Coretan Teknik

PRIA: “Apakah Tuhan Telah Salah Memberikan Rasa Cinta?”

PRIA: “Apakah Tuhan Telah Salah Memberikan Rasa Cinta?”

“Cepat! Ayo lari!”

Terdengar suara seorang wanita paruh baya, suara Ibu. Ia terus memintaku mempercepat langkah. Tidak tahu saja, jalan yang berlumpur dan semua barang ini membuatku kesulitan untuk melangkahkan kaki.

Aris, itulah namaku yang berarti seorang anak laki-laki yang lemah lembut. Hari ini adalah hari lamaranku dengan seorang gadis pilihan Ibu. Sejak SMA, Ibu selalu mencari apa arti cinta. Menurutnya, cinta hanya sebatas pertemuan sederhana antara dua insan Tuhan yang berbeda lalu menikah dan berkeluarga. Berbagai pertanyaan terus menyeruak, mengacaukan isi kepalaku.

“Apa itu cinta? Apakah cinta yang sebenarnya hanya sebatas pertemuan Adam dan Hawa? Apakah aku akan bahagia dengan menikahi gadis yang tidak ku cintai? Aku tidak yakin. Memang, apa definisi bahagia yang sesungguhnya?”

Hari itu, saat pertama bertemu dengan Mr. Peter, laki-laki berkebangsaan asing yang mengajar Bahasa Inggris di kelasku. Aku terkesima melihat potret yang diberikannya. Tampak dirinya berdiri di depan sebuah skyscraper. Pertemuan itu membuka pikiranku menembus segala sekat untuk menuju tak terbatas. Terbesit rasa ganjil yang menyenangkan saat ia menatap dan tersenyum.

Sebuah pikiran gila yang entah dari mana datangnya terlintas di kepala. Bagaimana jika aku menjadi seorang perempuan? Aku pasangkan kaos yang kupakai ke atas kepala seperti orang memakai wig. Cantik. Mengikuti alunan lagu yang mengalun di telinga, aku melenggokan badan. Rasanya menyenangkan.

Segala hal tentang pernikahan ini menjadi tempat bersorai para keresahan dan emosi yang kian memuncak. Aku muak. Muak dengan segala perkataan tentang “lelaki jantan” yang terus didengungkan oleh lelaki tua itu, calon mertuaku, juga muak dengan segala perlakuan yang aku dapatkan dari anak gadisnya, bahkan dari Ibu. Ia terus meyakinkanku bahwa menikah dengan gadis pilihannya akan membawa kebahagiaan. Pergolakan hebat terjadi di dalam hatiku. Ingin kusudahi saja pernikahan ini, tapi mana mungkin, aku hanya akan mengecewakan Ibu.

 “Tidak, Bu! Ibu tidak tahu apa yang aku rasakan! Ibu tidak lihat, tadi aku diapakan? Mereka mempermalukanku!” aku bahkan berani membentaknya.

Malam itu sunyi dan gelap. Dengan hanya sebuah lampu minyak di tangan, aku menyusuri jalan menuju suatu tempat, rumah Mr. Peter. Aku tidak tahu lagi harus kemana menumpahkan segala keresahan yang kian membuncah, rasanya seperti ingin meledak. Berada dengannya malam itu, memberikan perasaan hangat dan nyaman. Kalut dalam susasana, aku merasakan sentuhan hangat di bibirku. Dekapan hangat tubuhnya membuatku tidak ingin pergi. Semua keresahan dan kegelisahan seakan menguap, pergi bersama udara dingin kala itu. Inikah cinta yang sesungguhnya?

Aku tersadar, tidak mungkin aku meneruskannya. Aku tidak bisa membuat Ibu lebih kecewa. Apakah Tuhan telah salah memberikan rasa cinta?             Simak cerita selengkapnya melalui video di link berikut ini: https://youtu.be/0LWfaoP4J9k

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Menikmati Horor di Siang Bolong dalam Midsommar

adminSeptember 26, 2019

Melodi Rindu

adminSeptember 20, 2019

Mau Menambah Ilmu di Luar Negeri? Yuk, Ikut PELTAC!

adminAugust 3, 2019

Mahasiswa Undip Ubah Minyak Jelantah dan Batuan Fosfat jadi Biodiesel

adminJuly 16, 2019

Mahasiswa Undip Ciptakan Kursi Roda Elektrik Menggunakan Gelombang Otak Yang Dilengkapi Sensor Medis Dan Berbasis IoT

adminJuly 16, 2019

Mahasiswa Undip Berinovasi Menciptakan Biofoam dari Sorgum dan Daun Mangga Kering

adminJuly 16, 2019