Opini

PKM Fakultas Teknik Undip, (Bukan) Anak Emas Pencipta Tradisi Emas

PKM Fakultas Teknik Undip, (Bukan) Anak Emas Pencipta Tradisi Emas

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS)  merupakan salah satu upaya membangun citra keberhasilan  pendidikan tinggi dalam melahirkan karya-karya ilmiah yang inovatif untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peran mahasiswa dalam mendukung pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyediakan dua skema PKM, yaitu skema pertama, PKM 5 Bidang yang terdiri  dari PKM-P (Penelitian Eksakta dan Humaniora), PKM-KC (Karsa Cipta), PKM-M (Pengabdian pada Masyarakat), PKM-T (Penerapan Teknologi), PKM-K (Kewirausahaan), dan skema kedua, PKM KT (Karya Tulis)  yang terdiri atas PKM-GT (Gagasan Tertulis) dan PKM-AI (Artikel Ilmiah).

Animo mahasiswa PTN dan PTS se-Indonesia untuk menunjukkan karya dan kreativitas mereka dan memenangkan hibah pendanaan berkisar Rp 5.000.000 – 12.500.000 sangatlah tinggi. Jumlah proposal PKM 5 bidang yang diusulkan ke Kemenristekdikti meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 proposal yang diusulkan baru berjumlah 38.485, namun terus meningkat menjadi 44.752 (tahun 2014),  48.416 (tahun 2015) dan memuncak menjadi 73.007 proposal (tahun 2016). Tahun 2017 ini jumlah proposal 5 bidang yang diusulkan sebanyak 62.889, dan yang berhasil lolos mendapatkan pendanaan sejumlah 3918 proposal.

Universitas Diponegoro (Undip) berhasil meraih prestasi yang membanggakan pada tahun 2017 ini dengan meloloskan 190 proposal PKM 5 Bidang dan menempatkan diri pada ranking dua nasional jumlah terbanyak proposal PKM yang didanai. Prestasi ini tentu semakin menggelorakan budaya berkreativitas dan berinovasi serta meningkatkan minat untuk terlibat dalam kegiatan PKM di kalangan mahasiswa Undip.

Fakultas Teknik Undip merupakan salah satu tulang punggung utama dalam prestasi PKM Universitas Diponegoro. Dalam lima tahun terakhir, rata-rata 30% proposal PKM yang lolos pendanaan, berasal dari Fakultas Teknik. Dalam ajang PIMNAS pun, sepertiga tim PKM kontingen UNDIP juga berasal dari Fakultas Teknik. Dan sebagai puncak prestasi dalam rangkaian kegiatan PKM-PIMNAS, tim-tim PKM dari Fakultas Teknik, selalu menyumbangkan medali emas dalam empat penyelenggaraan PIMNAS terakhir, sehingga tidak berlebihan jika disebut bahwa Fakultas Teknik memiliki tradisi emas dalam PKM dan PIMNAS.

Prestasi mahasiswa yang demikian membanggakan dalam PKM ini tentu tidak lepas dari perhatian dan dukungan yang besar dari seluruh pimpinan dan staf  Fakultas Teknik. Namun benarkah perhatian dan dukungan yang besar tersebut berkesan menjadikan kegiatan PKM sebagai ‘anak emas’ dalam pembinaan prestasi mahasiswa Fakultas Teknik ?

Staf ahli Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik, Bapak Susatyo Nugroho W.P., S.T., M.M., yang diwawancarai Momentum menjelaskan bahwa secara kebijakan, sama sekali tidak ada diskriminasi antara PKM dan lomba kompetensi keilmuan lainnya. Beliau mengutarakan, “Secara kasat mata, bahwa kegiatan PKM lebih kelihatan terekspose, iya.” Karena waktu kegiatan PKM berjalan kontinyu sepanjang tahun, mulai dari proses persiapan proposal, submit, pelaksanaan PKM, PIMNAS dan persiapan proposal tahun berikutnya. Keterlibatan berbagai pihak juga lebih massive, lebih luas, semua struktur baik institusi maupun organisasi kemahasiswaan bergerak, lintas Departemen, semua bidang keilmuan terlibat.”  Dan tidak bisa dilupakan, kegiatan PKM dan PIMNAS adalah kegiatan resmi Kemenristekdikti, sehingga seluruh PTN/PTS di Indonesia juga terlibat sehingga brand awareness  terhadap kegiatan ini secara nasional sangat tinggi.

Bapak Susatyo menambahkan, sebenarnya Kemenristekdikti tidak hanya mengadakan PKM sebagai ajang penyaluran potensi kreativitas dan inovasi mahasiswa, tetapi terdapat ajang lain seperti Kontes Robot Indonesia (KRI), Kontes Muatan Roket dan Roket Indonesia (Komurindo, bekerjasama dengan LAPAN), Olimpiade Nasional Matematika dan Pengetahuan Alam (ON-MIPA PT), Kontes Mobil Hemat Energi, Pemilihan Mahasiswa Berprestasi, National University Debate Contest (NUDC) dan masih banyak lagi. Namun, magnitude gaung kegiatan-kegiatan tersebut tidak sebesar dan seluas PKM dan PIMNAS karena kegiatan lomba kompetensi non PKM tersebut hanya melibatkan tidak terlalu banyak mahasiswa dan terbatas pada bidang keilmuan tertentu dari beberapa Departemen saja.

Meskipun demikian, Bapak Susatyo menegaskan kembali : “Tidak ada perbedaan perlakuan bagi kegiatan lomba kompetensi keilmuan, baik PKM maupun non PKM. Semua kami samakan, baik perhatian dari segi pembinaan, administratif maupun pendanaan kegiatan.” Bahkan beliau sempat berseloroh : “meskipun kegiatan PKM memiliki tradisi emas, namun tidak kemudian menjadi anak emas”.

Bahkan kegiatan kompetensi keilmuan lain diluar yang diselenggarakan Kemenristekdikti, seperti Shell-Eco Marathon, Lomba Desain Mobil Pedesaan, Lomba Jembatan, Lomba Beton, Lomba Penataan Pemukiman, Lomba Mobil Berpenggerak Teknik Kimia (Chem-E-Car), PELTAC, EDMAT dan banyak sekali kegiatan research paper presentation pada Seminar Nasional atau International Conference, semua kegiatan tersebut mendapatkan dukungan dan fasilitas yang sangat baik dari Fakultas Teknik Undip.

Mengakhiri wawancara ini, Bapak Susatyo mengklarifikasi wacana yang sempat beredar mengenai fasilitas bebas skripsi bagi mahasiswa yang PKM nya lolos PIMNAS. Fasilitas ini sempat diperbincangkan berbagai kalangan mahasiswa sebagai penganak-emasan kegiatan PKM di Undip.   Menanggapi hal tersebut, beliau yang juga menjadi Pembina PKM Universitas Diponegoro menjawab sambil   tertawa, “Sebagai penghargaan atas prestasi mahasiswa yang lolos PIMNAS dan bahkan meraih medali, karena telah mengharumkan nama Undip, memang bahasa politik awalnya dulu sempat begitu. Namun setelah dilakukan kajian mendalam dan menyesuaikan dengan peraturan akademik yang ada, tidak bisa serta-merta diimplementasikan secara sederhana”.

Beliau menjelaskan bahwa secara terbatas, meskipun kajian terus dilakukan bidang akademik Undip, PKM-M mungkin bisa menggantikan nilai KKN. Lalu untuk PKM-K bisa dimasukkan sebagai nilai mata kuliah yang berhubungan dengan kewirausahaan. Sedangkan PKM P, PKM KC dan PKM-T pun mungkin dapat dimasukkan ke nilai mata kuliah yang inline dengan topik PKM, dan jika PKM ini memiliki nilai ilmiah yang tinggi, masih ada kesempatan untuk dijadikan topik untuk skripsi atau Tugas Akhir, tentunya tetap dengan format draft, kedalaman analisis dan pembahasan yang memadai sesuai standar masing-masing Departemen. Namun semua hal tersebut masih terus dikaji secara mendalam. (Nurul Lathifah)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Menindaklanjuti Masa Studi Perguruan Tinggi

adminNovember 10, 2018

Aphelion dan Penurunan Suhu Permukaan

adminJuly 10, 2018

Booming Suku Asmat

adminJanuary 29, 2018

Netizen Baik atau Buruk?

adminJanuary 25, 2018

Mengenal Generasi Milenial

adminSeptember 14, 2017

Perjalanan Indonesia di Pesta Olahraga SEA Games

adminSeptember 6, 2017