Isu

Walau Patuh Protokol Kesehatan, Aksi Damai Tak Diizinkan Memasuki Area Kampus

Walau Patuh Protokol Kesehatan, Aksi Damai Tak Diizinkan Memasuki Area Kampus

Sumber : Saefana -Momentum

            Semarang, Momentum – Di tengah masa pandemi, polemik UKT belum kunjung berakhir. Beberapa pekan terakhir mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Suara Undip (ASU) terus menyalurkan aspirasi untuk meluapkan berbagai keresahan, kemarahan, dan kekesalan mereka kepada kampus. Kamis (16/07), aksi massa yang dinamai dengan “Senja Widya Puraya” terpaksa dilakukan di luar rencana. Pasalnya aksi tidak diperbolehkan memasuki area kampus.

            Dikarenakan hal di atas, aksi yang rencananya dilakukan pada pukul 13.00 WIB ini harus mengalami kemunduran jadwal. Diketahui masa mulai bergerak dari stadion menuju Undip sekitar pukul 15.00 WIB. Karena tertahan di bundaran Undip, mereka terpaksa melakukan aksinya di depan palang pembatas yang dijaga oleh beberapa satpam serta polisi yang bertugas menjaga keamanan.

Aksi damai yang tujuannya menyuarakan tujuh gugatan mahasiswa Undip (Tugu Masa Undip) ditolak memasuki kawasan Undip karena wabah Covid-19. Padahal aksi tersebut telah direncakan secara penuh dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Tugu Masa Undip sendiri berisi tujuh poin tuntutan utamanya dari rasa kecewa mahasiswa mengenai pembayaran UKT secara penuh di masa pandemi ini, walaupun aksi tak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Namun, aksi massa tersebut tetap dilanjutkan demi tetap tersalurkannya aspirasi mahasiswa.

Dikutip dari instagram “aliansisuaraundip” ada beberapa protokol kesehatan yang wajib diikuti oleh peserta aksi seperti penggunaan pakaian panjang, masker, sepatu dan lain sebagainya. Pembagian hand sanitizer (disemprotkan), sarung tangan, serta air minum kemasan juga dibagikan oleh panitia selama aksi berlangsung, tak lupa seruan pengingat untuk menjaga jarak dilakukan secara berkala.

            Aksi damai yang berlangsung pada Kamis (16/07) sebenarnya dibungkus secara berbeda dari aksi – aksi sebelumnya. Aksi damai ini dikemas dalam bentuk pementasan seni teater yang berisi berbagai kegiatan mulai dari pidato, pembacaan puisi, lantunan beberapa lagu yang diiringi alat musik bertemakan mahasiswa, serta pembuatan mural yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa Undip dari berbagai angkatan di Bundaran Undip. Di penghujung aksi ini,  pemberian plakat serta surat undangan audiensi terbuka yang ditunjukkan ke rektor diterima oleh ajudannya karena sang rektor tidak dapat hadir tanpa alasan yang jelas. Aksi ini ditutup dengan menyanyikan lagu dari Efek Rumah Kaca yang berjudul “Di Udara” oleh segenap peserta aksi di sore itu.

            Belum berhenti di situ, seruan aksi online dilakukan pada Jumat (17/7) pukul 17.00 WIB bertepatan pada hari Keadilan Internasional. Aksi online ini dilakukan dengan penggunaan twibbon dan caption yang diposting serentak pada sosial media pribadi mahasiswa. Twibbon dan caption ini dapat diunduh dari postingan OA Line Aliansi Suara Undip. Oleh karena itu, seluruh mahasiswa Undip dari segala kalangan bisa mengikuti aksi online ini agar Tugu Masa Undip semakin didengar dan melenyapkan berbagai curahan pembelaan dari rektor.

Penulis : Siska dan Veve

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Isu

More in Isu

Surat Perjanjian Telah Dibuat, Pelaku Masih Gencar?

adminSeptember 12, 2020

Mari Berkunjung Ke Rumah Baru Mahasiswa Vokasi Undip

adminSeptember 10, 2020

Tuduhan Gay ke Beberapa Mahasiswa Elektro Undip, Kahim Elektro: Itu Hoax!

adminSeptember 6, 2020

Kampus Merdeka: Program Bela Negara Pendidikan Militer Di Lingkungan Akademi, Apakah Diperlukan?

adminSeptember 1, 2020

Dilema Subsidi Kuota yang Belum Merata

adminAugust 25, 2020

Aktivis Mahasiswa Undip Diteror Akun Tak Dikenal

adminAugust 24, 2020