Coretan Teknik

Jurnal Yang Tertinggal

Jurnal Yang Tertinggal

Sumber: www.teachingenglish.org.uk

Rabu, 30 September 2020 adalah tenggat waktu terakhir pengiriman kuota pendidikan dari Kemdikbud yang sudah dijanjikan dari jauh – jauh hari tapi baru mulai masuk di minggu kelima perkuliahan. Sedikit telat memang, tapi yoweslah pemerintah negara ini sudah terlalu banyak melakukan hal – hal konyol selama setahun terakhir jadi satu kebijakan yang lumayan bagus kadang patut diapresiasi. Total kuota 50 gb per mahasiswa tentu saja bikin ngiler untuk segera nonton netflix eh maaf ikut kuliah online maksudnya.

Seperti yang kita tahu,  dari total 50 gb kuota yang diberikan rinciannya dipecah menjadi 45 + 5 gb. 45 gb dapat digunakan untuk mengakses website pendidikan, aplikasi video conference, serta situs kampus & situsKemdikbud. Sedangkan 5 gb dapat digunakan untuk membuka apa saja, terserah silahkan kalau mau akses instagram, twitter, fantasy premier league, nekopoi, dll. Oiya, untuk website pendidikan sendiri ada 19 alamat situs dalam daftar rilisan Kemdikbud (kuota-belajar.kemdikbud.go.id) termasuk diantaranya adalah WhatsApp.

Nah, disinilah letak permasalahannya. Dari kesembilan belas alamat situs itu tidak ada satupun yang merupakan alamat situs jurnal ilmiah. Padahal bagi mahasiswa tingkat akhir seperti saya, membuka situs jurnal – jurnal ilmiah sudah jadi makanan sehari – hari. Ditambah lagi, dosen pengajar maupun pembimbing selalu menuntut referensi dari jurnal internasional bereputasi seperti Scopus atau ScienceDirect. Jangankan jurnal internasional bereputasi, untuk mengakses neliti.com pun juga perlu kuota dong.

Mencari bahan bacaan di jurnal intersional bukanlah sesuatu yang mudah. Berbeda dengan mesin pencari Google yang apabila anda melakukan pencarian dengan keyword ‘bakso enak’ akan langsung muncul daftar sekaligus lokasi bakso enak di sekitar anda, jurnal internasional tidak demikian. Anda perlu menggunakan keyword setepat mungkin agar langsung menemukan judul yang sesuai dengan tema penelitian. Tentu kuota yang diperlukan tidak sedikit jumlahnya. Saya sendiri mencari literatur mengenai kategori ‘Marginalized Communities’ saja belum jua bertemu. Hehe jadi curhat, tolong saya kalau ada yang bisa menemukan selain dari Badshah, thx.

Saya tidak tahu ya, tapi masa iya satu gedung kemdikbud yang letaknya dekat dengan Teater JKT48 itu pegawainya semuanya lupa jika universitas adalah institusi keilmuan. Tentu sebagai institusi ilmiah, kegiatan riset adalah hal mutlak dan itu membutuhkan akses ke sebanyak mungkin judul artikel jurnal. Undip sendiri bahkan sudah berlangganan beberapa jurnal internasional bereputasi sehingga mahasiswanya bisa mengurangi penggunaan SciHub untuk bisa mengakses jurnal secara gratis.

Menjadi lebih lucu mengingat dari 19 situs tersebut terdapat beberapa website pendidikan yang merupakan bimbel online. Kemdikbud seperti terinsipirasi dari ungkapan “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” dengan membuka akses seluas mungkin ke sumber pembelajaran non-formal sekaligus menjadi makelar bimbel online. Mungkin itu hal yang bagus & tidak salah juga untuk mempromosikan produk pendidikan alternatif (lah udah kaya dukun), tapi itu untuk pelajar SD sampai SMA dan bukan untuk mahasiswa.

Dengan memecah kuota saja sudah mengindikasikan bahwa Kemendkbud semacam mempunyai trust issue ke mahasiswa. Kemendikbud berpikir jika tidak dipecah kuota justru lebih banyak digunakan untuk menonton film ataupun bermain game. Hey hey hey saya sendiri belajar bahasa asing, sejarah, dan kulturnya malah dari game dan film yang saya tonton. Salah satu platform bimbel online yang bisa diakses dengan kuota 45 gb –yang kebetulan waktu SMA saya gunakan- bahkan menyarankan penggunanya untuk menonton film setidaknya seminggu sekali.

Saya berharap sekali Kemdikbud segera memasukan dua atau tiga situs jurnal intersional kedalam daftar situs yang dapat diakses dengan kuota pendidikan 45gb. Bahkan mungkin hal ini jangan hanya jadi harapan, tapi juga kenyataan apabila Kemdikbud benar – benar ingin mewujudkan pendidikan yang adil. Kebutuhan membaca artikel ilmiah sebetulnya bukan hanya kebutuhan mahasiswa tingkat akhir seperti saya, tetapi seharusnya juga seluruh mahasiswa di segala tingkat. Apalagi kampus – kampus yang dalamnya visinya berkata akan mengedepankan riset.

Oh iya, sebaiknya Spotify dimasukan juga ke daftar karena nugas tanpa mendengarkan musik itu ngga asik bos!

Ditulis oleh: Valian Aulia P

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Review Novel Crying Winter

adminNovember 25, 2020

Keberlanjutan UKT Undip

adminNovember 16, 2020

Aksi Boikot Produk Prancis

adminNovember 16, 2020

Depresi Besar Amerika “Tanpa Sengaja” Menciptakan Tren Pakaian dari Bahan Karung

adminNovember 2, 2020

Kabar Subsidi Kuota Undip setelah Bantuan Kuota Kemdikbud Turun

adminOctober 7, 2020

Prank Spaghetti BCC, Britania Raya Heboh !

adminSeptember 25, 2020