kasus DBD di Kecamatan Tembalang : Tim PBL FKM Gandeng Himpunan Mahasiswa Sipil Undip

adminNovember 29, 2015

Angkot Kuning Undip Kini Tampak berbeda

adminSeptember 26, 2015

Amankah Kampus Tercintaku?

adminMay 24, 2015