Opini

Booming Suku Asmat

Booming Suku Asmat

Setelah marak dengan stereotip, tanah papua kembali mendapatkan kabar duka, tepatnya dirasakan oleh suku Asmat. Suku Asmat merupakan suku terbesar dan terkenal yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas dan dijadikan sebagai perwujudan dari cara mereka mengenang arwah para leluhur. Namun, di balik kesenian khasnya, suku Asmat berada di daerah yang cukup sulit dijangkau. Letak daerah tersebut menyebabkan kesehatan masyarakat suku Asmat masih di bawah dari kata sehat.

Dengan adat istiadat yang terkenal erat dan keras, suku Asmat hidup secara nomaden sehingga membuat mereka sulit ditemukan oleh orang luar. Selain itu, kontur geografis daerah suku Asmat masih berupa hutan belantara dan dikelilingi oleh rawa. Akses jalan pun terkadang membutuhkan dana yang tidak sedikit karena menggunakan kapal.

Empat bulan terhitung sejak bulan September 2017, telah tercatat 61 anak meninggal dunia akibat campak dan gizi buruk. Hal yang miris ketika kejadian tersebut langka untuk kita jumpai di tanah Jawa. Kontur medan menuju ke sana memiliki banyak tantangan sehingga sulit dijangkau oleh perawatan medis. Ketersediaan tenaga ahli kesehatan seperti dokter ternyata masih kurang dari kata cukup. Hal itu terlihat ketika beberapa kepala puskesmas di Asmat bukanlah dokter namun masih paramedis. Selain itu kesadaran akan kesehatan dan kurangnya edukasi juga menjadi alasan mengapa kesehatan di suku Asmat mengalami penurunan.

Usaha yang dilakukan oleh pihak terkait seperti Bupati Asmat, Kapolda setempat, TNI/Polri bahkan Jokowi pun akhirnya turun tangan untuk menangani kasus kesehatan di tanah papua ini. Hal itu ditunjukkan ketika bertambahnya asupan logistik, baik makanan siap saji, obat-obatan, serta vaksin guna mencegah penularan penyakit campak dan gizi buruk tersebut.

22 Januari malam yang lalu sempat Jokowi mengundang Gubernur Papua dan Bupati Asmat untuk mengusulkan relokasi warga Asmat ke tempat yang mudah dijangkau oleh orang luar termasuk ahli kesehatan. Namun hal itu langsung ditolak oleh gubernur dan Bupati Asmat dikarenakan budaya dan kebiasaan hidup yang dianut tidak memungkinkan warga Asmat untuk berpindah tempat meskipun proses itu dapat mempercepat akses ahli medis menemui mereka.

Kejadian tersebut diharapkan tidak hanya membuat kita sesaat prihatin terhadap masalah di Indonesia. Namun, hal tersebut membuat kita lebih peka terhadap lingkungan untuk seterusnya. Terkadang proses penanganan perlu dilakukan dengan memperhatikan toleransi budaya lingkungan setempat. Mungkin tidak hanya tanah papua saja yang masalah kesehatannya akhirnya terdengar. Bisa saja masih ada lagi daerah yang tidak terdengar masalah kesehatannya. Program KKN dan pengabdian masyarakat bisa menjadi sarana untuk kita sebagai mahasiswa membuka mata bahwa masalah sosial tidak bisa diselesaikan sendiri, tetapi perlu ada upaya kesadaran bersama untuk membuat suatu daerah atau  lingkungan menjadi mandiri dan lebih baik lagi. (Momentum/Ardania)

 

Sumber :

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Aphelion dan Penurunan Suhu Permukaan

adminJuly 10, 2018

Netizen Baik atau Buruk?

adminJanuary 25, 2018

Mengenal Generasi Milenial

adminSeptember 14, 2017

Perjalanan Indonesia di Pesta Olahraga SEA Games

adminSeptember 6, 2017

Peranan Mahasiswa ke Masyarakat

adminAugust 16, 2017

Senioritas Penyebab Bullying

adminJuly 26, 2017