Coretan Teknik

Tentang Memilih

Tentang Memilih

Billie Joe Amstrong turun dari mobil, memasuki sebuah kawasan gudang tua yang terlihat seperti di sudut Manhattan pada sebuah sore yang sepi, dan berjalan setengah cepat dengan paras yang lebih mirip mayat hidup – ketimbang musisi -. Ia hanya berkeliling, dengan jas dan celana hitam, melihat-lihat sekeliling, sembari merapal beberapa lirik: Today’s the Macy’s Day Parade// The night of the living dead is on its way// With a credit report for duty call…..

Cuplikan lagu Macy’s Day Parade itu mungkin menunjukkan sisi Amerika yang murung dalam era kapitalis mereka, dimana manusia dibaratkan sebagai “zombie” yang berkeliaran membawa laporan kredit untuk panggilan pekerjaan. Itu adalah saat yang sama ketika sistem pasar membuat ketergantungan manusia yang besar terhadap ekonomi. Dengan begitu banyak “tangan-tangan tak nampak” yang mengendalikan permintaan-penawaran, manusia adalah bagian terpenting dari pasar sekaligus penopang utama dari komoditas. Di sekitarnya, ketimpangan abnormal dan rusaknya sistem sosial mewabah. Dalam waktu 24 jam sehari, manusia ditempatkan dalam persaingan antarkekuatan-pasar dan prosesi jual-beli yang bising. Manusia telah menjadi boneka yang ditempa modernitas dan tuntutan gerak produktif terus menerus yang melelahkan.
Single terakhir album “Warning” oleh band punk rock “Green Day” ini secara harfiah merupakan kritik terhadap budaya materialistis yang nampak semakin memprihatinkan, terutama di Amerika Serikat. Namun di sisi lain, lagu yang diluncurkan tahun 2000 ini juga menjelaskan bagaimana persaingan korporasi bekerja: dengan memberikan jaminan kepuasan terhadap konsumen. Dengan kaidah ini, anda memberikan yang saya butuhkan (uang), dan saya memberikan apa yang anda inginkan (pelayanan).
Macy’s Day Parade terinspirasi dari Toko Macy, yang awalnya didirikan pada pertengahan abad ke-19 untuk melayani para buruh penggilingan di Massachusetts hingga akhirnya pindah ke distrik yang lebih elit di New York. Entah apa yang terjadi, Toko Macy dapat bertahan dari gejolak depresi besar yang melanda Amerika pada tahun 1929 dan menjadi salah satu simbol kapitalisme pasar di Amerika Serikat pasca perang dunia ke-2. Toko Macy bahkan sampai sekarang masih berdiri dan masih pengaruh global, terutama di Kota-Kota besar hingga setiap tahun, sejak 1924, diadakan festival khusus “Hari Macy”, semacam perayaan Thansgiving, di jalanan besar New York, untuk saling mengucapkan rasa syukur dan terima kasih.

***

Ekonomi terkadang memiliki sifat-sifat yang sama dengan politik, yaitu terus memproduksi persaingan, atau tak jarang konflik, serta agresifitas dalam berbagai tensi. Dalam politik, memilih pemimpin tak ubahnya seperti memilih barang yang terpajang di pasar. Sebuah prinsip berlaku di sana: siapapun yang memiliki penawaran lebih baik, dialah yang cenderung akan dipilih. Namun prinsip ini pun juga memiliki batas, tak ada yang dapat memberikan jaminan secara akurat terus-menerus bahwa barang tersebut memiliki daya guna yang sesuai dari yang ditawarkan sebelumnya.
Di penghujung tahun ini Undip kembali mengadakan Pemilihan Raya (Pemira) yang diadakan tiap tahun di semua lembaga kemahasiswaan pada lingkungan internal kampus. Banyak mahasiswa kembali datang berduyun-duyun, berkumpul dan memilih. Dan di setiap pemilihan umum, kemungkinannya hanya 2, menang atau kalah.
Sepanjang sejarah ekonomi, sang pemenang adalah yang lebih berhasil menguasai pasar; dan dalam politik, siapapun yang lebih berhasil menguasai massa, dialah yang menang. Dan, seperti yang dilakukan oleh sales penjual produk, para calon pemimpin pun berlomba “memasarkan” dirinya, membangun persepsi, memaparkan kelebihan serta program kerjanya, lengkap dengan jaminan apa yang bisa ia berikan jika terpilih, dengan kalimat serta suara yang menggugah keyakinan: jika terpilih, saya akan … , saya akan ….
Pemilihan Umum kerap didengungkan bersama asas LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) yang nyatanya telah ada sejak zaman orde baru. Pemilu merupakan metode paling umum untuk memilih pemimpin di semua tempat. Namun apakah politik sebegitu penting, terutama bagi mereka yang merasa tak memiliki “ikatan” dengan orang-orang yang akan dipilih, untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara, menatap sejumlah gambar tak dikenal, lalu mencoblos tanpa keyakinan bahwa apa yang baru saja dilakukannya akan berpengaruh bagi hidupnya, setidaknya 1 tahun ke depan. Kin Hubbard, jurnalis dan kartunis Amerika Serikat pernah mengatakan ini, “Kita selalu ingin memilih orang yg terbaik dalam pemilihan. Tapi sayangnya orang seperti itu tidak pernah jadi kandidat.”
Di Undip sendiri, pernyataan ini mungkin hanya akan disetujui oleh orang-orang dengan minat yang kolaps terhadap Pemilihan Raya. Namun tak bisa dibantah juga bahwa “yang terbaik” tidak selalu menjadi “yang terpilih”, terutama jika kita melihat bahwa proses pemilihan ketua organisasi mahasiswa tak lebih merupakan rentetan prosedur yang dibatasi oleh ruang dan durasi. Hanya mereka yang memenuhi syarat (dan bersedia mencalonkan diri) yang akan diajukan sebagai calon. Setelah itu, mereka memiliki masa kampanye terbatas, dengan berkeliling Fakultas atau Departemen setiap harinya dengan jam yang telah ditentukan. Dengan kata lain, kesempatan calon pemimpin untuk dikenal secara terbuka pun juga terbatas. Mereka mungkin memiliki official account pribadi yang tak serta merta dapat dijadikan asas universal untuk dipilih. Oleh karena itu, banyak (atau mayoritas) mahasiswa yang terasa “berjarak” dengan calon pemimpin tersebut. Mereka yang benar-benar tahu kelebihan-kekurangannya adalah mereka yang mungkin pernah bekerja sama dalam organisasi atau event yang sama, atau rekan dekatnya, atau teman sekelas dan angkatannya. Di luar itu, mereka – seperti yang dikatakan Goenawan Mohamad dalam salah satu Catatan Pinggirnya – adalah “badan pasif yang datang ke kotak suara dan pergi dengan rasa asing kepada apa yang dilakukannya sendiri.”
Itu belum termasuk mereka yang memilih untuk “tidak memilih.” Mereka yang memutuskan tidak memilih mungkin menganggap bahwa Pemira tidak memiliki pengaruh apapun terhadap kelangsungan hidup dan perkuliahannya selama 1 tahun ke depan. Dan di antara mereka yang memutuskan untuk “memilih”, pengetahuan tentang masing-masing calon pemimpin menjadi medan kontradiksi yang lebur. Semua pemilih dianggap sama, dengan segala faktor dan interpretasi kemanusiaan yang heterogen, entah mereka yang benar-benar tahu dan yakin terhadap pilihannya, atau mereka yang “kebetulan” datang ke kotak suara tanpa gairah politik dan keingintahuan. Semuanya akan masuk pada ritus angka yang seragam. Satu orang hanya dapat mewakili satu suara, tak kurang, tak lebih. Pemufakatan digambarkan oleh satuan numerik yang legal.
Akses terbesar calon ketua Himpunan Mahasiswa, BEM, atau organisasi lain untuk “dilihat publik” adalah saat mengampanyekan diri dengan raut dan penampilan meyakinkan, berkeliling Fakultas atau Departemen, menyusun daya tarik, menawarkan kelebihan-kelebihan programnya, saling beradu argumen satu sama lain dan mengatakan begitu banyak hal sebagai jaminan. Fakta lain yang mungkin terjadi adalah jaminan tersebut diucapkan hanya untuk menjawab pertanyaan saat debat, bukan sebagai pertimbangan jangka panjang untuk memperkuat program kerja yang telah disusunnya. Karena saat kampanye terbuka pun, pertanyaan kepada calon pun dibatasi, sehingga tentu saja tak bisa mengurai secara keseluruhan potensi dari masing-masing calon di hadapan sekelompok orang ramai, yang bahkan, persentasenya masih begitu kecil jika dibandingkan dengan total jumlah keseluruhan mahasiswa. Barangkali tak semua orang yang hadir akan menyimak, atau merasa peduli dengan isi kampanye dan debat terbuka tersebut, dan sebagian lainnya hanya menjadikan momentum itu sebagai “tontonan yang menghibur” ketimbang bahan acuan untuk memilih.
Sebenarnya, ini merupakan “batas-batas lain” dari demokrasi. Karena demokrasi bukanlah sistem yang datang dari kesempurnaan. Dalam Pemira, demokrasi lebih berperan sebagai “wadah” bagi bermacam ketidaksempurnaan yang ada, sekaligus bersandar pada kapasitas intelektual setiap manusia.
Efek paling melekat dari rangkaian kampanye tersebut mungkin berupa munculnya kata-kata “harapan baru” bagi semua orang, terkait berjalannya program inovatif yang belum pernah ada sebelumnya, dan peningkatan pelayanan yang paling dibutuhkan oleh mahasiswa. Konklusinya satu: ingin menciptakan keadaan yang lebih baik daripada periode sebelumnya.

And I’m thinking about
A brand new hope
The one I’ve never known
Cause now I know
It’s all that I wanted
(Macy’s Day Parade)

Calon pemilih yang tertarik tentu akan takjub dan larut, namun sekaligus lupa, bahwa seperti “jaminan” yang kerap digunakan oleh banyak calon pemimpin lainnya, apa yang begitu kita butuhkan, dan yang tidak pernah kita temui sebelumnya, sebenarnya adalah sesuatu yang masih berada di masa depan. Dan kita tidak pernah tahu apakah “harapan baru” tersebut memang akan terjadi atau tidak. Harapan atau gagasan tersebut adalah prospek fiktif di luar dominasi semua yang masih berada di masa kini, karena jaminan tersebut masih akan berbenturan dengan kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa saja kejam. Karena “akan” berbeda dengan “telah”, seperti halnya hubungan antara hope (keinginan) dengan fact (kenyataan).
Bagi pemilih yang peduli, itulah yang membuat memilih pemimpin menjadi begitu sakral, daripada sekedar memilih barang di pasar. Memilih dalam konteks ini telah menjadi teka-teki yang rumit. Tafsir akan terpecah-belah. Akan ada banyak pertimbangan seperti latar belakang calon, kelayakan program, pembawaan personal, kontroversi, dan lain-lain. Siapapun yang terpilih akan memiliki kendali selama 1 tahun ke depan, bukan hanya terhadap “aku”, namun juga “semua orang.” Tak ada yang memiliki interpretasi secara eksak terhadap apa yang terjadi setelah hari ini.
Winston Churchill, Perdana Menteri Britania Raya pada masa Perang Dunia II pernah mengatakan bahwa “Politisi harus mempunyai kemampuan untuk memberikan janji apa yang akan terjadi besok, minggu depan, bulan depan, dan tahun depan, dan harus mampu menjelaskan kembali kenapa janji-janji itu tidak terjadi.”
Situasi dunia abad ke-20 jelas tak bisa disamakan dengan Indonesia pada abad ke-21, ataupun Undip di penghujung tahun 2018 ini. Namun, perkembangan politik sejauh ini nampak tak memiliki banyak perubahan. Politik masih seperti yang dikemukakan Machiavelli, yaitu menggunakan apapun sebagai alat mengejar kekuasaan. Bagi diplomat pada masa Renaissance Eropa tersebut, kekuasaan adalah “raison d’etre nation.” Kekuasaan bukan hanya tujuan, namun juga alasan terbentuknya institusi. Ia menambahkan bahwa moralitas bukanlah apa yang harus dipertahankan oleh pemimpin, namun sebagai bagian pembentuk kekuasaan itu sendiri. Janji, ide, atau gagasan lainnya, akan masih dan terus digunakan untuk memikat khalayak, sekaligus nilai tawar dirinya, justru karena hal-hal itulah yang menjadi instrumen pembentuk kekuasaan. Kekuasan memang seringkali tak relevan dengan kebenaran. Bukan hanya kekuasaan itu tak kekal, namun juga tak pernah bisa disebut “tak memiliki cacat.”
Di setiap akhir periode lembaga mahasiswa Undip mungkin memiliki mekanisme Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) yang akan dinilai oleh indikator dari tim pengawas tertentu yang konsisten. Namun penilaian kinerja secara statistik tetap tak bisa mengesampingkan konotasi lain yang abstrak, yaitu seorang pemimpin memang tak pernah bisa memuaskan semua orang. Angka penilaian kolektif tersebut tentu tak bisa sejajar dengan fakta bahwa di antara janji-janji yang tak terpenuhi, tersirat penjelasan subjektif bahwa pemimpin – sebagaimana manusia lainnya – juga memiliki ragam keterbatasan, dan itu lumrah.
Saya tidak tahu, apakah di Undip, para calon pemimpin memanfaatkan keniscayaan tersebut untuk terus menerus menggunakan janji dan harapan (dengan berlindungkan kenyataan bahwa ketidakberhasilan merealisasi janji 100% merupakan sebuah kewajaran bagi pemimpin manapun, asalkan bisa menjelaskan alasan mengapa janjinya tidak terealisasi) sebagai tameng agar lebih mudah meyakinkan massa untuk memberikan suaranya. Saya tidak tahu apakah ini merupakan fenomena turun-temurun yang telah menjadi sikap pragmatisme sehari-hari.
Namun setiap tahun, di kancah Departemen, Fakultas, maupun Universitas, kita terus-menerus mendengar “harapan baru” yang diucapkan dengan intonasi menggugah oleh calon Ketua Himpunan atau BEM, persis seperti ketika Toko Macy memasarkan produknya. Namun bagi sebagian yang merasa hidup – atau dunia perkuliahannya – berada di luar jangkauan itu, (termasuk mereka yang tak mengikuti kampanye, atau tak tahu visi-misi yang dibawa sehingga tak memiliki desain profil maupun potensi para calon di dalam ruang prediksinya) harapan baru tersebut tak ubahnya mantra yang terus direpetisi dan tak lagi mempan, seperti iklan usang yang diacuhkan. Bagi sebagian lain yang masih percaya, yang telah menempatkan optimisme di atas kalkulasi manapun, harapan baru itu adalah harga yang harus dibayar dengan “jaminan” terhadap perbaikan keadaan dan terus ditunggu setiap tahun; dalam gerak waktu yang setengah bergegas, seperti langkah Billie Joe Amstrong ketika berjalan keluar dari kompleks gudang tersebut dan kembali ke mobilnya sebelum meluncur dengan kecepatan 40 mil/jam.

***

Demokrasi memang mengizinkan sebuah sistem bekerja di dalamnya; sistem yang meniscayakan semua orang berhak memiliki kesempatan sama dalam memilih, namun sekaligus menafikan perbedaan sifat antar-manusia, termasuk persepsi dalam menilai wujud dan laku, untuk memilih satu pasangan yang kelak menjadi pemimpin. Pada akhirnya, hasil pemilihan umum nantinya hanya akan menampilkan angka, dan nama pasangan yang terpilih. Satu suara hanya akan menjadi noktah kecil yang tenggelam di antara ribuan surat suara lainnya. Tak ada yang peduli seberapa banyak pemilih yang tidak mengenal calon pemimpin, atau seberapa tragis pengaruh angka partisipasi mahasiswa dalam Pemilihan Raya terhadap kepercayaan dan “pengakuan” bahwa siapapun yang terpilih nantinya bukanlah seorang pemimpin, namun hanya pelaksana program.
Karena pada akhirnya, yang menjadi “pemimpin” adalah pasangan yang mendapatkan suara lebih banyak daripada calon lainnya. Itu saja aturannya.

(November – Desember 2018)

 

Tegar Satriani, Alumnus Undip 2018
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas Teknik

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

RESENSI NOVEL “KERUDUNG DI TITIK API”

adminApril 22, 2019

Novel Ini Akan Segera Difilmkan

adminApril 22, 2019

KEMBALI

adminApril 18, 2019

Gelap dalam Gelap

adminApril 14, 2019

CERITA DULU

adminMarch 19, 2019

Tentang Keteguhan Hati, Tentang Memeluk Rasa Sakit, juga Tentang Kamu

adminJanuary 26, 2019