Tokoh

MENGENAL SEORANG ANJANA DEMIRA LEBIH DEKAT

MENGENAL SEORANG ANJANA DEMIRA LEBIH DEKAT

Momentum, Semarang – Anjana Demira, pemilik nama lengkap Anjana Demira Andryono perempuan kelahiran Jakarta 11 Februari 1993 merupakan putri pasangan Yul Andryono dan Margayawati. Anjana dikenal sebagai reporter dan juga pembaca berita di NET TV, program acara yang diusungnya seperti Good Afternoon, The Newsroom, NET 24, dan NET 12. Sebelum itu Anjana juga pernah menjajaki dunia akting sejak usianya 8 tahun, seperti sinetron MAMA dan film Angel’s Cry.

Anjana menempuh Pendidikan terakhirnya di Universitas Padjajaran dengan mengambil jurusan psikologi dan sempat bekerja sebagai HRD di PT. Unilever Indonesia. Namun melihat adanya peluang untuk mencoba sesuatu yang baru, Anjana mencoba mendaftarkan diri di salah satu stasiun TV swasta yaitu NETmediatama atau sering disebut dengan NET TV dengan posisi yang sama yaitu sebagai HRD. Dari posisi HRD kemudian Anjana dipindah tugaskan ke bagian news, dari pemindahan tugas tersebut Anjana dipercaya untuk menjadi pembaca berita dalam acara NET 24 sejak 2016 hingga sekarang.

Ketertarikan dengan jurnalistik

Menjalankan pekerjaan yang bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan terakhir tidak membuat seorang Anjana Demira menyurutkan kecintaannya terhadap dunia jurnalistik meskipun sempat  mendapat teguran dari orang-orang terdekatnya. Menurutnya saat ditemui di Verve Bistro and Coffe Bar Semarang (10/3), Jurnalistik adalah kehidupan baru baginya sejak bergabung dengan NET TV, dari jurnalistik mengajarkannya bagaimana pentingnya media yang netral, peran pentingnya media informasi dalam era pergerakan digital, dan bagaimana berpengaruhnya media dalam dunia politik.oleh karena kinerjanya,

Beragam pengalaman menarik pun dirasakannya, salah satunya Anjana pernah dipercaya untuk memberitakan informasi mengenai pengungsi Suriah yang berada di Turki selama 10 hari. Berdasarkan hal tersebut, Anjana bercerita bagaimana rawannya menjadi seorang jurnalis di medan perang seperti jurnalis dapat menjadi salah satu pekerjaan yang berbahaya, seorang jurnalis bisa saja menjadi tawanan perang salah satu pihak yang terlibat perang. Berbekal status relawan Anjana dapat menempuh segala prosedur yang ada diperbatasan, tak hanya itu dia juga menambahkan bagaimana mencekamnya situasi yang ada disana dimulai dari kehidupan anak-anak Suriah yang direnggut masa kecilnya, rasa tak tenang jika sewaktu-waktu ada penyerangan dari pihak oposisi, bahkan takut jika menjadi seorang tawanan. Berbeda di Indonesia, menjadi jurnalis yang jujur dan netral sangatlah susah. Seorang jurnalis menjadi sasaran bagi para politikus, dimana jurnalis dan media adalah alat yang digunakan untuk menaikkan citra dari seorang politikus itu sendiri. Berbagai tekanan mental maupun sejumlah uang yang ditawarkan pernah dialami seorang Anjana agar mau berpihak terhadap suatu kelompok politik.

Meskipun kiprahnya dalam dunia jurnalis terbilang sukses, namun suatu saat Anjana ingin melanjutkan pendidikannya dibidang psikologi. Dunia jurnalistik memang menjadi suatu hobi baru baginya, belum ada keputusan akan meninggalkan atau tidak yang pasti Anjana masih menikmati perannya sekarang menjadi seorang jurnalis (Momentum/Tifani).

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tokoh

More in Tokoh

Mengenal Lebih Dekat Sosok Kepala Departemen Teknik Geodesi, Dr. Yudo Prasetyo, ST., MT.

adminMay 6, 2018

Sampaikan Kotak Aspirasi, Ketua BEM Undip Diberi Wejangan Bu Menteri

adminApril 10, 2018

90 Menit Bersama Jokowi dalam Dies Natalis ke-60 Undip

adminOctober 18, 2017

Prof. Sudharto P. Hadi, : Pemimpin Tidak Banyak, Merekalah yang Bisa Membagi Waktu

adminMay 31, 2017

Sosok Perempuan : Kepala Departemen Teknik Industri Undip, Dr. Naniek Utami Handayani, S.Si

adminApril 5, 2017

Mengenal Nabilah Aafiyah, Mahasiswa Teknik Pemenang IPDN English Debate Competition 2017

adminMarch 27, 2017