Opini

Netizen Baik atau Buruk?

Netizen Baik atau Buruk?

Media sosial identik dengan media online hasil inputan jari tangan dimana awalnya manusia ingin menceritakan lika-liku kehidupannya. Percaya atau tidak, mayoritas orang hanya akan mengunggah kisah positif mereka saja di akun media sosialnya. Meskipun di setiap kehidupan manusia selalu mempunyai masalah, namun akun media sosialnya hanya untuk menunjukkan hal positif yang mencerminkan dirinya. Hal tersebut bisa diartikan bahwa manusia dapat dengan mudah memalsukan kehidupannya lewat media sosial, namun begitulah kenyataannya. Ya, media sosial adalah wadah atau sarana online untuk masyarakat dapat mengakses informasi baik untuk berkomunikasi ataupun membuat relasi dengan salah satunya sharing life.

Generasi Y yang tidak asing disebut dengan generasi millennial kelahiran tahun 1985 – 2000 menjadi generasi terbanyak pengguna media sosial. Hal itu ditunjukkan karena generasi tersebut identik dengan ciri khas sikap yang kritis, cenderung menolak kemapanan, dan lebih menginginkan hal baru. Selain itu, generasi millennial ini juga lebih memilih tantangan ketimbang terbelenggu dalam situasi lama yang membelenggu. Oleh sebab itu, generasi Y memiliki paradigma sebagai anak muda yang lebih lugas dengan self empowerment yang tinggi, dan terkadang memandang atasan sebagai rekan kerja yang saling mendukung dan menguatkan. Hal itu menjadi tidak terlihat kesenjangan atas birokratis yang kaku. Tak jarang generasi Y memiliki pemikiran yang terbuka, tingkat kepercayaan yang tinggi serta diikuti motivasi kerja yang tinggi pula. Perbedaan generasi Y dan generasi sebelumnya akhirnya terlihat dari bagaimana masing-masing generasi tersebut menjunjung tata krama dalam beristiadat atau menghargai budaya yang dianuti baik di dunia nyata maupun di dunia maya.

Tahun 2020 menjadi tahun yang diperkirakan bahwa jumlah generasi Y akan mewakili dari 50% dari tenaga kerja. Perkiraan tersebut semakin jelas membuat media sosial akan tetap menjadi senjata booming yang sukar mengikis dalam beberapa tahun ke depan. “Netizen”, istilah yang marak akhir-akhir ini dibicarakan pun, diharuskan untuk pintar menyaring segala informasi instan dalam media sosial. Maka dari itu, literasi media perlu digencarkan sejak dini.

Berbicara sebagai penyimak media, terdapat banyak hal yang harus dihindari ketika netizen dipertemukan dengan media sosial. Hal tersebut diantaranya ialah ketika media sosial memberikan kesempatan kepada netizen untuk beropini tanpa batas. Tak pernah ada sejarahnya terdapat undang-undang yang melarang kebebasan beropini di media sosial terutama pers. Terkecuali, ketika kesempatan tersebut disalahgunakan untuk mencemarkan nama baik seseorang ataupun institusi. Padahal jika dilihat dari sudut pandang yang baik, opini tersebut dapat menjadi sebuah landasan diskusi sekumpulan netizen yang bisa kita anggap mereka adalah generasi Y dengan sikap kritisnya. Media sosial tersebut juga dapat memberikan wadah untuk menyampaikan opini dari sudut pandang yang berbeda-beda, sehingga akan mendapatkan wawasan yang luas kepada netizen. Pada akhirnya netizen yang baik dapat mengetahui bagaimana cara merespon yang tepat dalam bersosialisai dengan bekal tulisan opini di media sosial yang pernah ia baca.

Hal serupa ketika media sosial dianggap memberikan dampak negatif berupa mendekatkan relasi yang jauh namun menjauhkan relasi yang dekat. Tentu yang diinginkan ialah tetap menjalin hubungan dengan relasi yang dekat sambil menjaga hubungan dengan relasi yang jauh. Sebenarnya komunikasi tersebut akan tetap terjaga harmonis jika netizen mampu menempatkan waktu secara tepat dan konsisten kapan ia harus menggunakan media sosial dan kapan ia harus berinteraksi langsung dengan relasi dekatnya. Memang ada saat dimana terkadang hiburan media sosial dianggap kebih menarik daripada berinteraksi langsung dengan orang lain, namun tak semua netizen mempunyai persepsi dan pandangan yang sama. Toleransi menghargai “quality time” sudah sepatutnya diprioritaskan dalam waktu tertentu. Contoh kecil ialah ketika sedang fokus belajar. Netizen yang baik akan memberikan durasi waktu sedikit, kapan ia diperbolehkan bermain dengan media sosial untuk sekedar refreshing sebentar di tengah waktu belajar. Netizen yang baik juga akan menonaktifkan perangkat media sosialnya sementara, jika dirasa waktu menghabiskan keluarga ataupun teman baiknya yang sedang bercerita dirasa lebih penting.

Contoh lain dari kenegatifan akibat dampak terlalu banyak bermain dengan media sosial ialah cyber crime, komentar nyinyir, kemudahan akses web yang ilegal, dan bahkan dapat menurunkan produktivitas seseorang. Dari banyaknya hal tersebut, media sosial juga mempunyai sisi positif yang tak kalah penting. Diantaranya ialah, mudah untuk mendapatkan informasi yang cepat. Untuk pelajar yang ambisi, ia akan lebih mudah mengetahui jadwal dan informasi mengenai beasiswa atau bahkan conference tingkat nasional maupun internasional. Untuk pegiat sosial yang aktif, ia akan memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk penggalangan dana yang cepat, donor darah bagi yang membutuhkan atau pun kegiatan-kegiatan yang mempunyai urgensi mencari relawan untuk aksi tanggap bencana. Untuk aktivis ataupun politisi, media sosial ialah tempat untuk mengkritisi dan ajang diskusi untuk menyamakan persepsi dari berbagai sudut pandang di belahan daerah lain. Tak hanya itu, media sosial juga menjadi kontrol sosial agar netizen keseluruhan paham dan tahu isu terkini terutama masalah di negaranya. Untuk pebisnis, tidak perlu diragukan lagi jika media sosial akan ia jadikan tempat untuk mempromosikan barang dagangannya dengan kreatifitas masing-masing pebisnis melawan pesaing-pesaingnya. Bahkan tak jarang, bakat-bakat anak muda akhir-akhir ini banyak yang tersalurkan lewat media sosial karena kemudahan menggunakannya.

Setiap generasi akan terus beregenerasi mengikuti zaman. Karakteristik dan pola pikir mereka akan kembali berbeda dengan generasi sebelumnya. Keahlian dalam IT juga akan berdampak dengan media sosial di masa depan. Media sosial untuk sekarang dan nanti diharapkan tentu dapat membuat netizen tidak hanya berdiam diri, namun dapat melakukan perubahan nyata untuk lingkungan sekitar. Maka dari itu, ingin jadi netizen yang baik, atau yang buruk?. (Ardania/Teknik Industri)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Booming Suku Asmat

adminJanuary 29, 2018

Mengenal Generasi Milenial

adminSeptember 14, 2017

Perjalanan Indonesia di Pesta Olahraga SEA Games

adminSeptember 6, 2017

Peranan Mahasiswa ke Masyarakat

adminAugust 16, 2017

Senioritas Penyebab Bullying

adminJuly 26, 2017

PKM Fakultas Teknik Undip, (Bukan) Anak Emas Pencipta Tradisi Emas

adminMay 4, 2017