Pojok Semarang

Semarang Contemporary Art Gallery Bercerita

Semarang Contemporary Art Gallery Bercerita

Sumber: tripsia.id

Semarang, Momentum – Manusia tumbuh dan menua, menemukan hal baru sementara juga kehilangan sesuatu, apa yang tersisa? Berbeda dengan sebuah lokasi, banyak cerita yang tersaji di setiap sudutnya tanpa harus kehilangan sesuatu darinya. Kawasan Kota Lama menjadi representasi yang sesuai untuk frasa tersebut.  Jalan Taman Srigunting No 5-6 adalah salah satu lokasi di Kota Lama yang menyimpan banyak cerita perjalanan bangunan di atasnya.

Perjalanannya dimulai tahun 1822, bangunan pertama yang berdiri disana adalah rumah Pastur L. Prinsen yang juga dimanfaatkan sebagai tempat ibadah umat Katolik sebelum berdirinya Gereja Gedangan. Fase berikutnya, tahun 1918 rumah pastur berganti kepemilikan dan diruntuhkan menjadi gedung bergaya Spanish colonial. Tahun 1937, gedung tersebut membawa cerita sejarah bagi Indonesia, yakni sebagai perusahaan asuransi pertama di Indonesia milik Oei Tiong Ham dengan nama De Indische Llioyd.

Tahun berganti, kepemilikan berganti, semakin banyak cerita lahir dari gedung yang terletak di belakang Spiegel Bar & Bistro ini. Beralih fungsi menjadi gudang, dealer motor, kantor perusahaan farmasi Tempo hingga berfungsi sebagai pabrik sirup Fresh. Tahun 2007, ketika kepemilikan bangunan dipegang oleh Chris Darmawan, cerita baru lahir dan dari sinilah perjalanan panjang bagunan ini terekam di dalamnya.

Sekarang, mari kita beranjak dan bercerita dengan sudut pandang galeri seni ini.

Halo, aku kini adalah galeri seni kontemporer. Aku mulai dikunjungi orang orang di tahun 2008. Mereka tertawa bersama jenis mereka, berpikir keras hingga ada juga yang berbicara pada dirinya sendiri. Itu kalian bukan?

Baik, selanjutnya aku akan mengenalkan bagian diriku. Aku terdiri dari dua lantai. Lantai pertamaku berisikan lukisan-lukisan dan beberapa patung kecil. Di lantai ini, kalian bisa menyaksikan perjalananku hingga menjadi seperti sekarang.

Naik ke lantai dua, lantai ini lebih luas dengan karyanya yang lebih variatif, seperti patung dan karya seni lain non lukisan. Aku dengar manusia menyukai konflik ya? Nah kalian bisa menyaksikan konfik suatu negara di lantai ini, karena ada banyak karya yang lahir sebagai kritik terhadap pemerintah yang ditampilkan di lantai ini. Setiap tiga bulan tema seni akan diganti.

Konsep bangunanku minimalis berwarna dominan putih dan tubuhku tidak mengandung semen lho, sehingga Pak Chris sangat perhatian dalam perawatanku. Bahan yang mendominasi galeri adalah kayu dan kaca. Setiap harinya aku mulai menyapa manusia dari pukul 10.00 hingga enam jam ke depan. Pesanku untuk teman-teman yang akan mengunjungiku, kalian harus membuang sampah ke tempat sampah ya. Terimakasih. (Momentum/Idha)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pojok Semarang

More in Pojok Semarang

Mengingat Kembali Festival Buku Keliling Tahunan Patjar Merah

adminOctober 15, 2020

Kota Lama, Seribu Makna

adminOctober 3, 2020

Bukit Cinta Tempat Eksis Muda Mudi Menikmati Senja

adminOctober 1, 2020

Wisata Dusun Semilir, Meluncur diatas Pelangi Hingga Nuansa Khas Eropa

adminOctober 1, 2020

Eling Bening, Wisata Alam Modern

adminSeptember 26, 2020

Semakin Mendunia, Kampung Pelangi Semarang Terus Berbenah Diri

adminSeptember 6, 2017