Opini

Senioritas Penyebab Bullying

Senioritas Penyebab Bullying

Sering mendengar kata bullying? Ya, bullying yang sudah lama marak di Indonesia, kini kembali mencuat di pertengahan tahun ini terlebih berita di salah satu universitas swasta di Jakarta yang menjadi sorotan publik. Bullying sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, sehingga kata tersebut termasuk dalam kata serapan dan masih sering digunakan masyarakat Indonesia. Arti bullying dalam bahasa Indonesia ialah penggertak dan seseorang yang melakukan tindakan menindas, mengintimidasi serta mengganggu orang yang dianggapnya lemah. Contoh kasus bullying yang pernah terjadi di Indonesia ialah orientasi masuk sekolah akibat adanya senioritas di lingkungannya. Tak hanya itu, kasus bullying juga pernah terjadi di Indonesia ketika segerombolan orang bermaksud membuat kejahilan pada temannya yang sedang berulang tahun namun akhirnya justru merenggut nyawa.

Sasaran yang dijadikan korban pelaku bullying biasanya merupakan orang yang mempunyai keterbatasan, baik fisik maupun mental. Selain itu bisa juga seseorang yang introvert, kurang memiliki kepercayaan diri dan mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Sedangkan ciri – ciri pelaku bullying adalah orang yang terkadang ingin menutupi kekurangannya atau merasa ingin memuaskan dirinya sendiri. Selain itu ia juga mempunyai kemampuan sosial yang bagus, sehingga dapat menarik banyak teman untuk memanipulasi orang lain. Selain korban dan pelaku tindakan bullying, terdapat juga orang yang hanya melihat aksi bullying terjadi tanpa melakukan sesuatu karena dirinya takut ikut diintimidasi, dijauhi, bahkan menjadi korban bullying selanjutnya. Hal itu akan semakin parah apabila ditambah kurangnya pengawasan dan kepedulian sekitar baik di dalam keluarga ataupun lingkungan sekolah. Aksi bullying mayoritas dialami oleh pelajar usia muda hingga dewasa.

Bullying sudah ada sejak dulu. Tak bisa dipungkiri, sekolah atau universitas sebagai tempat menuntut ilmu menjadi tempat utama kasus bullying terjadi. Senioritas menjadi penyebab terbanyak kasus bullying terjadi meskipun tak selamanya usia menjadi faktor penyebabnya. Bullying biasanya bersifat rahasia oleh sekelompok orang. Masalah lain ditambah ketika korban yang tidak berani mengadukan ke pihak keluarga ataupun pihak sekolah karena ancaman pelaku. Menurut beberapa penelitian, pihak sekolah cenderung menutupi kasus bullying, seperti senioritas. Sebab jika diketahui publik mereka khawatir sekolahnya akan mendapat reputasi buruk. (Elliot, 2002).

Bullying sangatlah penting untuk diperhatikan. Terutama bagi keluarga korban bullying. Hal ini dianggap penting karena menyangkut perkembangan mental si korban. Korban akan merasa terpuruk dan tidak berguna akan kelemahannya yang selalu diungkit orang lain. Selain itu akan membuat korban mengalami kesakitan baik fisik maupun psikologis, hilangnya kepercayaan diri, trauma, merasa sendiri, takut sekolah dan bahkan kemungkinan terburuknya ialah korban yang cenderung ingin bunuh diri. Dan jika tidak diperhatikan, diperkirakan bullying akan terus menjadi kasus yang tidak dianggap serius oleh orang lain karena masih dianggap “hanya masalah kecil”.

Pada dasarnya bullying tidak mudah untuk diatasi, namun dapat dicegah. Karena mencegah lebih baik daripada mengobati. Salah satu contoh pencegahan dini terhadap bullying adalah mempererat komunikasi antara orang tua dengan anaknya sehingga orang tua dapat mengetahui perbedaan sikap yang terjadi pada anaknya saat itu. Peran komunikasi orang tua tentu sangatlah penting agar si korban dapat menceritakan keluh kesahnya. Bagi pihak sekolah, dengan menyediakan konseling, mengadakan penyuluhan baik untuk siswa ataupun orang tua, serta sosialisasi bullying baik poster, booklet yang tersebar di lingkungan sekolah akan menjadi salah satu upaya pencegahan bullying. Namun dari itu semua faktor yang terpenting ialah berawal dari diri sendiri. Dengan berteman serta sikap dan perilaku yang baik, menghargai kekurangan teman, dan membuat diri lebih percaya diri serta tak lupa peka terhadap sekitar akan mengurangi kasus bullying terjadi di tanah air ini. (Ardania Meilaningrum/Momentum)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Aphelion dan Penurunan Suhu Permukaan

adminJuly 10, 2018

Booming Suku Asmat

adminJanuary 29, 2018

Netizen Baik atau Buruk?

adminJanuary 25, 2018

Mengenal Generasi Milenial

adminSeptember 14, 2017

Perjalanan Indonesia di Pesta Olahraga SEA Games

adminSeptember 6, 2017

Peranan Mahasiswa ke Masyarakat

adminAugust 16, 2017