Coretan Teknik

CERITA DULU

CERITA DULU

Oleh : Tan Douwry

I

 

Senja berangsur gelap.

Di antara hiruk pikuk kefanaan dunia ia menjelma.

Ia ingat betul pernah menuliskan sederet kalimat itu,

merapalnya jelas suatu waktu dan mencecapnya.

 

~~~

 

Hujan mengguyur deras, tapi terdengar nyaring dan lembut membentur permukaan. Ia dapati dirinya berjejak kaku di atas jalur setapak trotoar berpola. Sekujur mantel terbiarkan kuyup alih-alih berteduh seperti kebanyakan orang berlalu lalang dan berlarian di bawah payung.

“Oscar,” lamat-lamat suara halus merangsang pendengarannya, sontak membuatnya mengangkat pandang ke penghujung jalan.

“Oscar,” suara itu kian jelas terdengar seakan memutarinya tapi jauh di luar jangkauannya mau seperti apapun ia mencarinya. Dan tepat ketika ia berpaling ke arah sebaliknya, ‘dia’ berdiri di sana. Asal suara itu. Tujuh yard di depan dan menatapnya. Tak jelas rupanya, bayang-bayang lampu jalan menyamarkan hadirnya, ditambah pakaian gelapnya. Namun Oscar mengenali sosoknya, segala lekuk perawakannya.

Langkah demi langkah diberanikannya. Setapak demi setapak diambilnya. Genangan demi genangan dilewatinya. Seiring ia bergerak maju, ‘dia’ bergerak mundur. Seiring Oscar mendekat, ‘dia’ menjauh makin cepat. Setiap refleks merasuki otot dan segala tulangnya, dan hormon-hormon mengalir dalam nadinya, dan semua hasrat dan degup jantung memacunya untuk melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan: mengejarnya. Dan seakan ‘dia’ memang mengundangnya.

Suara alam sekitar kini terdengar senada dan seirama dengan tiap yard yang ditempuhnya. Terkejut ia mendengar gelak tawa ‘dia’. Hujan tetiba berhenti seiring makin padat kerumunan yang ditembusnya. Suara-suara yang datang dari ‘dia’ menggema di telinganya. Dua pria tinggi besar menyempitkan pandangannya. Ia terhambat. ‘Dia’ menjauh.

Oscar menghalau paksa orang-orang yang menghalanginya sementara tak ada yang peduli, lantas bukan kepalang kagetnya menyadari ruang di sekitarnya berubah sama sekali. Sinar putih terang menghambur menerangi lorong panjang yang terbentang dihadapannya. Sering Oscar mengimpikan berada di dunia surrealis, seperti pernah ia ceritakan pada seseorang. Tak disangka ia kini benar-benar ada di dalamnya.

 

~~~

 

Kakinya belum berhenti berlari, merespon gema tawa ‘dia’. Sampai setibanya di ujung, ruang itu mendadak gelap. Hanya ada satu pencahayaan dari lampu pijar merah yang menyala di sudut ruangan bertembok ubin. Kamar cuci film. Ia menangkap suara air di belakangnya dan mendapati tiga buah foto sedang direndam. Salah satu yang menariknya adalah foto tubuh seorang gadis, terpotong dari bawah hidung hingga lututnya, mengenakan sweater putih dan celana pendek. Potret ‘dia’.

Tawa ‘dia’ terdengar lagi, kali ini lebih jelas. Ada di dekatnya. Pandangannya seketika terpaku pada sebuah lemari kayu dekat wastafel. Meyakinkan dirinya bahwa ‘dia’ ada di sana, mendengarkannya. Pintu lemari berdecit seiring ia membukanya. Tubuh itu berdiri di sana, bersandar dan meringkuk seakan takut bukan diambil oleh yang punya. Napasnya jelas terasa nyata. Oscar meraih tangannya perlahan.

Dan tersentak.

Napasnya memburu tidak karuan, tersengal-sengal. Selama tujuh detik penuh Oscar tidak berkedip, dan di detik kesepuluh ia sepenuhnya siuman. Udara dingin menyambutnya, merasuki pori-pori kulit pipi dan brewoknya. Kepalanya pengar seperti ditarik lalu ditekan sesaat. Tubuhnya kaku seperti habis dihempaskan. Bersyukur kasur putih lembut berselimut ada di sana menangkapnya.

Cahaya temaram membangunkannya dari timur. Dentang jam mengalihkan perhatiannya dari dinding kaca yang memenuhi sisi timur pondoknya. Pukul empat pagi. Tidak lama lagi terang.

 

~~~

 

Oscar beranjak tanpa ambisi tanpa energi, melepas mantel parka hijau lumut selutut yang masih dikenakannya selama perjalanan melelahkan lima hari empat malam. Ia ingat langsung ambruk saking tidak tahannya melihat kasur sendiri, dan pikiran-pikiran jahat itu yang masih bergentayangan.

“Enyahlah dulu. Aku akan balik lagi meladeni kalian,” umpatnya dalam hati.

Oscar refleks menepis udara, masih berjuang keras untuk melek dengan kotoran memenuhi matanya alih-alih mencerna apa yang baru saja dialaminya sepanjang tidur pagi tadi. Oscar bergegas membasuh muka sambil menunggu pemanas air, lalu memulai kebiasaan rutin yang terpaksa ia tinggalkan selama dua minggu penuh.

Biji kopi lokal adalah favoritnya, selalu berhenti di situ walaupun sudah berkali-kali menggiling ratusan biji dari penjuru daerah dan pelosok. Bukan kampung halamannya, tapi ada sesuatu yang dirindukan, atau ada sesuatu yang lain. Air panas dituangkannya perlahan ke atas bubuk kopi yang sudah ditimbang sempurna, sama halnya ia sangat menikmati menuangkannya ke dalam cangkir setelah disaring. Bisikan semesta menjelma percik air dan kopi diseduh pagi buta cukup menggairahkan.

Oscar memposisikan tubuhnya duduk condong di atas kursi beludru menatap hutan di seberang pondok. Menghirup aroma kopi di dekatnya bercampur bau kayu dan tanah basah, serta aroma pegunungan. Pelan-pelan menyeruput kafein ringan. Senang baginya bisa kembali hidup—untuk sesaat.

Soal biji kopi tadi menstimulus memorinya tentang gadis itu. Gadis dalam mimpinya, yang memang nyata. Nyata-nyatanya pernah hadir dalam hidupnya, lebih-lebih yang menjadikan pribadinya seperti saat ini, obsesif terhadap korban seperti ia pernah teramat obsesif ingin memiliki ‘dia’ takahtakahnya tidak ingin ‘dia diapa-apakan’ orang lain dan hanya dirinya yang boleh ‘meng-apa-apakan dia’. Ia tidak bisa lagi membedakan antara hasrat atau memang nalurinya melihat ‘dia’ bak bunga yang rapuh tangkainya. Dipegang sedikit sirna sudah keindahannya, kecantikannya, segalanya. Oscar ingin kecantikan itu utuh di matanya, yang dengan berat hati kemudian memutuskannya rela biarkan tubuh ‘dia’ hidup sebagai bunga yang murni—setidaknya untuk sekarang.

“Ah, mungkin demikian, demikian susah direstuinya aku memilikimu, atau memang tidak bisa, tapi kenapa alam terus mengizinkanmu nyelonong seenaknya ke kediamanku? Habis terbakar aku mendengar bunyi-bunyianmu akbar terngiang-ngiang.”

Ia meracau. Cuma sesaat. Sudah setengah cangkir. Seperempat jam.

Belum lagi matahari muncul dari pucuk pinus, getar ponselnya di lantai dua memecah sunyi. Sepuluh detik penuh ia bergeming di bawah. Nyaris enggan menerima panggilan masuk itu sebelum persis semenit akhirnya ia mendengar suara karibnya jauh di sana.

“Lama tak jumpa. Apa kabar?”

“Baru sua dua minggu.”

“Kau sudah di pondok? Sempatkan mampirlah.”

“Baru setengah cangkir. Sabarlah.”

“Buatkan juga untukku.”

Beberapa saat mereka terdiam hingga sambungan terputus. Oscar menghela napas panjang.

Setelah berhari-hari akhirnya Oscar punya alasan untuk tersenyum.

Senyum karena ‘dia’ beda rasanya.

 

~~~

 

Pukul lima. Oscar kembali bersiap dengan setelan yang sama sejak dua hari lalu ia hampir terbunuh. Masih ada bekas darah di lengkung leher kaus hitamnya, dan sepatu coklat bernoda tanah merah. Kejadian belakangan membuatnya agak trauma menyetir dengan penumpang di belakang. Beruntung AE86 itu tidask punya kursi belakang.

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Mau Menambah Ilmu di Luar Negeri? Yuk, Ikut PELTAC!

adminAugust 3, 2019

Mahasiswa Undip Ubah Minyak Jelantah dan Batuan Fosfat jadi Biodiesel

adminJuly 16, 2019

Mahasiswa Undip Ciptakan Kursi Roda Elektrik Menggunakan Gelombang Otak Yang Dilengkapi Sensor Medis Dan Berbasis IoT

adminJuly 16, 2019

Mahasiswa Undip Berinovasi Menciptakan Biofoam dari Sorgum dan Daun Mangga Kering

adminJuly 16, 2019

HIDE MY POO SOLUSI MENGHILANKAN BAU SETELAH BAB

adminJuly 12, 2019

Mahasiswa Undip Ciptakan Drone untuk Mitigasi Bencana alam

adminJuly 4, 2019