Coretan Teknik

Movie Review: Blade Runner 2049

Movie Review: Blade Runner 2049

Oleh : Fadel Iqbal Muhammad (S-1 Teknik Lingkungan 2014)

Pernahkah anda melihat sebuah film dimana cerita yang dihadirkan menimbulkan banyak tanya?Entah karena penyampaiannya yang kurang baik atau memang cerita yang dihadirkan terlalu rumit dan sulit untuk dipahami. Hingga akhirnya menimbulkan kesan ada sesuatu yang hilang di film itu, konklusi akhir di akhir film cenderung dipaksakan. Dalam istilah film, hal ini biasa disebut dengan plot hole atau hilangnya sebuah alur cerita.  Banyak sekali film yang saya temui memiliki masalah seperti ini, bahkan beberapa film mungkin sangat familiar bagi kita semua, sebut saja Transformers: The Last Knight. Penggiringan cerita dimana tokoh utama secara ajaib seperti sudah ditakdirkan untuk menjadi pahlawan tanpa adanya alasan yang jelas & secara mengejutkan pula, ada saja kejadian yang bisa membuatnya menang dari berbagai macam musuh. Walaupun sebenarnya tak semua orang menyadari akan hal ini, hanya beberapa orang saja yang menganggap bahwa plot hole adalah sesuatu yang sangat menganggu di dalam film.

Berbeda sekali dengan Blade Runner 2049 yang memiliki alur cerita yang sangat rapi dengan penuturan yang sangat sabar dan hati-hati. Dapat saya pastikan bahwa tidak ada sama sekali plot hole di film ini. Padahal jika kita lihat lebih seksama, film ini sebenarnya adalah sekuel atau lanjutan dari film pertamanya yang dirilis di tahun 1980-an berjudul “Blade Runner”. Tanpa harus melihat seri pertamanya, kita dapat dengan mudah memahami konflik dan set up bawaan yang coba ingin dihadirkan di film keduanya ini. Semua ini berkat kemampuan dari sutradara Dennis Villenueve. Bagi saya, Villenueve adalah sutradara dengan kemampuan story telling terbaik saat ini, terbukti dari film-film yang pernah Ia buat seperti Prisoners, Enemy, Sicario, dan Arrival. Keempat film tersebut memiliki kesamaan dalam hal penuturan cerita dan pembawaan konflik dari awal hingga akhir film yang konsisten dan rapi. Apalagi ditambah dengan twist di akhir film membuat karya-karya Villenueve selalu menimbulkan kesan tersendiri bagi penggemarnya.

Film ini bercerita tentang kondisi dunia pada tahun 2049, yaitu 29 tahun setelah peristiwa dimana manusia dapat diciptakan oleh sebuah perusahaan yang bernama Tyrell dan nantinya mereka ini akan dijadikan sebagai budak. Namun ternyata manusia buatan atau dikenal dengan replicant ini ternyata juga memiliki perasaan dan emosi yang akhirnya membuat mereka memberontak dan melakukan perlawanan. Hingga akhirnya pada tahun 2049, seseorang bernama Niander Wallace mendirikan sebuah perusahaan baru yang juga memproduksi replicant namun dengan model baru, mereka ini yang akan menggantikan replicant model lama. Orang yang bertugas untuk memburu replicant model lama ini disebut dengan blade runner.

Konflik dimulai saat Ryan Gosling, yang kali ini tidak berperan sebagai seorang pria romantis melainkan sebagai seorang blade runner bernama Agent K, menemukan sebuah misteri tentang ditemukannya sebuah kotak berisi tulang yang diyakini merupakan jasad seorang replicant. Hingga akhir film, Agent K akan terus mencari tahu tentang misteri ini, bahkan Ia sampai harus berurusan dengan Niander Wallace dan anak buahnya. Selanjutnya di film ini juga terdapat aktor pemeran utama di seri pertama yaitu Harrison Ford, namun keberadaannya masih misterius karena Ia memutuskan untuk menghilang akibat serangkaian tragedi yang terjadi setelah tahun 2020.

Selain storytelling yang memukau, keistimewaan film ini juga terdapat di sinematografi dan sound editing. Dalam hal sinematografi, terdapat seorang sinematografer kawakan yang bernama Roger Deakins. Walaupun sudah dianggap sebagai maestro di bidangnya, Deakins belum pernah sekalipun memenangkan Oscar. Sepertinya ini adalah saatnya bagi Deakins untuk mendapatkannya. Disamping itu, banyak sekali kritikus yang berpendapat bahwa di tahun 2017 ini tak ada sinematografer lain yang layak mendapatkan gelar Best Cinematography di ajang Oscar selain Roger Deakins. Sama seperti istilah “Every frame is a painting”, setiap adegan di Blade Runner 2049 sangatlah indah dan magis. Tiap angle serasa istimewa dan sayang sekali untuk hanya dilihat begitu saja. Bahkan untuk membuat sebuah adegan sederhana saat Ryan Gosling sedang berjalan di malam hari membutuhkan setidaknya 3 angle/sudut pengambilan gambar yang berbeda dan masing-masing angle seakan berlomba-lomba untuk menjadishot yang paling sempurna. Setiap detail pasti diperhatikan oleh Deakins, baik lighting yang sangat on point, color grading yang indah dan bervariasi, serta minor fragment seperti butiran salju, tetesan hujan, dan kabut yang juga diperhatikan secara jeli untuk dapat menghidupkan tiap adegan. Apalagi setelah dipadukan dengan sound editing maka kita sebagai penonton akan mendapatkan cinematic experiences yang sepertinya hanya akan sangat terasa bila ditonton di bioskop.

Namun dengan segala kelebihan yang ada di atas, Blade Runner 2049 bukanlah tipikal film action sci-fi yang menghadirkan tembakan dan ledakan seperti pada umumnya. Film ini lebih cenderung ke neo-noir namun dengan latar masa depan. Oleh karena itu, tidak semua penonton dapat dengan mudah menyukai film ini. Hanya orang-orang yang dapat menikmati keindahan storytelling dan sinematografi saja yang mungkin bisa memahami dan mencintai film ini. Akan tetapi tidak ada salahnya untuk datang ke bioskop dan menikmati bagaimana cinematic experiences yang coba dihadirkan oleh Dennis Villenueve, Roger Deakins, dan seluruh orang yang ada di balik layar. Lagipula, film ini diprediksi akan memenangi Best Picture, Best Cinematography, dan Best Director. Tidak menutup kemungkinan juga jika film ini akan menjadi film dengan penghargaan Oscar terbanyak tahun ini jika berhasil menyabet penghargaan di kategori Best Sound Editing, Best Visual Effect, dan lain-lain.

Akhir kata, it’s time for you to prepare your winning speech, Deakins!

Rating: 9/10. 

(I know… some of you might be disagree with the rating, but cinematography and sound editing is my weakness)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

E-RUPCHI membawa silver medal di Ajang Japan Design and Invention Expo 2018

adminAugust 14, 2018

Kau Datang

adminAugust 13, 2018

Menanti Sebuah Jawaban

adminAugust 8, 2018

Rindu

adminJuly 24, 2018

Bukan

adminJuly 8, 2018

Mengenal Pesona Negeri Indah di Atas Awan

adminJuly 3, 2018