Umum

Mahasiswa Undip Ciptakan Teknologi Pengolahan Ikan Asin Berdaya Saing International Berbasis Fotokatalis dan Lampu Pijar

Mahasiswa Undip Ciptakan Teknologi Pengolahan Ikan Asin Berdaya Saing International Berbasis Fotokatalis dan Lampu Pijar

Indonesia merupakan negara maritim. Oleh karena itu, Indonesia memiliki hasil laut yang melimpah. Namun, lautan yang biru itu kini sudah banyak yang tercemar oleh limbah industri berupa logam berat. Ikan-ikan laut di Indonesia saat ini sudah banyak yang tercemar logam berat seperti Timbal (Pb), Merkuri (Hg), dan Kadmium (Cd). Banyak berita dari media sosial beredar yang memberitakan pencemaran laut di Indonesia. Berikut beberapa contoh berita tersebut, Laut Tercemar Ikan Mati Mendadak, Cilacap- 25 Desember 2014 (SATELIT POST), Teluk Ambon Tercemar Logam Kadmium, Ambon- 23 Juni 2014 (TRIBUN-MALUKU), Pemerintah Banyuwangi Teliti Pencemaran Logam Merkuri, Banyuwangi- 25 Juli 2013 (TEMPO).
Ikan laut banyak diolah menjadi ikan asin. Metode pengolahan ikan asin yang berkembang di masyarakat saat ini adalah metode penggaraman kering dan metode penggaraman basah. Metode ini masih memiliki kelemahan yaitu tidak dapat mengurangi logam berat yang terkandung pada ikan yang tercemar.
Masyarakat dalam pengeringan ikan asin masih bergantung pada sinar matahari. Apabila cuaca hujan atau mendung masyarakat tidak dapat melakukan penjemuran ikan asin, akibatnya ikan yang diolah menjadi ikan asin menjadi busuk atau rusak. Sebagian pengolah menggunakan formalin dan pengawet pestisida untuk menghindari kebusukan pada ikan asin.
Dari masalah tersebut mahasiswa Undip atas nama Yoyon Wahyono (S1 Fisika), Alfin Darari (S1 Fisika), Eko Siswoyo (S1 Kimia), dan Yanuar Aji Saputro (S1 Fisika) tertantang untuk memberikan solusi berupa “Teknologi Pengolahan Ikan Asin Berdaya Saing International Berbasis Fotokatalis dan Lampu Pijar” yang dibimbing oleh Dr. Heri Sutanto, M.Si, Dosen S1 Fisika Undip.
Teknologi ini terbuat dari bahan utama kaca dan stainless. Terdiri tiga bagian yaitu bagian atas, tengah, dan bawah. Bagian atas adalah tempat untuk meletakkan lampu dan lapisan tipis fotokatalis, bagian tengah adalah tempat untuk meletakkan ikan asin yang akan dikeringkan, dan bagian bawah adalah tempat lampu pijar, penggaraman basah dan penyimpanan ikan asin yang telah jadi.
Di bagian tengah juga terdapat tempat sirkulasi udara dan kipas kecil fungsinya adalah untuk mempercepat aliran udara. Aliran udara yang cepat akan membawa uap air dari permukaan ikan asin dan mencegah uap air tersebut menjadi jenuh di permukan ikan asin. Dengan adanya sirkulasi udara dan kipas kecil ini akan mempercepat proses pengeringan. Teknologi ini dapat digunakan langsung dibawah sinar matahari. Sumber cahaya matahari digunakan untuk fotokatalis dan panas matahari untuk mengeringkan ikan asin. Dari reaksi fotokatalis tersebut membentuk senyawa superoksida yang melepaskan O2 dan OH radikal yang dapat mengoksidasi berbagai logam berat dan bakteri dengan efektifitas mencapai 97,19%, sehingga teknologi pengolahan ikan asin dengan prinsip fotokatalitik ini mampu mengeringkan ikan asin dengan cara membunuh bakteri dan mikroorganisme penyebab kebusukan dan mereduksi logam berat yang terkontaminasi pada ikan sehingga produk ikan asin teksturnya bagus dan terbebas dari logam berat.
Pada cuaca hujan atau awan mendung dan malam hari alat ini tetap dapat digunakan karena alat ini dilengkapi dengan lampu neon dan lampu pijar. Cahaya lampu neon dapat digunakan untuk reaksi fotokatalis, karena fotokatalis dapat bekerja pada cahaya tampak. Lampu neon yang digunakan adalah lampu neon dengan daya 14 watt. Untuk sumber panas yaitu dari lampu pijar. Lampu pijar yang digunakan hanya membutuhkan daya listrik 80 watt (2 lampu pijar). Panas yang dihasilkan dari lampu pijar ini setara dengan suhu yang dibutuhkan untuk pengeringan yaitu lebih kurang 36⁰C. Pemanasan dengan suhu terlalu tinggi tidak bagus karena akan merusak tekstur dan rasa dari ikan asin. Untuk kontrol suhu menggunakan termometer. Alat ini sangat berguna bagi masyarakat Indonesia, khususnya para pengolah ikan asin di Indonesia. Teknologi ini merupakan teknologi yang berdaya saing International. Dengan teknologi ini ikan asin aman dari bahaya pencemaran logam berat, sehingga teknologi ini menjadi solusi penyediaan ikan asin bermutu baik dan dapat meningkatkan produktivitas pengolah ikan asin di Indonesia.
Yoyon Wahyono menyebutkan bahwa inovasi teknologi ini berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa DIKTI tahun anggaran 2015 bidang PKM-KC. “Penelitian dari teknologi ini juga berhasil dipublikasikan pada 12th Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS 12)- Hokkaido University, Sapporo- Japan, pada bulan Maret 2015, hasilnya adalah jurnal penelitian dari teknologi ini masuk dalam Proceeding of Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS), Vol. XII, 21 Maret 2015, ISSN: 2355-4398,” tambah Afin Darari.

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umum

More in Umum

Indonesia di Masa Revolusi Industri 4.0

adminNovember 14, 2018

Rutinitas Aksi Buruh, Didengarkah oleh Pemerintah?

adminMay 6, 2018

Taman Segitiga Widya Puraya Dirombak

adminMarch 18, 2018

Mengenai Diskusi Pesta Pendidikan, Begini Tanggapan Ketua BEM FT Undip

adminOctober 18, 2017

90 Menit Bersama Jokowi dalam Dies Natalis ke-60 Undip

adminOctober 18, 2017

Jelang 30 September, Mahasiswa GERAM Adakan Nobar

adminOctober 1, 2017