Ristek

Batulempung & Zeolite, Terobosan Baru Penjernih Air Kapur di Desa Kedungringin

Batulempung & Zeolite, Terobosan Baru Penjernih Air Kapur di Desa Kedungringin

Semarang, Momentum – Kondisi geologi di Desa Kedungringin, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang banyak didominasi oleh batu gamping atau batu kapur pada bagian permukaannya. Sehingga, membuat kondisi akuifer air tanahnya banyak terkontaminasi oleh kandungan Ca dari batu gamping. Sebagian besar masyarakat pada wilayah Desa Kedungringin mengonsumsi air yang berasal dari air tanah. Mayoritas masyarakat menggunakan sumur sebagai sumber air dalam mencukupi kebutuhan. Hal tersebut dikarenakan aliran PAM di desa ini sangat susah dan masyarakat memilih air sumur.

 

Padahal mengonsumsi air yang mengandung Ca terlalu tinggi secara terus-menerus dapat membahayakan kesehatan. Salah satunya dapat menyebabkan penyakit batu ginjal. Hal ini disebabkan kandungan Ca yang tinggi membuat banyak endapan di tubuh terutama organ ginjal. Akibatnya, ginjal akan bekerja lebih ekstra untuk menyaring air yang dikonsumsi. Selain itu, dampak lain yang diakibatkan dari air kapur ini yaitu dalam hal penggunaan sabun konsumsi rumah tangga. Kandungan kapur yang tinggi akan lebih banyak mengikat busa dari sabun, sehingga busa yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibanding dengan air bersih. Ini menyebabkan konsumsi sabun menjadi tinggi karena pemborosan penggunaan akibat air kapur tersebut.

 

Berdasarkan beberapa sumber, pengertian zeolite adalah mineral aluminasilikat yang sering digunakan sebagai adsorben komersial. Kata zeolite awalnya diciptakan pada tahun 1756 oleh Axel Fredrik Cronstedt, seorang ahli mineral dari Swedia, yang mengamati bahwa pada saat stilbite (salah satu jenis mineral) dipanaskan dengan cepat, stilbite menghasilkan uap air dalam jumlah banyak yang telah diserap material tersebut. Sedangkan, batu lempung (tanah liat) adalah salah satu jenis batuan sedimen yang terdiri dari material kaya aluminum dan silika.

 

Berdasarkan beberapa penelitian, zeolite dan batu lempung dapat mengikat kandungan kapur dalam air, yang mengakibatkan kandungan kapur dalam air sadah dapat turun. Berdasarkan hal tersebut, Senin (02/08/2018), Jumat (03/08/2018), dan Sabtu (04/08/2018), Rinita A Ginting, mahasiswi Teknik Geologi TIM II KKN Universitas Diponegoro Tahun 2018 Desa Kedungringin melaksanakan program “Penjernihan Air Kapur Dengan Batu Lempung & Zeolite”.

Demonstrasi Kegiatan Penjernihan Air Kapur

Gambar Zeolite dan Alat Miniatur

Kegiatan demonstrasi penjernihan air kapur dengan batu lempung dan zeolite ini guna membantu mengurangi kadar kapur pada air tanah masyarakat. Kegiatan dilaksanakan dengan pembuatan desain alat miniatur agar lebih mudah memahami konsep penjerihan air kapur. Harapannya, dengan adanya kegiatan ini masyarakat dapat mengimplementasikan secara nyata dan menerapkannya secara terus-menerus guna mendapatkan air yang bersih dan layak konsumsi. Selain itu, masyarakat menjadi sadar pentingnya konsumsi air bersih baik bagi kesehatan maupun sosial mereka. (Momentum/ Adi Setyo Nugroho & Ridla S. N. Armina)

 

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ristek

More in Ristek

Pemanfaatan Sampah Anorganik dengan Hidroponik dan Inovasi Olahan Sayur Sebagai Program Multidisiplin KKN Tim II Desa Nglondong

adminAugust 24, 2018

Briket Sekam Padi sebagai Alternatif Pengolahan Limbah Padat Sekam Padi di Desa Gunung Tumpeng

adminAugust 20, 2018

Alat Penembak Drone Ilegal Buatan Mahasiswa UNDIP

adminJune 14, 2018

Ksatria Hydros Siap Ikut Ajang Internasional

adminApril 29, 2018

Content Creator Day, Sebuah Konten Harus Memiliki Nilai yang Disampaikan

adminApril 21, 2018

Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Ciptakan Alat Pengendali Hama Burung Pemakan Bulir Tanaman Padi

adminJuly 25, 2017