Hiburan

PERJALANAN MENCARI MAKNA TUBUH

PERJALANAN MENCARI MAKNA TUBUH

Sumber : imdb

 

Semarang, Momentum – “Yang namanya hidup itu numpang ngintip urip. Pisah, pindah, mati, kui biasa”.

Wahyu Juno (Muhammad Khan) sejak kecil hidup bersama ayahnya yang sering pergi untuk bekerja. Oleh karena itu, Juno kerap berpindah – pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari rumah.

Juno hidup di lingkungan yang terkenal akan seni Tari Lengger Lanangnya, dimana penari pria berpakaian dan menari selayaknya wanita. Untuk itu, Juno tinggal di rumah guru Lenggernya, Sujiwo Tejo, dan kemudian melihat bagaimana gurunya membunuh salah satu murid yang ketahuan mencumbu istri mudanya.

Tak hanya itu, ketika tinggal di rumah bibinya, Juno mendapat perlakuan tak menyenangkan dari kawan – kawannya karena tangannya bau tahi ayam. Tidak sampai disitu saja, Juno berpindah dan tinggal di kediaman pamannya. Berawal dari situ, Juno mengenal petinju dari lingkungan sekitar, Randy Pangalila, hingga memendam rasa kepada petinju tersebut. Walaupun begitu kisahnya berakhir tragis, pujaan hatinya harus ditawan warga karena kalah dalam petarungan yang merugikan banyak materiil.

Perjalanan baru yang ditempuh Juno bermula kembali, ia kini tinggal di paguyuban penari Lengger dan mempelajari kesenian asal daerahnya lebih dalam. Namun hal yang lebih kompleks justru datang kepada Juno. Seorang calon bupati memendam rasa pada sosok Juno karena percaya akan hal mistis berwujud jimat kemenangan pada diri Juno. Merasa ditolak oleh Juno yang mencari perlindungan kepada seorang Warok, calon bupati tersebut menghancurkan paguyuban Tari Lengger.

Jika mempunyai trauma, luka, dan kesakitan yang tidak bisa diekpresikan, film ini cocok sebagai obatnya. Film ini mengajarkan bagaimana kita berdamai dengan tubuh sendiri. Mengajarkan kita memaknai ulang kata tubuh yang sering dilupakan orang. Makin terluka orang, makin kita mengenal diri sendiri dan bukan berapa banyak luka yang membekas tapi seberapa kuat kita menopang luka itu.

Melalui Juno, sang Sutradara, Garin Nugroho, ingin menyampaikan bahwa orang – orang yang memiliki trauma mendalam dan kepedihan yang tidak bisa disimpan ada diantara masyarakat. Disini Garin ingin membawa isu mengenai feminin dan maskulin yang tersaji dalam kesenian Tari Lengger.

 

Banyak Penghargaan tapi juga hinaan dan pemboikotan

 

Penghargaan dari luar untuk film ini belum tentu membawa kebanggaan pada sebagian masyarakat Indonesia. Pro dan kontra dimana-mana. Kontra karena film ini digadang-gadang mengkampanyekan LGBT. Dilihat dari beberapa adegan yang sebenarnya hanya sebagian kecil dari unsur cerita. Petisi sudah dibuat, bahkan Walikota Depok ikut memblokir film Kucumbu Tubuh Indahku untuk tayang di bioskop walaupun pada kenyataannya sudah lulus sensor dari lembaga yang wewenang. Pro karena film ini membawa arti begitu dalam tentang pemaknaan tubuh, tentang bagaimana Garin Nugroho bisa membawa unsur feminin dan maskulin dengan mengangkat isu sensitif dengan menggabungkan budaya tradisional Indonesia yakni Tari Lengger dan Warog juga Gemblak. Film ini mengajarkan untuk mencintai tubuh kita sendiri, yang mana untuk dewasa ini kita cenderung menolak bagaimana tubuh membawa kita menuju jalan hidup masing-masing.

Tanggapan Aktor

 

Film Kucumbu Tubuh Indahku masih tersedia di beberapa biskop di Jakarta setelah dua petisi untuk melarang adanya film ini. Namun sangat sia – sia jika hanya dengan beberapa unsur yang bertentangan dengan stigma masyarakat, film karya Garin Nurgroho ini justru dikecam. Dua petisi tersebut terbit tanpa adanya diskusi terbuka bersama sang pembuat film sendiri.

Ketika ditanya dalam akun media sosialnya, pemain Wahyu Juno, Muhammad Khan, membalas “Berat si ga mbak, tapi justru setelah fenomena film ini saya jadi berpikir ulang kira-kira formulasi apa yang tepat untuk mengajak masyarakat kita kepada mentalitas yang tidak kolot”.

(Lia)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hiburan

More in Hiburan