Coretan Teknik

Diponegoro : Simbol yang Menandai Zaman

Diponegoro : Simbol yang Menandai Zaman

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

 

Dalam potongan sajak Chairil Anwar tersebut, ada sebuah struktur pemujaan dan kekaguman yang panjang dalam bentuk figur. Sajak ini menjadi salah satu yang paling dikenal dari sekian puluh tulisannya antara tahun 1942 hingga kematiannya pada 1949. Dari beberapa bait, bagian yang paling menarik bagi saya justru terdapat pada 2 baris awal puisi tersebut. Dari situlah, Chairil menemukan optimisme yang fantastis karena pada sajak yang ia tulis pada tahun 1943 – 2 tahun sebelum kemerdekaan – ia telah “berani” mengutarakan pembangunan, hal yang masih tabu untuk dibahas di masa tersebut. Namun, di tengah-tengah prahara Perang Dunia II, perlawanan melawan kekaisaran Jepang, romusha, dan wajib militer, ini mungkin bukan menjadi anomali bagi sang penulis sendiri.

Chairil saat menulis sajak tersebut telah memposisikan dirinya sebagai sesuatu yang lepas dari situasi di sekitarnya saat pendudukan Jepang di Indonesia. Itu bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan spontanitas dan intuisi belaka, namun juga membutuhkan keyakinan serta komponen pada setiap manusia yang tak mudah dibentuk: sebuah identitas. Dari kalimat-kalimat tersebut, kita juga bisa menyimpulkan bahwa kemerdekaan bukanlah indikator mutlak untuk perubahan semangat.

Meskipun Chairil dengan Diponegoro sendiri merupakan pertunjukan 2 jalan hidup yang bertolak belakang, antara “dengan senjata” dan “tanpa senjata”, namun melalui 2 kalimat sajaknya “Punah di atas menghamba/Binasa di atas ditindas”, keduanya memiliki persamaan yaitu ketidakmauan untuk tunduk kepada mereka yang datang dari luar, yang bukan dari kita, dan yang mengancam. Keyakinan ini lebih memilih untuk “punah” daripada “menghamba”, serta memilih untuk “binasa” daripada “ditindas” untuk mempertahankan apa yang seharusnya dimilikinya . Ini  menjadi semacam iman yang menjadi penerang perjuangan pada 2 abad berbeda, dengan cita-cita yang mungkin berbeda, tapi masih meninggalkan bekas yang coba terus ditiru hingga sekarang.

Sebagaimana kisah-kisah kepahlawanan lainnya, Diponegoro lahir dan dikenal dari sebuah konflik, Saat Belanda memasang patok-patok di tanah adat Desa Tegalrejo yang memicu amarah rakyat, Diponegoro berhasil menghimpun milisi rakyat yang besar dan memaksa berlangsungnya Perang Jawa pada 1825-1830 secara terbuka. Meskipun Diponegoro merupakan keturunan elit Keraton Yogyakarta (Diponegoro merupakan putra dari selir Sri Sultan Hamengkubuwono III), ia berusaha lepas dari segala protokoler dan kehidupan keraton yang mengikat.

Di sisi lain, rakyat sebagai golongan yang terpisah dari lingkaran istana, bereaksi dengan marah, takut, dan cemas saat melihat respon keraton yang sangat toleran terhadap pendudukan Belanda. Djoko Surjo, seorang guru besar sejarah UGM, pada sebuah makalah tahun 1990 menjelaskan bahwa ada latar belakang lain yang menyebabkan gejolak di tengah masyarakat. Kekuasaan pemerintah Belanda atas istana dan wilayah kerajaan cenderung makin kuat dan terpusat, sehingga unsur-unsur gaya kehidupan barat secara otomatis masuk ke lingkungan kerajaan, seperti dalam segi-segi seremonial, etiket, tradisi pergaulan kemewahan, dan adat kebiasaan baru yang sering dianggap bertentangan dengan tradisi Jawa. Hal ini ditambah dengan kemerosotan ekonomi dan moral di wilayah kasultanan, sehingga menimbulkan ketidakpuasan dan kekisruhan di mana-mana. Namun, mereka melihat bahwa tindakan melawan merupakan bunuh diri massal karena pada saat yang sama. Mereka harus melawan 3 hal sekaligus: serdadu belanda, ikatan keraton, dan akal sehat. Hingga muncul Diponegoro (yang ironisnya berasal dari keluarga bangsawan) yang dianggap “Ratu Adil” sebagai momentum turunnya sebuah mukjizat. Ia membuang atribut masa lalu yang membesarkannya seraya membayangkan masa depan utopis, yaitu sebuah kehidupan mutlak yang diproses sepenuhnya oleh orang pribumi, tanpa penindasan dan konfrontasi jenis apapun.

***

 

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

 

 

Dalam salah satu judul teaternya, As You Like It, William Shakespeare pada 1599-1600 mengungkap sebuah metafor bahwa dalam proses kehidupan di dunia ini sebagai panggung sandiwara, para pemainnya tidak lain adalah manusia sendiri. Lalu, ditengah-tengah pentas akan muncul seseorang yang memainkan banyak hal dan bertekad menguasai keadaan, seperti kutipan Shakespeare pada panggung tersebut : “And one man in this time plays many parts”. Akan selalu dibutuhkan tokoh penting yang bertugas mengontrol ruang dan menentukan waktu. Itulah yang memperlihatkan kemiripan sang pangeran dengan Napoleon Bonaparte, yang menentukan serangan dan memilih pasukan, yang memimpin pertempuran besar yang terbuka, yang bertekad menyusun sebuah revolusi, hingga akhirnya “kalah” dan sama-sama diasingkan ke daratan lain di seberang kontinen, hingga akhir hayatnya.

Namun, kita mungkin skeptis ketika membayangkan Diponegoro yang kalah dan kemudian menyerah, termasuk oleh kompromi, ketika melihat adegan penyerahan dirinya di Magelang yang diabadikan oleh 2 pelukis besar Indonsia dan Belanda (Raden Saleh serta Nicolaas Pienemann) yang berbeda 180 derajat. Namun, kita akan lebih tertarik pada lukisan Raden Saleh, dengan raut muka Pangeran Diponegoro yang tegak sembari menahan amarah serta jauh dari kesan terdesak dan masygul. Ia memang tak pernah benar-benar kalah dalam perspektif pertempuran yang paling murni (infanteri, kavaleri, artileri). Diponegoro tak pernah ditangkap dalam situasi terbuka dan penyerahan (atau penjebakan) dirinya lebih banyak dilatarbelakangi karena telah menyerahnya Sentot Alibasja si panglima kepercayaannya, ketidaksepahaman dengan Kiai Mojo, berkurangnya pasukan dalam jumlah drastis, dan telah banyaknya korban rakyat berjatuhan.

Pada tahun 1830, Diponegoro diasingkan ke Sulawesi. Meskipun di perjalanan kapal Pollux selama seminggu yang terguncang-guncang oleh ombak dan buih dari Batavia ke Manado dan dalam keadaan Sang Pangeran terbaring lemah karena demam malaria juga muntah-muntah karena mabuk laut, ia masih mencoba bercakap-cakap dengan Letnan Knooerle yang mengawalnya. Diantaranya tentang sistem tanam paksa, perang, Eropa, dan Napoleon. Dengan lanskap laut dan arah gelombang, Diponegoro seakan masuk ke dunia baru yang asing, dimana fantasi dan cita-cita semakin kabur. Pada segmen itu, ada satu kaidah yang tak lenyap: “perang sudah selesai, namun perjuangan tak layak berhenti”. Selama pengasingan di Manado, Diponegoro masih menulis naskah “Babad Dipanegara” tentang perjalanan hidupnya yang kelak menjadi salah satu dari 4 karya sejarah Indonesia pada situs Warisan Ingatan Dunia (International Memory of The World), sebelum akhirnya wafat pada 1855 di Makasar.

 

Sekali berarti

Sudah itu mati

 

Bagian ini memiliki kearifan universal; sebuah ajaran untuk saling menerapkan fungsi sebagai manusia. Kata “berarti” dihasilkan dari sebuah terobosan yang jauh lebih besar dari aktivitas manusia biasa dan dapat digunakan sebagai wakil perlawanan yang baik melawan yang buruk, antara sabil melawan yang bathil. Disini, mati sebenarnya bukanlah batas sederhana nan kaku antara yang ada dan tak ada di dunia. Ia menjadi status imajiner yang nyaris tak pernah menguasai perbincangan mengenai Sang Pangeran sendiri. Itu sebabnya ke”berarti”an Diponegoro mengandung bermacam definisi yang tak bisa dibatasi oleh kematian itu sendiri. Simbol perjuangan Rakyat Indonesia dan sikap patriot yang diwariskan turun temurun hingga hari ini. Bahkan, nilai-nilai ini sudah muncul jauh sebelum nama Indonesia disusun sebagai wacana dan rencana.

 

Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

 

Bagaimanapun sebuah simbol akan terus diharapkan berada di posisi paling depan dan membangun kepercayaan. Seorang tokoh besar Jawa yang memimpin perang besar selama 5 tahun, yang menyebabkan kerugian terbesar sepanjang pendudukan Belanda di Indonesia (sekitar 20 juta gulden dan 15.000 prajurit), meskipun harus mengorbankan nyawa 200.000 rakyat, telah menunjukkan banyak hal dalam fragmen yang panjang. Lebih dari itu, kecerdikannya menggunakan struktur alam di sekitar Goa Selarong sebagai bagian dari formasi perang, keterbukaannya kepada unsur masyarakat manapun, serta keberanian  menghadapi Belanda yang peralatannya lebih lengkap dan banyaknya seratus kali, akan melengkapi bukti bahwa seorang manusia bisa begitu menakjubkan, sehingga akan diingat sebagai pahlawan dan pemimpin unsur protagonisme dalam sebuah situasi. Manusia bisa membuat sejarah dan melawan kekuasaan manapun. Dengan itu, Pangeran Diponegoro, sang “Napoleon dari Jawa”, bukan hanya pahlawan yang mencapai jalan ajalnya sendiri, ia merupakan simbol. Simbol yang juga berfungsi agar orang lain lebih mudah membayangkan sebuah zaman yang panjang dan melelahkan, ke dalam satu titik yang ringkas.

 

***

 

Pada 1957, dengan diprakarsai oleh Mr. Imam Bardjo, seorang jaksa, Universitas Diponegoro (yang awalnya bernama Yayasan Universitas Semarang) lahir. Undip dibentuk di tengah upaya negara yang masih berusaha membentuk struktur politik dan ekonomi (dan mungkin juga sebuah fondasi identitas) yang mantap. Seperti mantra ramalan, Diponegoro memang hidup kembali, atau lebih tepatnya dihidupkan kembali, meskipun  tidak melalui proses yang langsung. Baru pada Dies Natalies ke-3 tahun 1960, melalui perintah Presiden Ir. Soekarno, nama Universitas Diponegoro resmi digunakan untuk mengganti Universitas Semarang. Tak hanya itu, tanggal berdirinya Universitas Diponegoro kemudian dinyatakan berubah menjadi 15 Oktober untuk mengingatkan pada tanggal Pertempuran 5 hari di Semarang. Dalam hal ini, ada sebuah imaji yang timbul agar sejarah tak buyar. Sejarah digunakan sebagai pengingat dan dipasang pada satu kerangka besar yang akan bertahan beberapa dekade setelahnya. Sejarah digunakan sebagai papan nama.

Kemudian Universitas Diponegoro bertekad untuk menanamkan nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro dalam segenap civitas akademika, antara lain :

  • Yakni sikap mental yang: 1. lurus hati; tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya); 2. tidak curang (misalnya dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku); 3. tulus; iklas. Sehingga dimaknai sebagai suatu sikap yang mencerminkan adanya kesesuaian antara hati, perkataan dan perbuatan.
  • Yakni sikap mental yang teguh dan percaya diri yang besar dalam menempuh perjuangan, menghadapi bahaya, dan kesulitan; tidak takut (gentar, kecut) dalam membela kebenaran.
  • Yakni mengindahkan; memperhatikan; menghiraukan keadaan lingkungan dan masyarakat sekitar.
  • Yakni sikap mental yang memperlakukan orang lain secara proporsional dan berpihak kepada yang benar; berpegang pada nilai kebenaran; wajar dan sepatutnya; serta tidak sewenang-wenang.

 

Sebuah nama akan selamanya membawa tanggung jawab sosial. Meskipun nilai-nilai perjuangan Pangeran Diponegoro dapat menjagkau aspek kehidupan lain yang multidimensional, sebuah perguruan tinggi juga berfungsi menyelenggarakan pendidikan yang dapat menyusun peradaban dan menciptakaan keadaan. Pendidikan disini tentu saja bukan semacam produk yang dapat diperjualbelikan seperti barang di pasar umum dan tak dapat diukur oleh semua bilangan nominal. Pendidikan adalah aktivitas belajar untuk “membentuk” dan “mengembangkan” sebuah subjek yang memerlukan landasan moral agar proses tersebut tetap mencapai arah yang tak bias. Disini kita bisa paham bahwa pendidikan tidak semata-mata digunakan untuk merayakan heroisme perjuangan karena pendidikan justru diperlukan untuk mencegah peperangan dan menghindari perselisihan.

Maka sejak 1957, kita melihat Diponegoro seolah-olah sebagai kultus yang belum usai. Dan sekarang, 2018, melalui tahun demi tahun, sambutan demi sambutan, perayaan demi perayaan, doa semi doa, masalah demi masalah, ribuan mahasiswa datang dan pergi, dan struktur kelembagaan terus diputar secara periodik. Namun, ada yang tak bisa diubah dari sebuah nama yang tampak memiliki kekuatan supranatural dan kemampuan untuk “menggetarkan”. Barangkali kita pun wajar melihat patung Diponegoro menunggangi kudanya (Kiai Gentayu)  yang ikonik, yang berdiri di Pertigaan Ngesrep dan Jalan Imam Bardjo, serta menjadi monumen putih di depan gedung rektorat Undip. Patung-patung yang biasa dilihat orang lalu-lalang setiap harinya itu mempertemukan pikiran dari berbagai arah, yang praktis mengakui sebuah kesimpulan: Sejarah begitu cepat meresap ke dalam satu bentuk yang tak bergerak.

Di tengah-tengah upaya Undip untuk mewujudkan visi sebagai universitas riset yang unggul tahun 2020, dengan isu pemberlakuan Uang Kuliah Tunggal (UKT) di semua semester yang masih pro kontra, dengan isu ketimpangan pembangunan di wilayah internal Undip, dengan pertanyaan-pertanyaan pesimistis mengenai perbaikan kualitas pendidikan, akankah nilai-nilai tersebut (jujur, berani, peduli, adil) masih digunakan untuk memenuhi kewajiban yang terdesak kebutuhan, pada era dimana dekadensi moral selalu terbayang dan kebutuhan pendidikan sekaligus pembangunan skala nasional akan selalu bertambah setiap tahun?

Dalam kondisi tersebut, saya lebih suka membayangkan Diponegoro yang “hidup” dan “bekerja”, daripada Diponegoro yang “mati” dan lantas “disakralkan”. Di masa pembangunan (yang sebenarnya) ini, Tuan Diponegoro memang harus hidup kembali.

 

 

Sumber :

Surjo, Djoko. 1990. Kepemimpinan Pangeran Diponegoro Dalam Perspektif Sejarah. Universitas Diponegoro : Seminar Sehari Sejarah Pangeran Diponegoro.

Tirto.id. 8 Januari 2017. Akhir Hidup Napoleon van Java. Diakses 13 Oktober 2017, dari https://tirto.id/akhir-hidup-napoleon-van-java-cfBz.

 

Oleh:

Nama                          : Tegar Satriani

NIM                            : 21040113130128

Departemen/Fakultas : PWK/Teknik

Angkatan                    : 2013

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Hening

adminMarch 16, 2018

WHAT HOME SUPPOSED TO BE

adminMarch 8, 2018

LUNAR ECLIPSE

adminFebruary 10, 2018

Indonesia Darurat Membaca

adminJanuary 18, 2018

Aku Cinta Kamu

adminJanuary 12, 2018

Kisah Bulan Desember

adminJanuary 4, 2018