Coretan Teknik

Sebelum Kebertolakanku ke Kota A

Sebelum Kebertolakanku ke Kota A

Oleh: Naufal Yasir

 

Saat aku akan pergi ke Kota A, aku pernah berujar padamu bahwa ini tak akan lama. Aku sepenuhnya mencintaimu, dan cinta ini mari kita pasrahkan di atas untuk beberapa saat. Aku melakukannya karena aku percaya bahwa kau adalah orang baik. Mata jelitamu yang biasanya berbinar mendadak berubah menjadi sayu saat itu. Aku kira kau ikut peduli dengan kebertolakanku ke Kota itu, lantas sedih, tetapi begitu kembali dan aku tahu kau ingkar atas janji-janji yang tak perlu aku perinci di sini sebelum aku pergi, aku terpukul setengah mati.

***

Aku punya mata.

Itu yang akan aku utarakan padamu pertama kali dalam surat ini. Menjawab serangkaian pertanyaan yang membuncah darimu. Kali ini kau tak usah bertanya-tanya lagi, seperti tentang, “Dari mana kau tahu sedangkan kau jauh di sana?”. Aku bahkan tahu dengan laki-laki siapa kau berjalan untuk menduakanku. Jangan kau tanya nama laki-laki itu. Aku bahkan tahu dari mana dan marga apa ia berasal. Dari keturunan ke berapakah ia dari silsilah keturunan kerajaan Kota kita. Bahkan dengan pakaian apa ia saat berjalan berdua denganmupun aku tahu. Sekali lagi kau tak perlu repot-repot bertanya, dan perlu aku pertegas lagi bahwa aku punya memata.

Andaikan kau tahu bahwa perempuan-perempuan di Kota A di mana aku merantau sangatlah ideal untuk dijadikan pasangan idaman teruntuk orang-orang yang berasal dari daerah kita. Dan kau-ingatan tentangmu lebih tepatnya-menutup hatiku untuk tidak membiarkan satu orangpun menggantikanmu di dalamnya. Andaikan kau tahu jika aku di Kota A bergelimang harta. Aku bahkan bisa menyewa beberapa pelacur sekaligus dalam semalam jika aku mau. Tapi aku tak melakukannya karena ingat dengan janji manis itu. Aku ingat jika aku tak perlu menggadai apapun untuk semua kesenangan itu karena dengan mengingatmupun aku sudah senang.

Dalam sebuah sambungan telepon aku pernah berkata padamu bahwa cinta adalah soal berkecocokan. Aku marasa nyaman denganmu. Walau bara cintaku-untuk tidak menyebutnya kita karena kau telah lama memusnahkannya-hanya aku panaskan dengan cara paling sederhana, bertanya apa yang kau lakukan seharian penuh. Aku bahkan tidak pernah berkeluh soal betapa ketatnya manajer mengatur jadwal kerjaku. Itu mengkhawatirkan. Dan aku menghindari itu.

Aku seharusnya tak menceritakannya, tapi kau harus tahu bahkan untuk menghubungimu saban malam aku harus berpura buang air besar jika kebetulan saat itu berbenturan dengan rapat-rapat sialan bersama klienku. Andaikan kau tahu semua ini demi dirimu.

***

“Mungkin aku sudah tidak mampu mempertahankannya lagi,” kata Fia parau kepada Dhea. “Orang terbaik yang aku jumpai pergi, dan banyak orang lain yang justru berdatangan. Tidak lebih baik, tetapi mungkin kau tahu bahwa aku paling benci dengan kesendirian.”

“Lalu kau membuka jalan untuk orang-orang yang baru berdatangan itu?” Dhea mengernyit. Ia tahu bahwa ini sulit. Sam dan Fia baginya adalah saudara. Dan di depan matanya sendiri, cinta dua saudara terdekatnya ada di persimpangan jalan.

“Aku tidak merasa membuka jalan untuk mereka. Satu dua datang membawa masalah dan memperdengarkannya kepadaku. Kemudian mereka tidak datang lagi.”

“Lalu bagaimana Vandi bisa dengan cepat…”

***

Ah, sial soal Vandi itu. Kau harus mendengarkan ini, ya, sebelum kau mengarahkan semua kesalahpahaman kepadaku. Aku dan Vandi sempat saling mengenal. Ia salah satu rekananku dalam sebuah proyek buku yang aku editori. Aku banyak berkonsultasi kepadanya soal pasar mengingat ia adalah direktur pemasarannya. Jadi buku yang aku editori ini, laku tidaknya ada di tangan ia.

Proyek itu berjalan beberapa bulan. Setelahnya sapa-menyapa kami tidak lebih dari sekedar berkabar dan cas-cis-cus tidak jauh perputarannya soal buku-buku.

Namun, ia kembali menghubungiku akhir-akhir ini. Ia bilang kalau ia baru saja bercerai dan ia bahkan tidak menahu mengapa istrinya tiba-tiba menggugatnya nyaris tanpa sebab-menurutnya. “Aku setiap malam menemani ia, anak-anak tumbuh berkembang dengan baik. Aku juga tidak ketinggalan merawat mereka bersamanya,” katanya waktu itu. Bahkan, hingga kini, aku belum tahu terang apa sabab-musabab istri Vandi menceraikannya, tetapi dari situ, aku tahu kalau ia adalah lelaki yang benar-benar baik.

Lalu seperti sangkaan yang kau tuduhkan kepadaku, kami mendekat.

Kau berkhianat? Tunggu, tunggu dulu, ya!

Saat itu aku ada pada masa yang benar-benar tidak tentu arah. Sam menghubungiku lewat sambungan telepon bahwa ia tidak mungkin datang pada perayaan ulang tahunku. Aku bisa menerima dan bahkan aku ingin membuat sebuah kejutan dengan datang ke Kota A demi bisa membuat perayaan itu tetap berlangsung dengan kehadirannya. Meski teman-teman sudah menyiapkan semua kejutan untukmu?

Hm… harus aku katakan iya. Aku tidak bermaksud meninggalkan perayaan yang telah kalian buat dan aku sangat meminta maaf jika hingga saat ini kau masih belum benar menerimanya. Kau harus tahu benar kondisinya saat itu.

1 November menjelang tengah malam aku tiba di Kota A. Tidak ada tempat lain yang aku tuju kecuali di mana Sam berada. Dan itu mengindikasikan pada dua kemungkinan, aku pergi ke apartemen yang Sam singgahi atau gedung tempatnya bekerja. Dari sambungan telepon akhir-akhir sebelumnya aku tahu jika Sam selalu bekerja hingga larut belakangan itu. Jadi aku memutuskan untuk langsung pergi ke gedung tempat ia bekerja. Letaknya agak di tengah kota. Aku masih ingat betul bahwa ada perayaaan ulang tahun Kota A saat itu. Yang baru aku sadari akhir-akhir ini jika saat itu bertepatan dengan hari ulang tahunku.

Dan saat-saat itu terjadi dengan begitu cepat. Sam datang turun ke basement. Di belakangnya mengekor beberapa rekan. Aku menghambur memeluknya. Ia menyambut dengan muka datar. Sembari terus mendesis. “Nanti saja, aku akan menemuimu nanti.” Mata Sam menyalak. Aku tak peduli. Sebelum dua orang yang mengekorinya melepaskanku darinya-tidak hanya itu mereka bahkan mereka memitingku.

Dari belakang orang yang aku ketahui sebagai manajernya berteriak keras. “Kau masih bekerja, Sam. Mengapa wanita malammu datang terlalu cepat? Ayo, cepat selesaikan perkara kita!”

Demi mendengarnya, telingaku memanas seakan mau pecah. Aku tetap tertahan oleh dua orang bajingan yang mencengkramku. Dan demi perjalanan cinta menahun yang aku dan Sam bangun, aku memaki-maki semua kata-kata romantis yang pernah Sam sampaikan. Malam itu, tidak sedikit pembelaan pun keluar dari mulutnya.

***

Mungkin hingga kini masih tersinggung dengan apa yang disampaikan lelaki itu. Aku tidak melakukan pembelaan apapun. Dan itu akan terus menjadi penyesalan yang menghantuiku sebagai lelaki hingga akhir hayat. Tapi bukankah aku sudah mewanti-wanti padamu bahwa hari spesialmu itu tidak akan aku rayakan dengan cara apapun.

Bukan karena apa-apa, tapi memang harus seperti itu keadaannya. Yang meneriakimu saat itu adalah klienku, bukan manajer seperti yang mungkin kau duga. Dan aku-bahkan perusahaan konsultanku-sama sekali tidak pernah mengira akan mendapat klien seperti dirinya. Ia tidak hanya menawarkan uang sebagai imbalan jasa. Tapi juga mengancam nyawa jika apa yang ia minta tidak laku.

Siapa ia tidak akan aku perinci di sini. Yang terang setelah itu, aku berusaha memperbaiki hubungan kita-aku mengatakannya tulus kali ini. Aku berulang kali menghubungi-bolak-balik-mencoba menemuimu. Kau pada akhirnya menerima. Setelah kau terisak cukup lama.

“Tidak apa. Sungguh tidak apa. Ini hanya sebuah kesalahpahaman. Dan kita bisa memperbaikinya sedari awal,” katamu saat itu. Kau memberikan sebuah penerimaan. Penerimaan palsu!

Yang aku tahu setelahnya kau justru menerima kehadiran lelaki lain. Vandi-mu itu. Memataku membocorkan semuanya kepadaku. Aku saban malam menghubungimu lewat telepon. Kau mengabarkan seolah semuanya dalam keadaan baik. Hubungan kita hangat. Tapi aku tahu itu tidak tulen. Dan jangan kau kira upayaku untuk terus menghubungimu setiap malam untuk sekedar berkabar aku jalankan dengan penuh rasa. Setiap kali usai telepon aku tersedu mengingat aku tengah mengusahakan sesuatu yang betul-betul sia-sia. Betapa bodohnya aku! Aku baru benar menyadarinya sekarang.

Mungkin hingga akhir surat perpisahanku ini kau masih terheran memata apa yang aku kirim kepadamu hingga ia tahu segala duduk permasalahan yang ada. Yang harus aku tekankan sejak awal adalah aku mengutusnya bukan karena aku tidak percaya kepadamu. Mungkin kau bisa menilaiku sebagai lelaki yang ultra-posesif. Itu terserah. Ini semata karena aku yakin bahwa kepercayaan tanpa bukti nyata yang disaksikan penglihatan adalah pengkhianatan. Terima kasih untuk kau yang telah membuktikannya.

Percakapan di bawah ini mungkin bisa memberikan sedikit keterangan.

“Mengapa kau begitu menyukainya?”

“Kalungku? Tentu saja. Ini pemberian terakhir moyangku. Aku tidak akan melepaskannya.”

“Bandul biru permatanya sama sekali tidak terlihat indah. Bukannya lebih baik jika diganti dengan zamrud bermata hijau dari Rusia?”

“Aku juga sempat berpikir begitu.”

“Oh, baiklah.”

***

Fia serta merta melihat lehernya. Pandangannya terpaku terhadap kalung yang melingkar. Dengan tangan gemetar ia mencopotnya. Kemudian ia merutuki dirinya sendiri, bagai seorang bocah kecil yang dibohongi bahwa nasi bisa menangis jika tak habis padahal itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Berbulan-bulan ia silap jika kalungnya telah berubah bandul. Bandul hijau zamrud itu mengkilat-kilat seperti menertawainya. Fia mencengkram kepalanya dengan kesal. Mengantukkannya ke bawah dan atas.

“Argh…”

Dengan kesal, Fia menghujamkan keras-keras bandul hijau itu ke lantai. Mesin-mesin berukuran mikro langsung berhamburan dari dalamnya. Hangus.

Bip…bip…bip..

“Mati kau, sialan!” Fia menginjaknya tanpa ampun dengan hak tingginya. Tidak terdengar suara apa lagi setelahnya.

***

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Menikmati Horor di Siang Bolong dalam Midsommar

adminSeptember 26, 2019

PRIA: “Apakah Tuhan Telah Salah Memberikan Rasa Cinta?”

adminSeptember 26, 2019

Melodi Rindu

adminSeptember 20, 2019

Mau Menambah Ilmu di Luar Negeri? Yuk, Ikut PELTAC!

adminAugust 3, 2019

Mahasiswa Undip Ubah Minyak Jelantah dan Batuan Fosfat jadi Biodiesel

adminJuly 16, 2019

Mahasiswa Undip Ciptakan Kursi Roda Elektrik Menggunakan Gelombang Otak Yang Dilengkapi Sensor Medis Dan Berbasis IoT

adminJuly 16, 2019