Teknik

Kaderisasi Ideal, Menciptakan Kebersamaan

Kaderisasi Ideal, Menciptakan Kebersamaan

Semarang, Momentum – Kehidupan perkuliahan, khususnya bagi mahasiswa baru, tidak lepas dari kaderisasi. Kaderisasi tidak pernah absen dibicarakan, berbagai pro dan kontra kerap dilontarkan. Dua pertanyaan yang juga selalu dilontarkan: seberapa pentingkah kaderisasi? Lalu, seperti apakah sistem kaderisasi yang ideal?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Jumat (11/05/2018) LPM Momentum mencoba menemui Prof. Dr. Moh. Djaeni, ST, M. Eng selaku Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Teknik Universitas Diponegoro di kantor beliau.

Prof. Djaeni, begitu beliau akrab disapa, menjelaskan bahwa kaderisasi penting untuk memberi doktrin dan informasi mengenai urgensi dan cara mahasiswa untuk berkiprah di organisasi dan masyarakat. Menurut beliau, nilai-nilai yang perlu ditanamkan dalam kaderisasi antara lain adalah nilai kemanusiaan, toleransi, kebersamaan, kesetaraan, keilmiahan, logika, etika, dan tata tertib.

Menurut persepsi Prof. Djaeni, sistem kaderisasi di Fakultas Teknik secara teori sudah cukup bagus, namun dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang masih harus ditingkatkan dan diperbaiki karena adanya unsur kaderisasi yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah digariskan. Sebagai contoh, beliau menambahkan, ada departemen yang mengadakan training selama dua hari, namun dalam persiapannya, peserta diminta mengerjakan tugas-tugas di luar ketentuan yang ada, belum lagi mereka juga harus mengerjakan revisi dari tugas-tugas tersebut. Hal ini dipandang Prof. Djaeni sebagai hal yang membelenggu dan dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan dari kaderisasi, yakni untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengaktualisasi dirinya serta mengekspresikan daya kreativitas dan potensi-potensi lain dalam dirinya, sehingga mungkin saja beberapa atau sebagian dari mahasiswa akan merasa kurang cocok dengan sistem kaderisasi yang ada.

“Untuk kaderisasi periode 2017 ini, kesan saya itu nilainya masih kurang, karena (dalam pelaksanaannya) banyak yang di luar ketentuan,” tambah Prof. Djaeni.

Selain itu, Prof. Djaeni memandang bahwa pengawasan (quality assurance) pada sistem kaderisasi saat ini masih kurang baik. Beliau melihat bahwa kegiatan kaderisasi terkadang tidak hanya diisi oleh panitia sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tetapi juga dicampuri oleh senior-senior lain yang tidak bertanggung jawab, dilihat dari perbuatan mereka yang menyuruh mahasiswa baru mengerjakan tugas-tugas yang di luar ketentuan.

Pelanggaran-pelanggaran tersebut dianggap Prof. Djaeni sebagai sesuatu yang harus dihilangkan karena menciptakan habitat dan iklim yang kurang kondusif untuk berprestasi, sehingga apabila tetap berlanjut, bukan tidak mungkin mahasiswa yang berpotensi untuk meraih prestasi malah memutuskan untuk meninggalkan Fakultas Teknik.

Prof. Djaeni pun menyampaikan bahwa memang terdapat banyak aduan terkait pelanggaran yang terjadi selama kaderisasi, diantaranya datang dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), sehingga apabila sistem kaderisasi ini tidak dijalankan secara disiplin, maka pihak fakultas atau bahkan universitas akan terkena dampaknya dan harus berurusan dengan pihak luar. Oleh karena itu, Prof. Djaeni berharap agar kedepannya sistem kaderisasi dapat lebih dikondisikan menjadi lebih baik.

Untuk departemen yang kerap melakukan pelanggaran dalam menjalankan sistem kaderisasinya, Dekanat akan melakukan pembekuan terhadap PSDM HMD yang bersangkutan atau bahkan HMD tersebut secara keseluruhan. Hal ini dimaksudkan agar apabila kembali terjadi pelanggaran, mahasiswa yang melanggar tersebut akan mendapat sanksi hukum secara pribadi.

Sebagai penutup, Prof. Djaeni menerangkan bahwa untuk menciptakan sistem kaderisasi yang ideal, HMD-HMD di Fakultas Teknik perlu membenahi pengelolaan dan peningkatan Bidang PSDM-nya. Lalu, sistem kaderisasi di tiap departemen juga perlu diefektifkan dengan cara memadatkan, menyesuaikan, dan mengemas materi yang disampaikan agar sesuai dengan kebutuhan mahasiswa, misalnya dengan menyampaikan materi mengenai reformasi dan revolusi industri saat ini. Selain itu, pelaksanaan kaderisasi juga perlu dibuat menjadi lebih fleksibel serta tentunya tidak memberi banyak kegiatan yang memberatkan mahasiswa.

“Kalau perlu, langsung saja mahasiswa baru diajak mengikuti kegiatan yang sudah berjalan, langsung learning by doing, misalnya dengan mengajak mereka mengikuti penelitian bersama mahasiswa lama,” terang Prof. Djaeni. Dengan begitu, beliau mengharapkan akan tercipta kebersamaan dan improvement, baik pada diri mahasiswa baru maupun mahasiswa lama. (Momentum/Natasha dan Vania Paramita)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Teknik

More in Teknik

Rapat Dengar Pendapat (RDP) Bahas Poin Penting Juknis

adminSeptember 22, 2018

FORMAT: Indonesia Kekurangan Insinyur

adminSeptember 8, 2018

Kemeriahan Verifikasi MABA

adminMay 13, 2018

SETELAH VAKUM 4 TAHUN, POR TEKNIK KEMBALI LAGI

adminApril 13, 2018

Laboratorium Terpadu, Pabrik yang Unggul untuk Produk yang Unggul

adminMarch 26, 2018

Desa Binaan Sebagai Wujud Pengabdian Mahasiswa

adminMarch 26, 2018