Ristek

Alat Penembak Drone Ilegal Buatan Mahasiswa UNDIP

Alat Penembak Drone Ilegal Buatan Mahasiswa UNDIP

Drone merupakan pesawat tanpa awak kendali jarak jauh dari pilot yang terdapat di dataran. Drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicle) di dunia telah memberikan manfaat yang signifikan, diantaranya adalah digunakan sebagai pengawasan infrastruktur fisik (pabrik, pelabuhan, jaringan listrik, dsb.), pengiriman paket barang, pemadam kebakaran hutan, eksplorasi lokasi tambang, minyak/mineral.

 

Namun drone ini dapat juga dapat menjadi ancaman yaitu sebagai pengintai, pembawa bahan peledak atau alat bahaya lainnya, atau keberadaannya dapat mengganggu penerbangan dan mengancam keselamatan penumpang. Sesuai Peraturan Menteri Perhubungan No 1 tahun 2009 dan No 90 tahun 2015 tentang penggunaan drone, area bandara bebas drone. Untuk menerbangkan drone juga diatur di wilayah kebandaraan atau Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP).

 

Tapi sayangnya pengguna drone belum banyak yang tahu aturan itu. Pada Desember 2015, ada drone yang memotret pesawat dengan posisi yang dekat. Hal itu sangat membahayakan penerbangan dan keselamatan penumpang. Dimana drone tersebut menggambil foto pesawat terbang yang lepas landas dari jembatan layang Janti. Jika mengenai pesawat terbang, apalagi masuk ke mesin atau balingbaling maka akan dapat membahayakan para penumpang. Pada 7 September 2017 diberitakan oleh Tribunnews, pilot pesawat AirAsia nomor penerbangan AK-328 memergoki sebuah drone (pesawat tanpa awak) terbang di area sekitar arena landasan pacu (runway) Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang saat ia akan landing. TNI pun memiliki alat penembak drone atau drone jammer namun harus dioperasikan secara manual. Mengantisipasi hal tersebut, tiga mahasiswa Undip yaitu Taufik Rahmadani (S1 Elektro), Wisnu Dyan Nugroho (S1 Elektro), dan Atha Dwira Perdana (S1 Teknik Komputer) berinovasi membuat alat penembak drone/uav ilegal secara otomatis dengan menggabungkan teknologi radar, image processsing, dan signal jamming yang diberi nama ANDROMEDA. Prinsipnya radar akan mendeteksi adanya objek asing di sekitar kemudian dikonfirmasi oleh kamera 360, apabila benar objek tersebut adalah drone maka sistem akan memberikan instruksi kepada antena sebagai penembak untuk mengarahkan ke drone tersebut. Antena akan menembakkan sinyal noise dengan frekuensi yang sama dengan drone sehingga drone mengalami gangguan komunikasi dengan pilot/operator dan lepas kendali, kemudian drone dilumpuhkan dengan perintah shut down/off.  Pengembangan kedepannya, alat ini mampu melacak keberadaan pilot sehingga dapat diamankan. Harapannya alat ini dapat memberikan dampak positif bagi sistem pertahanan dan kemananan negara kita. (Momentum/Atha).

TIM ANDROMEDA (Taufik Rahmadani – Wisnu Dyan Nugroho – Atha Dwira Perdana)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Ristek

Ksatria Hydros Siap Ikut Ajang Internasional

adminApril 29, 2018

Content Creator Day, Sebuah Konten Harus Memiliki Nilai yang Disampaikan

adminApril 21, 2018

Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Ciptakan Alat Pengendali Hama Burung Pemakan Bulir Tanaman Padi

adminJuly 25, 2017

TIM PKMM UNDIP Latih Pembuatan String Art di Desa Mluweh

adminJuly 6, 2017

Silamatika Education

adminJune 7, 2017

Model United Nation ( MUN ) , Kompetisi Bergengsi “Baru” bagi Mahasiswa Teknik

adminMay 31, 2017