Opini

MENJADI MAHASISWA

MENJADI MAHASISWA

“Jika ada satu negeri di muka bumi ini yang memiliki syarat menjadi sebuah Negara yang Adidaya, dia lah Indonesia dengan segala kekayaan alamnya, kuantitas sumber daya manusianya, dan segala potensi yang membuat Indonesia selayaknya surga yang dicipta di dunia.”
Lee Kuan Yeuw (Mantan Perdana Menteri Singapura)
Kalimat di atas nampak indah jika dipisahkan dengan kalimat yang melengkapinya. Lee Kuan Yeuw dikutip dalam bukunya yang berjudul One Man View’s of The World melengkapi kalimat diatas dengan, “….Namun Indonesia seolah gagal mengelola negerinya sendiri karena tingginya nilai korupsi dan ketamakan pihak-pihak tidak bertanggungjawab.”
Hal ini dibuktikan dengan bagaimana di awal tahun 1970-an kita booming masalah minyak bumi, bagaimana besarnya potensi minyak bumi yang dimiliki negeri ini. Tapi apa? Hari ini Indonesia menjadi salah satu importir minyak, bro! Lebih lanjut lagi, di tahun 1980-an kita coba beralih pada potensi Indonesia pada bahan baku berupa kayu mentah. Memang, kita semua sadar bahwa Indonesia terutama di Pulau Kalimantan menjadi tempat yang pas bagi kita dalam mencari pasokan bahan berupa kayu. Namun sewajarnya orang Indonesia yang tamak dan rakus, hari ini Indonesia mengalami proses deforestasi atau penggundulan hutan akibat banyaknya illegal logging yang seolah gagal diantisipasi oleh pemerintah. Di dekade selanjutnya, potensi tambang dan batu bara pun tidak berhasil dikelola dengan baik. Beberapa blok yang seharusnya dapat memberikan income yang cukup baik untuk Negara namun malah masuk kantung-kantung asing yang tidak semestinya dapat dengan seenaknya mengambil harta milik negeri tercinta ini.
Jujur, bicara tentang Indonesia pada akhirnya selalu bicara tentang permasalahan mendasar yang tak kunjung selesai; oportunisnya para pemangku kebijakan untuk mengambil keuntungan pribadi sebanyak mungkin sambil sedikit-sedikit melupakan rakyat yang telah rela memilihnya.
Setelah melihat berbagai macam permasalahan yang ada, lalu dimana kah posisi kita? Apa yang bisa mahasiswa perbuat? Mengapa seolah ada anggapan bahwa di era yang sekarang ini kita sebagai mahasiswa seperti kehilangan identitasnya? Mahasiswa seperti tidak tahu dan tidak bisa memecahkan permasalahan bangsa layaknya senior-senior terdahulu seperti mahasiswa angkatan ’66 atau ’98. Romantisme pergerakan senior-senior dahulu pada masanya bagaikan mampu mencetak prasasti tidak tertulis bahwa mahasiswa menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia. Penggerak bangsa.
Lalu apa kabar mahasiswa hari ini? Sudahkah kita menjadi mahasiswa?
—-
Mahasiswa adalah entitas unik yang hadir sebagai pelengkap elemen masyarakat yang sudah ada. Sebagai kaum intelektual muda, mahasiswa sudah seharusnya hadir sebagai pemberi hawa segar berupa solusi segala permasalahan yang hadir di antara masyarakat. Dengan segala idealisme yang dimilikinya, mahasiswa dituntut untuk selalu menawarkan kebaruan. Mahasiswa memang minim pengalaman, karena hal itu lah yang membuat bukan masa lalu yang mahasiswa tawarkan melainkan masa depan.
Ini bukan lagi masalah tanggung jawab mahasiswa akan IPK atau menyelesaikan studi secepat mungkin seperti yang banyak didengungkan di kalangan mahasiswa hari ini. Biarlah ini menjadi hal yang memang menjadi tanggung jawab paling mendasar bagi setiap mahasiswa yang memilih untuk berkuliah di Perguruan Tinggi. Mahasiswa ya wajib punya IPK bagus dan cepat lulus. Titik.
Tapi sudah seharusnya bukan berarti hanya itu saja yang diperjuangkan. Keberpihakan atas nama bangsa Indonesia dalam segala keputusan yang diambil menjadi sebuah perhatian yang cukup penting untuk diperjuangkan. Bahwa jika para wakil rakyat gagal menjalankan fungsinya, mahasiswa lah yang seharusnya berperan.
Memperjuangkan sesuatu atas nama bangsa Indonesia bisa dalam bentuk apa saja. Jangan ragu. Beberapa mahasiswa memilih untuk aksi turun ke jalan menyuarakan beberapa hasil kajiannya akan berbagai permasalahan bangsa, beberapa lainnya memilih untuk mengharumkan bangsa lewat karya tulis ilmiah dan dipresentasikan di universitas ternama di belahan dunia lainnya, tidak sedikit juga yang memilih lewat minat dan kegemarannya dalam olahraga dan seni sebagai alternatif caranya memperjuangkan bangsa ini, sisanya memilih tetap di dalam laboratorium untuk melanjutkan risetnya untuk kemajuan bangsa di masa yang akan datang.
Lalu kamu? Memilih diam saat yang lain berkarya? Ayo lah bangkit, bro! Jangan membuat bangsa ini terlalu lama menunggu. Yang perlu kalian ingat menurut laporan Indonesia Corruption Watch (ICW), dalam kurun waktu 2001-2012 saja total kekayaan Negara yang habis karena korupsi hampir menyentuh angka Rp 162 triliun. Jangan sampai keenggananmu untuk bergerak membuat bangsa ini menjadi semakin miskin. Maka pilihlah jalanmu, nikmati prosesnya, sabar jika agak lelah sedikit, agak jenuh sedikit. Yakinlah bahwa perjuanganmu akan membuahkan hasil yang manis. Yakinlah bahwa perubahan itu memang wajib dijemput, bukan ditunggu. Bersenang-senanglah dalam menikmati prosesnya!
Menjadi mahasiswa artinya menjadi jawaban atas segala problematika bangsa yang muncul ke permukaan. Jawablah dengan tegas namun santun, singkat namun penuh perhitungan, cerdas dan tidak bertele-tele. Jadilah mahasiswa yang siap menjawab pula tantangan bangsa kedepannya akan pentingnya kader penerus bangsa yang berkualitas, jujur dan berintegritas. Untuk itu, mari kita tidak lelah untuk selalu melangitkan mimpi dan membumikan hati. Siapkan dirimu dan jangan canggung menjawab tantangan tersebut! Siapkan amunisi terbaikmu dengan tidak lelah untuk terus belajar! Allah akan selalu sayang pada dia yang mau berjuang atas nama kebermanfaatan. Yeah!

Semarang, 6 Juni 2015

Aulia Hashemi Farisi
-Ketua BEM FT Undip 2015-

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Kerugian Masyarakat Papua demi Perluasan Lahan Sawit

adminDecember 20, 2020

Kondisi Kebebasan Pers Pada Lembaga Pers Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Posko Pengaduan UU Cipta Kerja, Cara Undip Menyerap Aspirasi Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Dilema Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

adminOctober 10, 2020

Polemik Kata “Anjay”

adminSeptember 21, 2020

Mahasiswa Baru: Keresahan Kaderisasi, Teman, dan Dosen Online

adminAugust 17, 2020