Opini

Kebijakan Tutup Pintu Saat Lebaran

Kebijakan Tutup Pintu Saat Lebaran

Sumber gambar: tribunnews.com

Semarang, Momentum─ Tradisi silaturahmi dan saling berkunjung sudah sejak lama menjadi bagian dari masyarakat Indonesia saat Idulfitri. Namun bagaimana jadinya jika hari raya bertepatan dengan maraknya pandemi Covid-19 yang menuntut kita untuk menjaga jarak dengan sekitar?

Baru-baru ini muncul sebuah usulan dari Camat Kalidawir, Tulungagung, Jawa Timur untuk menutup pintu rumah saat Idulfitri guna menghindari perkumpulan tanpa protokol pencegahan Covid-19. Sebagai gantinya, silaturahmi dilakukan secara virtual di rumah masing- masing.

Tindakan ini bukan berarti memutus tali silaturahmi. Masyarakat masih bisa silaturahmi secara virtual dengan telepon, SMS, WA, maupun video call. Gerakan tutup pintu berlangsung selama 3 hari pertama hari raya Idul Fitri. Diharapkan dengan adanya kebijakan ini masyarakat tidak menimbulkan kerumunan dan mengurangi potensi penyebaran Covid-19. 

Kebijakan ini dibuat sebab perilaku masyarakat Indonesia yang enggan mematuhi aturan pemerintah dalam rangka penanganan Covid-19 seperti jaga jarak saat di keramaian dan sebagainya. Bahkan tak jarang masyarakat melanggar aturan-aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) lainnya yang membuat pemerintah harus membuat aturan lain yang lebih ketat untuk menangani penyebaran virus ini.

Pendapat mengenai kebijakan tutup pintu saat lebaran ini juga selaras dengan pendapat Menteri Agama RI, Fachrul Razi. Fachrul Razi mengatakan, “Mungkin tamu yang datang membawa virus, karena banyak sekarang orang tanpa gejala.” Ia juga menambahkan bahwa silaturahmi bisa dilakukan secara daring lewat media sosial tanpa mengurangi nilai ibadah.

Merayakan hari raya memang tidak lengkap dan tidak akan sama bila tidak berkumpul bersama dan saling bersalaman memohon maaf. Hal ini juga diungkapkan oleh seorang sosiolog UI, Bayu Yulionto.

“Karena silaturahmi virtual tidak bisa menggantikan tatap muka,” ucap Bayu.

Tentunya kebijakan ini merupakan hal baru dan sulit dilakukan bagi sebagian orang yang memang sering berkumpul bersama saudara di hari raya. Akan tetapi, kesadaran akan melindungi diri dan orang lain perlu ditanamkan. Kebijakan ini dilakukan semata-mata agar mengurangi potensi penyebaran virus dan kita semua dapat kembali berkumpul bersama kedepannya.

Penulis : Tiur dan Tita

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

New Normal, Herd Immunity dan Segala Ketidakabsahannya

adminMay 31, 2020

Suara BEM-U Atas Surat Edaran Penyesuaian UKT

adminMay 13, 2020

Hasil Audiensi Bersama Rektorat: Polemik Subsidi Kuota

adminMay 6, 2020

Penerapan Kebijakan Kuliah Online oleh Universitas Diponegoro

adminMay 6, 2020

KAMPUS “ANTI-KRITIK”

adminMay 3, 2020

Cukup Adilkah Pemberian Subsidi Kuota ?

adminApril 3, 2020