Opini

New Normal, Herd Immunity dan Segala Ketidakabsahannya

New Normal, Herd Immunity dan Segala Ketidakabsahannya

Sumber: https://www.instagram.com/sya_sarofah

Semarang, Momentum – Wacana New Normal mulai digilir oleh Pemerintah Indonesia. Istilah aneh tersebut menimbulkan polemik dan beragam komentar dari berbagai kalangan dan praktisi. Bagaimana tidak, New Normal disebut-sebut hanyalah pengganti manis dari istilah Herd Immunity. Memangnya, ada apa dengan Herd Immunity?

Herd Immunity bak hukum rimba, siapa yang kuat, dia yang menang. Herd Immunity atau kekebalan kelompok sebagai langkah untuk perlindungan tidak langsung dari Covid-19 yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui infeksi sebelumnya atau vaksinasi, sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi.

Bentuk nyata Herd Immunity bisa terlihat di Negara Swedia. Negara tersebut gagal dalam menerapkan Herd Immunitynya. Alih-alih ingin meningkatkan kekebalan warganya dari Covid-19, justru korban meninggal terus berjatuhan hingga hampir menempatkan negara tersebut menjadi negara dengan tingkat kematian tertinggi se-Eropa Utara. Hanya 7,3% yang mampu mengembangkan antibodi terhadap virus tersebut.

Pembukaan pusat perbelanjaan dan olahraga adalah salah satu bentuk wacana yang masuk dalam New Normal tersebut. Pembukaan tersebut dikhawatirkan akan menjadi episentrum penyebaran Covid-19. Namun, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, memberikan pernyataannya mengenai New Normal di Istana Merdeka bahwa,

“Kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi wabah risiko wabah ini, itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai New Normal atau tatanan kehidupan baru.”

Indonesia seharusnya bisa berkaca dari kebijakan New Normal yang diterapkan di Korea Selatan. Setelah nyaman dalam kurva Covid-19 yang terus melandai, Korea Selatan melakukan kebijakan New Normal untuk memulihkan kegiatan ekonominya. Namun, selang beberapa minggu setelah penerapan kebijakan tersebut, gelombang kedua Covid-19 kembali datang. Alhasil, Pemerintah Korea Selatan terpaksa memperketat kembali pembatasan yang sebelumnya telah dilakukan.

Sebab itu, layakkah Indonesia menerapkan kebijakan New Normal saat ini? Salah satu netizen Quora, mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Muhammad Ulul Arham, di Universitas Airlangga mempertanyakan kebijakan tersebut,

“Saya tidak tahu pola pikir masyarakat Indonesia seperti apa terkait Covid-19 ini. Saya pun tidak ingin mengkritisi kebijakan pemerintah. Saya hanya ingin menjelaskan tentang Herd Immunity. Dan apabila pemerintah benar menerapkan Herd Immunity di Indonesia via jalur infeksi, maka Indonesia akan kehilangan sila keduanya. Kemanusiaan yang adil dan beradab berarti tiada.”

Normal atau Herd Immunity, dalam istilah lain, memberikan banyak polemik. Pemerintah Indonesia berada dalam situasi serba salah. Sementara masyarakat Indonesia sedang berada pilihan pelik, mati oleh virus Covid-19 atau mati dalam keadaan keadaan kesengsaraan ekonomi. Tidak pernah ada pilihan bagus. Sekarang, hanyalah sebuah ketidakabsahan dari New Normal saja.

Penulis : Muhammad Fadel Dwi Nugraha

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Dilema Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

adminOctober 10, 2020

Polemik Kata “Anjay”

adminSeptember 21, 2020

Mahasiswa Baru: Keresahan Kaderisasi, Teman, dan Dosen Online

adminAugust 17, 2020

Kebijakan Tutup Pintu Saat Lebaran

adminMay 27, 2020

Suara BEM-U Atas Surat Edaran Penyesuaian UKT

adminMay 13, 2020

Hasil Audiensi Bersama Rektorat: Polemik Subsidi Kuota

adminMay 6, 2020