Coretan Teknik

Pak Parman Enggan Bersalaman

Pak Parman Enggan Bersalaman

Sumber gambar : https://thedailyrecord.com/2014/05/28/thumbs-down-to-the-handshake/

Ada orang aneh di kampung kami. Namanya Suparman, orang-orang memanggilnya Pak Parman. Dipanggil ‘Pak’ karena usianya yang menginjak kepala empat. Perawakan tubuhnya juga seperti bapak-bapak kebanyakan. Kumis lebat, badan gempal, perut buncit, serta kepala botak. Namun, meskipun dipanggil ‘Pak’, Pak Parman sejatinya belum pernah menikah.

Yang aneh dari Pak Parman adalah perangainya yang lain daripada yang lain. Pak Parman enggan bersalaman. Benar, perjaka tua itu tak pernah mau berjabat tangan dengan siapa pun. baik dengan sesama bapak-bapak, ibu-ibu yang suka berbelanja sayur di pagi hari, anak-anak yang hendak berangkat sekolah, sampai guru-guru dan pemuka agama. Semua orang di kampungku enggan disalami olehnya.

Ingat sekali sepuluh tahun yang lalu, kali pertama Pak Parman datang ke kampung kami. Kala itu, sebuah mobil pick up warna hitam bergerak menanjak menuju kampungku. Warna hitamnya begitu mengkilap, sampai-sampai seluruh warga di kampungku meninggalkan pekerjaan mereka hanya untuk melihat mobil yang menurut kami mewah. Maklum, orang kampung seperti kami jarang sekali melihat kendaraan beroda empat. Mobil itu kemudian berhenti di depan rumah Pak Lurah. Lantas, keluarlah pria gembul berkepala botak bernama Pak Parman itu.

Begitu Pak Parman keluar, dari dalam rumah Pak Lurah tergopoh-gopoh menyambutnya. Pak Lurah kemudian mempersilahkan Pak Parman masuk ke rumahnya. Sekitar satu jam mereka berbincang di dalam. Warga di kampungku, terutama ibu-ibu yang tak memiliki banyak pekerjaan mengintai di depan rumah Pak Lurah. Mencuri dengar pembicaraan mereka. Bagi ibu-ibu itu, kehadiran orang asing di kediaman orang penting adalah bahan gosip paling panas.

Setelah berbincang, Pak Parman dan Pak Lurah keluar rumah. Mereka menuju mobil pick up yang terparkir di halaman depan rumah Pak Lurah. Pak Parman kemudian masuk ke dalam mobil, lalu keluar lagi dengan sebuah koper. Diletakkannya koper itu di kap mobil, lantas dibukanya. Betapa terkejutnya Pak Lurah, beserta ibu-ibu intelijen pencari bahan gosip, ketika dilihatnya koper tersebut berisi uang merah-merah, bertumpuk-tumpuk, berjejalan sesak di dalam koper.

Hal tersebut membuat gempar satu kampung. Berita tentang Pak Lurah, Pak Parman, dan uang satu koper itu bahkan terus diperbincangkan seminggu lamanya. Usut punya usut, Pak Parman ternyata membeli tanah Pak Lurah yang letaknya persis di samping rumahku. Tanah itu begitu luas, kadang dipakai olehku dan temanku untuk bermain bola.

Setelah kejadian jual-beli tanah yang menghebohkan itu, Pak Lurah melepas jabatannya. Ia membawa anak istrinya beserta sekoper uangnya dan pindah ke kota. Kata Pak Lurah, muak sudah ia tinggal di kampung kecil ini. Sedangkan Pak Parman, membangun istana megah di tanah yang dibelinya.

Ketika ada orang kaya, sudah umum di kampungku untuk mendekatinya dan menjilatinya. Berharap bahwa orang kaya itu akan menciprati selembar dua lembar uang merah. Orang pertama yang menjilat Pak Parman adalah Pak Rohan, Lurah pengganti. Pagi-pagi sekali, Pak Rohan menekan bel di pagar rumah Pak Parman. Pak Parman keluar, bertanya ada apa. Ternyata, Pak Rohan membawakan setandan pisang hasil kebunnya, bermaksud memberikannya kepada Pak Parman. Ketika Pak Rohan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Pak Parman menolak. Ia tak membalas jabatan tangan itu dan melenggang pergi masuk ke rumahnya tanpa menerima buah tangan Pak Rohan.

Itu adalah kali pertama Pak Parman enggan bersalaman. Awalnya, warga berpikir bahwa alasan Pak Parman enggan bersalaman dengan Pak Rohan karena Pak Rohan punya tujuan lain dibalik insiden pemberian pisang itu. Sampai pada akhirnya, beberapa warga yang berpikiran licik seperti Pak Rohan mulai mendatangi rumah Pak Parman. Mereka membawakan buah tangan aneka macam, dari mulai sekarung biji kopi, dua ekor kambing, bahkan ada yang membawa sekumpulan bebek. Harapan mereka satu, dekat dengan Pak Parman, dan kecipratan sedikit kekayaannya. Namun lagi-lagi, ketika mereka hendak bersalaman dengan Pak Parman, Pak Parman menolak. Sejak saat itu, satu kampung mengenal Pak Parman sebagai orang yang tidak mau bersalaman.

Tidak ada yang tahu apa penyebab utama perjaka botak itu enggan bersalaman. Yang jelas, ia benar-benar tidak mau menjabat tangan seseorang. Kala usai salat berjamaah, ketika orang-orang saling menyalami satu sama lain, Pak Parman bergeming. Ia memejamkan mata dan mengatupkan kedua tangannya seakan-akan menyembunyikan telapak tangannya dari telapak tangan orang lain. Kala hadir di acara kenduri, ketika yang lain bersalaman, cipika-cipiki, Pak Parman diam saja. Ia bersedekap, menyembunyikan tangannya dari ajakan salaman. Sangking enggannya bersalaman, sampai-sampai saat idul fitri, Pak Parman enggan berkeliling kampung untuk bersilaturahmi. Ia memilih tetap tinggal di istana megahnya sampai idul fitri berlalu dan orang-orang tak lagi saling bersalam-salaman.

Hal ini menimbulkan prasangka tersendiri di kalangan warga. Ada yang menduga bahwa Pak Parman enggan bersalaman karena ia punya penyakit menular. Namun, rasanya tidak mungkin. Badan Pak Parman memang gembul, tapi tak berbintik, tak juga punya bercak cacar, apalagi borok. Badannya tidak berbau busuk, dan ingusnya tidak mengalir keluar. Rasanya tidak mungkin jika Pak Parman punya penyakit menular yang membuatnya tak mau bersalaman.

Ada juga yang mengatakan bahwa Pak Parman sombong. Ia merasa terlalu mulia untuk warga kampung yang jelata. Prasangka ini, didukung oleh banyak warga. Pertama, karena Pak Parman datang ke kampung kami dalam keadaan yang bergelimang harta saat warga desa bahkan masih makan nasi sisa semalam. Rumah mewahnya, yang punya empat tiang di depannya, dengan atap berbentuk kubah, serta pekarangan mirip kebun bunga, nampak timpang dengan keadaan sekitar yang hanya berupa rumah gubuk berbahan anyaman bambu. Garasinya penuh sesak dengan dua mobil dan tiga buah motor, kala tetangganya bahkan masih pinjam-meminjam kendaraan. Yang terakhir, karena hobi Pak Parman yang suka sekali melancong ke luar negeri bahkan saat warga pergi ke sungai saja sudah dianggap pelesir.

Mungkin hal-hal tersebut membuatnya merasa lebih baik dari warga desa, sehingga ia merasa tak perlu bergaul, apalagi bersalaman dengan warga kampung.

Selama satu dekade, Pak Parman adalah orang paling terkenal di kampungku. Ibu-ibu lebih tertarik menceritakan tentang Pak Parman daripada Pak Lurah baru yang punya dua istri. Bapak-bapak lebih suka ngobrol tentang Pak Parman daripada membicarakan tentang hama padi atau hasil panen. Anak-anak lebih suka berlomba menyalami tangan Pak Parman daripada berlomba mengejar layangan putus.

Namun hari ini, warga dihebohkan dengan berita bahwa Pak Parman masuk rumah sakit. Pak Parman yang baru pulang dari luar negeri dua hari yang lalu, subuh tadi dibawa ambulans ke rumah sakit. Katanya, ia batuk-batuk sampai sesak napas. Awalnya warga tidak peduli, apa untungnya peduli pada orang yang bahkan tidak mau berjabat tangan dengan sesamanya. Sampai seminggu kemudian, warga mulai kehilangan sosok yang paling terkenal di kampung itu. Ibu-ibu tak lagi bisa menggosip tentang Pak Parman, bapak-bapak tak lagi bisa berdiskusi tentang Pak Parman, dan anak-anak tak bisa berlomba menyalami tangan Pak Parman.

Akhirnya, kami semua sepakat untuk menjenguk konglomerat itu. Jarak antara kampung kami dengan rumah sakit sangat jauh. Kami berada di lereng gunung, sedangkan rumah sakit berada di tengah kota. Akses jalan menuju kota juga sangat buruk. Menanjak, turun curam, licin berlumut, berlumpur, berlubang, pokoknya sangat sulit dilalui. Namun demi orang yang enggan bersalaman itu, yang selalu kami gosipkan, yang selalu kami gunjing, yang tanpa sadar telah menjadi bagian dari kami, kami rela menyewa sebuah mobil bak terbuka untuk ke rumah sakit.

Pagi hari sebelum berangkat ke rumah sakit, kami dikejutkan oleh bunyi sirene ambulans. Kami pikir Pak Parman sudah sembuh dan kembali pulang. Nyatanya, kami malah mendapat kabar bahwa Pak Parman telah tiada. Dua petugas rumah sakit yang datang menjelaskan kepada kami bahwa Pak Parman terjangkit sebuah virus yang membuatnya sesak napas. Virus tersebut didapatnya dari luar negeri dan sangat cepat menular. Penularannya bisa melalui kontak fisik seperti bersalaman, atau berkumpul. Virus ini sangat berbahaya karena bisa menyebabkan kematian.

Kepada kami, dua petugas rumah sakit itu menjelaskan bahwa penting sekali kami menjaga jarak antar sesama. Bukan dalam artian tak boleh bersalaman, tak boleh berkumpul, atau melakukan kegiatan bersama. Kami tetap boleh melakukan itu semua, asal kan dalam keadaan yang sangat terpaksa. Petugas rumah sakit juga mengimbau kepada kami bahwa kami harus sering mencuci tangan kami, terlebih kebiasaan warga desa yang sangat suka bersalam-salaman.

Dua petugas rumah sakit itu juga menuturkan tentang Pak Parman. Pak Parman ternyata meninggal dua hari yang lalu. Jasadnya dikebumikan di sebuah pemakaman yang letaknya tidak di desa kami. Perihal rumahnya, katanya akan ada petugas kebersihan yang datang dan membersihkan rumah Pak Parman. Setelah itu, rumah Pak Parman akan dihibahkan sebagai balai desa. Dalam wasiat terakhirnya, Pak Parman juga menghibahkan sebagian hartanya untuk membeli sabun anti kuman dan masker, yang nantinya akan dibagikan kepada seluruh warga desa.

Warga desa sedikit kecewa, sosok terkenal yang hidup berdampingan bersama mereka telah tiada. Sosok yang tadinya dianggap sombong, tak ingin bergaul dengan rakyat jelata, kini menjelma menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Tak akan ada lagi ibu-ibu duduk berkumpul di serambi depan rumah sambil membicarakan tentang Pak Parman. Tak akan ada lagi bapak-bapak duduk di warung kopi sambil membicarakan Pak Parman. Tak akan ada lagi anak-anak yang berlomba menyentuh telapak tangan Pak Parman. Tak akan ada lagi Pak Parman yang enggan bersalaman.

Setelah mengedukasi warga desa, satu petugas rumah sakit mendatangiku dan mengatakan “Aku heran, kampung ini begitu kecil, dengan interaksi yang begitu kental. Kampung ini sangat besar kemungkinannya tertular Pak Parman. Tapi anehnya, tidak ada satu pun yang menunjukkan gejala-gejala terjangkit virus ini.”.

Aku tersenyum mendengar penuturan petugas rumah sakit tersebut. Hal itu terjadi selain karena campur tangan Tuhan, juga karena Pak Parman yang enggan bersalaman.

Penulis : Gunawan

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Coretan Teknik

Kabar Subsidi Kuota Undip setelah Bantuan Kuota Kemdikbud Turun

adminOctober 7, 2020

Jurnal Yang Tertinggal

adminOctober 3, 2020

Prank Spaghetti BCC, Britania Raya Heboh !

adminSeptember 25, 2020

Pelaksanaan UKM Expo Undip Ditengah Pandemi

adminSeptember 14, 2020

Mungkin Bumi Cendrawasih Lahir Ketika Tuhan Sedang Cemberut: Sebuah Esai Tentang Kemiskinan, Ketimpangan dan Kegagalan Memahami Masyarakat Papua

adminSeptember 12, 2020

Mungkin Bumi Cendrawasih Lahir Ketika Tuhan Sedang Cemberut: Sebuah Esai Tentang Kemiskinan, Ketimpangan dan Kegagalan Memahami Masyarakat Papua – Bagian 4

adminSeptember 6, 2020