Opini

BAGAIMANA KABAR AMDAL?

BAGAIMANA KABAR AMDAL?

 

Semarang, Momentum – Dibawah era Presiden Joko Widodo, Indonesia dipusatkan pada pembangunan fisik, yakni pembangunan infrastruktur secara massal dari Sabang sampai Merauke. Setiap pembangunan infrastruktur membutuhkan berbagai pertimbangan, dimulai dari perencanaan sampai evaluasi. AMDAL merupakan salah satu pertimbangan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

AMDAL merupakan kependekan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. AMDAL dikenalkan oleh National Environmental Policy Act di Amerika. Berdasarkan PP No. 27/1999, AMDAL merupakan sebuah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

Meskipun AMDAL menjadi suatu substansi yang diperlukan dalam pembangunan fisik,  AMDAL sering diabaikan demi kepentingan ekonomi. Hal ini terjadi karena jasa penilaian AMDAL dibebankan kepada pemrakarsa pembangunan. Kesadaran pemrakarsa pembangunan yang minim terhadap lingkungan hidup inilah mengakibatkan mereka enggan melakukan AMDAL terlebih dulu.

Sebenarnya pemerintah telah mengusahakan adanya AMDAL untuk setiap pembangunan. Namun, kualitas AMDAL masih perlu dievaluasi lagi. Hal ini pun diungkapkan oleh Ibu Wiwandari, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, “Pemerintah sudah mengikuti aturan yang ada terkait penyelenggaraan AMDAL. Namun, persoalannya bukan mengikuti AMDAL, tapi kualitas AMDAL. Jadi, seringkali AMDALnya ada, tetapi kualitas AMDAL tersebut belum,”ujarnya.

Kualitas AMDAL yang buruk tersebut bisa disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah sumber daya manusia dari pemerintah yang belum cukup memiliki kapasitas dalam melakukan pengawasan. Kedua, pengendalian dari lahan-lahan yang belum mempunyai AMDAL atau Law Enforcement yang sangat minim.

Universitas Diponegoro (Undip) dikabarkan terganjal persoalan AMDAL yang belum rampung. “Saya tidak berani memberikan statement formal mengenai AMDAL di Undip, silahkan tanyakan langsung ke Rektorat,” ujar Ibu Wiwandari.

Meskipun demikian, Bu Wiwandari tetap mendukung adanya peningkatan kualitas terkait dengan pengelolahan infrastruktur di Undip karena Undip sama sekali belum memperhatikan lingkungan sekitar. Hal ini diungkapkan melalui sebuah pernyataan, “Kalau terkait dengan limbah, sampah, atau infrastruktur di Undip lainnya, kita harus didorong dan sekarang udah ada Sustainable Development Goals (SDGs) melalui institusi masing-masing, termasuk Undip. Saya sangat mendukung Undip menjadi kawasan berwawasan lingkungan dan Undip mungkin belum ‘kenceng’ untuk mengarah kesitu,” ujar Ibu Wiwandari.

            Permasalahan AMDAL di Indonesia memang masih menjadi bahan yang tidak kunjung selesai. Konflik kepentingan lekat menyertai. AMDAL dan subtansinya masih perlu digalakkan kembali karena AMDAL berperan penting bagi keberlangsungan hidup umat manusia. (Momentum/Via Qurrotaaini dan Muhammad Fadel Dwi Nugraha)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Kondisi Kebebasan Pers Pada Lembaga Pers Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Posko Pengaduan UU Cipta Kerja, Cara Undip Menyerap Aspirasi Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Dilema Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

adminOctober 10, 2020

Polemik Kata “Anjay”

adminSeptember 21, 2020

Mahasiswa Baru: Keresahan Kaderisasi, Teman, dan Dosen Online

adminAugust 17, 2020

New Normal, Herd Immunity dan Segala Ketidakabsahannya

adminMay 31, 2020