Teknik

Kaderisasi: Pentingkah? Bolehkah?

Kaderisasi: Pentingkah? Bolehkah?

Kaderisasi bukan lagi hal yang baru yang selalu menjadi masalah, kebijakan demi kebijakan banyak menuai pro dan kontra. Sudah bertahun-tahun permasalahan mengenai kaderisasi selalu menjadi bahasan. Berbagai pandangan dan pendapat disuarakan. Seperti halnya terkait mengenai turunnya Surat Edaran Wakil Rektor 1 dengan nomor 16/Un7.Pl/SE/2017 yang berisikan himbauan untuk meniadakan kegiatan nonakademik secara tiba-tiba.
Minggu (17/09/2017) LPM Momentum FT Undip mencoba menemui Kepala Bidang PSDM dari BEM Fakultas Teknik untuk mencari klarifikasi terkait penurunan surat edaran rektorat yang berisikan himbauan kaderisasi. Yudha Aji Satria selaku Kepala Bidang PSDM membenarkan adanya penurunan surat secara tiba-tiba dari pihak rektorat kepada semua fakultas. Hal tersebut terjadi dikarenakan banyaknya pengaduan dari orang tua atau wali mahasiswa baru kepada pihak rektorat sehingga memicu pengeluaran surat edaran tersebut. Namun, ketika dikonfirmasi kepada pihak rektorat, surat edaran tersebut hanya berisikan himbauan tanpa ada maksud untuk melarang kegiatan nonakademik berlangsung dan sistem kaderisasi masih tetap dapat dilaksanakan di bawah pengawasan setiap pimpinan fakultas dan departemen.
“Banyak laporan masuk mulai sekitar tanggal 16 Agustus, namun tidak tahu juga seperti apa detailnya. Dari laporan-laporan itu, pada akhirnya pihak rektorat mengeluarkan surat edaran dua semester yang sebenarnya tidak ada kata steril di dalamnya jika dicermati dan tujuannya untuk mengkondisikan kegiatan kaderisasi mahasiswa baru. Surat itu keluar pada saat kurang lebih hampir seluruh kemahasiswaan tidak ada ditempat karena sedang mengurus PIMNAS tetapi bukan berarti ada indikasi manuver dari pihak rektorat. Kita kan tidak tahu orangtua/wali mahasiswa baru saat ini seperti apa, pemahamannya tentang kaderisasi seperti apa,” jelasnya. Dalam penuturannya tersebut, ia juga menjelaskan poin-poin surat edaran sesuai dengan Press Release yang telah dikeluarkan oleh BEM Undip pada tanggal 29 Agustus 2017.
Berkaitan dengan laporan tersebut, terdapat informasi bahwa Fakultas Teknik berada pada posisi pelaporan terbanyak, namun tidak diketahui secara pasti apakah semua laporan tersebut benar adanya atau hanya sekedar pelaporan tanpa terbukti adanya pelanggaran. Hal inilah yang kemudian mendorong pihak Dekanat Fakultas Teknik untuk juga menurunkan surat edaran yang membahas mengenai “kaderisasi” dimana dalam surat tersebut berisikan poin-poin yang mengatur jalannya kegiatan tersebut. Surat yang diturunkan pada tanggal 13 September 2017 tersebut juga sempat menimbulkan banyak pertanyaan dan pro kontra dari kalangan mahasiswa Fakultas Teknik sendiri.
Ditemui di kesempatan yang berbeda pada Senin (25/9), Bapak Susatyo Nugroho Widyo Pramono, S.T., M.M., selaku Ketua Tim Pembina Kemahasiswaan Fakultas Teknik juga menerangkan hal yang sama terkait surat edaran tersebut. Beliau menambahkan bahwa surat edaran dari Wakil Rektor 1 sebenarnya menyatakan bahwa mahasiswa baru dipersilakan mengikuti kegiatan nonakademik apapun kecuali kegiatan yang dilaksanakan oleh angkatan tertentu menggunakan infrastruktur himpunan untuk melakukan kegiatan terhadap mahasiswa baru dengan ujung pelantikan yang secara tidak langsung merujuk pada kegiatan kaderisasi. Oleh karena itu, dari Fakultas Teknik sendiri berinisiatif untuk menjembatani antara aspirasi, keinginan, dan kebutuhan akan adanya kegiatan kepada mahasiswa baru dengan peraturan yang tidak memperbolehkan. Tim Kemahasiswaan Fakultas Teknik bersama dengan Dekan serta Wakil Dekan 1 pun mengadakan diskusi dan pada akhirnya mengambil tindakan diskresi untuk tetap mengadakan kegiatan bagi mahasiswa baru dengan mengganti kegiatan kaderisasi menjadi peningkatan softskill mahasiswa baru dengan batasan-batasan tertentu seperti yang diatur dalam surat edaran dari Dekanat Fakultas Teknik.
“Menurut saya, ini masih menjadi sebuah jalan tengah yang terbaik. Kalau kita hanya semata-mata mengacu pada surat edaran WR 1, ya sudah tidak ada, adanya lagi tahun depan. Tapi kami juga mau berpikir bahwa mahasiswa baru perlu diberikan suatu kegiatan bersama agar mereka mendapat informasi, peraturan, teguran, pengetahuan mengenai etika, dan lain sebagainya sehingga mereka lebih siap untuk beradaptasi, tinggal bagaimana caranya supaya hal tersebut tetap mempertimbangkan dan menghormati jiwa esensi dari peraturan yang ada,” tutur beliau. Hal tersebut dilakukan dengan tidak mengadakan kegiatan yang membebankan mahasiswa baru dengan tugas-tugas yang berlebihan dan tidak wajar, seperti tidak mengumpulkan dengan batas waktu dan durasi yang berlebihan, serta tidak mengadakan kegiatan dengan frekuensi berlebihan. Atas dasar pertimbangan itulah yang kemudian memunculkan poin-poin batasan dalam surat edaran dari Dekanat Fakultas Teknik tersebut.
Diskusi mengenai poin-poin batasan dalam surat edaran tersebut telah dilakukan antara pimpinan Fakultas Teknik dengan Bidang PSDM BEM FT serta himpunan dari masing-masing departemen. Namun, menurut Yudha, ada beberapa poin dalam surat edaran dari Dekanat Fakultas Teknik yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal dimana jangka waktu maksimal yang ditetapkan dimajukan menjadi satu minggu lebih awal dikarenakan sebagai antisipasi dan menurutnya hal itu tidak menjadi masalah, karena hal itu kembali kepada kebijakan dari departemen masing- masing dimana bergantung terhadap koordinasi dari himpunan departemen masing -masing kepada pihak pimpinan departemen. Hal tersebut juga ditanggapi secara langsung oleh Bapak Susatyo dengan mengatakan bahwa keputusan tersebut berdasarkan pada pertimbangan yang bersumber dari fakta empirik yang telah terjadi selama ini.
Hal lain yang juga dirasa Yudha perlu untuk didiskusikan secara lebih adalah terkait peranan Dosen Pembina Kemahasiswaan dan pimpinan pada tingkat departemen. “Mahasiswa dan pimpinan sebenarnya sudah satu pemahaman mengenai kegiatan peningkatan softskill ini namun yang menjadi pemeran dalam hal ini bukan hanya mahasiswa saja tetapi juga dosen dan pimpinan. Ketika ada pembatasan-pembatasan seperti ini seharusnya ada solusi dari pihak dosen dan pimpinan untuk melakukan back-up materi-materi karena mungkin adanya distrust kepada mahasiswa sebagai penyelenggara kegiatan. Secara output, kualitas, dan tujuan juga kan sebenarnya sama,” ujarnya. (Momentum/Dhila dan Vania)

Editor: Talitha

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Teknik

More in Teknik

Kemeriahan Verifikasi MABA

adminMay 13, 2018

SETELAH VAKUM 4 TAHUN, POR TEKNIK KEMBALI LAGI

adminApril 13, 2018

Laboratorium Terpadu, Pabrik yang Unggul untuk Produk yang Unggul

adminMarch 26, 2018

Desa Binaan Sebagai Wujud Pengabdian Mahasiswa

adminMarch 26, 2018

SURVEY KEBUTUHAN FAKULTAS TEKNIK

adminMarch 18, 2018

Aplikasi “FT Undip Mobile” Siap Diluncurkan

adminMarch 16, 2018