Coretan Teknik

Mahasiswa KKN UNDIP Ajak Masyarakat Bayalangu Lor Berbisnis Dan Membuat Ecobrick Di Era New Normal

Mahasiswa KKN UNDIP Ajak Masyarakat Bayalangu Lor Berbisnis Dan Membuat Ecobrick Di Era New Normal

(sumber : dokumentasi pribadi)

Bayalangu Lor (18/7) mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Tim II melakukan sosialisasi mengenai peluang bisnis yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghadapi era new normal agar dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Kegiatan ini dilakukan secara door to door kepada masyarakat di Desa Bayalangu Lor dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat, diketahui bahwa tidak sedikit masyarakat yang terdampak secara ekonomi dengan adanya Covid-19. Banyak masyarakat yang ingin memulai berbisnis namun mereka tidak mengetahui apa yang harus dipersiapkan. Masyarakat masih banyak yang belum mengetahui seperti apa dan bagaimana strategi pemasaran dalam suatu bisnis. Adanya sosialisasi mengenai peluang bisnis dan strategi bisnis yang efektif di era new normal  membuat masyarakat mulai terinspirasi untuk membuat bisnis. Ide bisnis yang saya berikan dalam sosialisasi yaitu frozen food, jus sehat dan minuman herbal, katering sehat dan online shop kebutuhan sehari-hari.

Pada awalnya strategi pemasaran yang biasa digunakan adalah 4P yang terdiri atas Product, Price, Place dan Promotion. Sedangkan saat ini para pebisnis telah menggunakan strategi pemasaran baru yaitu 4C yang terdiri atas Costumer, Cost, Convenience dan Communication. Strategi pemasaran ini diharapkan akan lebih efektif karena berfokus pada pemasaran, penjualan produk dan komunikasi target pelanggan.

Program selanjutnya yaitu mengenai zero waste plastic, pada program kedua ini mahasiswa KKN membuat poster dan booklet mengenai jenis-jenis sampah, pemilahan sampah dan cara membuat ecobrick. Proses pembuatan ecobrick dilakukan bersama anak-anak dan remaja di sekitar rumah. Menurut mereka cara membuat ecobrick ini cukup mudah dan cukup mengurangi sampah yang ada. Untuk membuat 40 botol ecobrick, dibutuhkan kurang lebih 1 karung ukuran 25 kg kain perca.

“Hasilnya bagus banget, bisa bikin cantik ruangan di rumah “ ujar salah satu remaja yang ikut serta dalam pembuatan ecobrick.

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Langkah pertama untuk membuat ecobrick adalah dengan menyiapkan alat dan bahan, seperti botol bekas, kain perca, lem tembak dan gunting. Kain perca bisa diganti dengan sampah plastik sedangkan untuk botol bekas, ukuran dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Setelah menyiapkan alat dan bahan, bersihkan dan keringkan botol bekas dengan dijemur di bawah sinar matahari kurang lebih selama 3 jam. Setelah kering, masukkan kain perca ke dalam botol dan padatkan dengan tongkat kayu yang ukurannya lebih panjang agar tidak terdapat rongga di dalam botol tersebut. Ulangi langkah memasukkan kain perca tersebut sampai jumlah yang diinginkan terpenuhi. Untuk membuat 1 buah kursi kecil, dibutuhkan 19 ecobrick yang ditempelkan satu sama lain dengan menggunakan lem tembak. Bentuk kursi dapat dibuat dengan berbagai variasi sesuai dengan keinginan masing-masing.

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala desa, sampah memang permasalahan yang dilematis di desa Bayalangu Lor. Pada awalnya masyarakat seringkali mengeluhkan mengenai tempat pembuangan sampah dan petugas kebersihan yang belum ada. Namun saat ini tempat sampah dan petugas kebersihan telah ada untuk mengangkut sampah-sampah dari rumah warga di setiap pagi sehingga lingkungan menjadi lebih bersih. Sampah tersebut nantinya akan dibakar. Apabila sedang musim hujan, jumlah pembakaran akan lebih banyak karena kondisi sampah yang basah dan masyarakat menjadi lebih konsumtif.

Kepala desa sebenarnya telah merencanakan beberapa program untuk menangani sampah, namun hal tersebut belum terlaksana karena masyarakat yang membutuhkan edukasi mengenai sampah ini. “Kalau misalnya masyarakat sudah dapat melakukan pemilahan sampah dari rumah, itu sangat membatu kami dan para petugas kebersihan khususnya dalam mengolah sampah.” ujar kepala desa. Program yang sudah direncanakan oleh pemerintah desa diantaranya ada pengolahan menjadi pupuk kompos, bank sampah dan kerajinan dari sampah. Semoga dengan adanya sosialisasi mengenai zero waste dan pemilahan sampah serta pembuatan ecobrick secara bersama, masyarakat dapat memulai zero waste lifestyle dan lebih peduli terhadap lingkungan.

Penulis : Evita Gallantry

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Kabar Subsidi Kuota Undip setelah Bantuan Kuota Kemdikbud Turun

adminOctober 7, 2020

Jurnal Yang Tertinggal

adminOctober 3, 2020

Prank Spaghetti BCC, Britania Raya Heboh !

adminSeptember 25, 2020

Pelaksanaan UKM Expo Undip Ditengah Pandemi

adminSeptember 14, 2020

Mungkin Bumi Cendrawasih Lahir Ketika Tuhan Sedang Cemberut: Sebuah Esai Tentang Kemiskinan, Ketimpangan dan Kegagalan Memahami Masyarakat Papua

adminSeptember 12, 2020

Mungkin Bumi Cendrawasih Lahir Ketika Tuhan Sedang Cemberut: Sebuah Esai Tentang Kemiskinan, Ketimpangan dan Kegagalan Memahami Masyarakat Papua – Bagian 4

adminSeptember 6, 2020