Coretan Teknik

Depresi Besar Amerika “Tanpa Sengaja” Menciptakan Tren Pakaian dari Bahan Karung

Depresi Besar Amerika “Tanpa Sengaja” Menciptakan Tren Pakaian dari Bahan Karung

(Source: https://ameripics.wordpress.com/category/world-war-2/)

Semarang, Momentum – Depresi Besar (The Great Depression) atau yang biasa disebut “Krisis Malaise” merupakan krisis perekonomian yang pernah melanda Amerika pada abad 20. Peristiwa ini dimulai dari peristiwa “Black Tuesday,” yaitu peristiwa jatuhnya bursa saham New York pada tahun 1929. Indeks saham jatuh, tingkat pengangguran meroket, jutaan orang dibiarkan tanpa pendapatan, dan kejadian buruk perekonomian lain pun terjadi selama 10 tahun pada masa jabatan pemerintahan dipimpin oleh Herbert Hoover.

Walaupun mimpi buruk ini terjadi, masyarakat masih harus memberi makan keluarga mereka. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka pun harus berpikir kreatif. “Memperbaiki, menggunakan kembali, membuat, dan tidak membuang apa pun” merupakan moto selama era Depresi Besar. Pada saat itu, tepung, kentang, dan pakan ternak dijual dengan karung berbahan katun. Para wanita pun mulai mendaur ulang karung tersebut untuk diubah menjadi pakaian serta barang-barang rumah tangga. Karung pun diubah menjadi gaun, tirai, handuk, popok, dan lain sebagainya.

Akhirnya banyak pabrik yang menaruh perhatiannya pada hal itu. Mereka mulai mendekorasi karung mereka dengan pola-pola yang cantik. Pabrik pun menyewa desainer tekstil terbaik untuk merancang cetakan kain yang beragam. Terkadang karung juga memiliki pola potong untuk pakaian atau mainan anak-anak. Toko sembako pun berubah menjadi toko kain bagi masyarakat dalam waktu singkat.

Untuk membuat sesuatu yang berbeda, para ibu rumah tangga mengecat karung mereka dan melepas label logo pabriknya. Mereka juga mendekorasi gaun buatannya dengan menambahkan pita, kancing, hingga sulaman. Bahkan beberapa karung memiliki langkah-langkah cara mencuci label logonya dengan merendamnya dalam sabun atau minyak tanah selama semalaman. Bagi sebagian wanita, mengubah karung tepung menjadi pakaian menjadi sumber pendapatan.

Pakaian karung juga dapat digunakan kembali. Misalnya, ketika pakaian anak-anak sudah tak muat di tubuh mereka, pakaian dapat digunakan menjadi selimut atau sprei. Meskipun menggunakan bahan dasar karung, pakaian tersebut sangat populer pada masa itu. Sekitar 3,5 juta wanita dan anak-anak mengenakan pakaian berbahan karung tepung saat Depresi Besar melanda. Hal tersebut dapat menjadi suatu “tanda kemiskinan”.

Pada tahun 1951, Marilyn Monroe membuat suatu “penghormatan” kepada era krisis tersebut. Wartawan pernah mengkritik tentang pakaiannya yang provokatif. Mereka menganggap Marilyn “murahan dan vulgar” dan menganggap karung kentang lebih cocok dikenakannya. Membalas tanggapan itu, Marilyn berpose memakai gaun dari karung pada pemotretannya. Alih-alih terlihat buruk dan gembel, ia tetap terlihat anggun walau dibalut dengan karung yang sudah robek dan cukup untuk membungkam wartawan yang menyindirnya.

Perang Dunia Kedua perlahan-lahan mengakhiri era Depresi Besar karena industri militer menyediakan pekerjaan dan bantuan ekonomi bagi jutaan orang. Tetapi, selama beberapa tahun singkat berada dalam kesengsaraan akibat Depresi Besar, para wanita menggunakan kecerdikan dan keterampilan mereka untuk memberikan sedikit warna dan gaya pada kehidupan yang membosankan dan menjemukan di masa itu. Mereka merupakan pahlawan yang dapat dicontoh untuk memaksimalkan kreatifitas diri yang ada demi kehidupan berhemat yang menyenangkan.

Penulis : Veve

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Review Novel Crying Winter

adminNovember 25, 2020

Keberlanjutan UKT Undip

adminNovember 16, 2020

Aksi Boikot Produk Prancis

adminNovember 16, 2020

Kabar Subsidi Kuota Undip setelah Bantuan Kuota Kemdikbud Turun

adminOctober 7, 2020

Jurnal Yang Tertinggal

adminOctober 3, 2020

Prank Spaghetti BCC, Britania Raya Heboh !

adminSeptember 25, 2020