Opini

Pembunuhan Karakter Dalam Opini Publik Oleh Media Massa Tanpa Filter Informasi

Pembunuhan Karakter Dalam Opini Publik Oleh Media Massa Tanpa Filter Informasi

Pers saat ini mengalami perputaran 180 derajat dari zaman Soeharto yang bungkam dan hanya menulis segala tentang kebaikan kepemerintahan, kini lebih bebas menuliskan dan menyiarkan hal–hal yang dianggap perlu untuk diberitakan kepada khalayak umum. Dalam pasal 2 UU No. 40 menyatakan bahwa, “Kemerdekaan Pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum”.

Sudah sangat jelas bahwa pers adalah wujud kedaulatan rakyat, maka dari itu apa pun yang diberitakan oleh pers haruslah mengacu kepada kebebasan dan kesejahteraan rakyat. Terlebih karena fungsi pers sendiri sebagai penyambung antara rakyat dengan pemerintah agar semua aspirasi rakyat dapat diserap dan dicarikan pemecahan masalahnya sehingga kemerdekaan rakyat benar-benar mutlak.

Namun bagaimana jika media massa berperan ganda? Kadangkala media massa berada pada sisi pro rakyat dan mampu menjadi wadah rakyat untuk mengemukakan pendapat, namun disisi lain terkadang media massa pro pemerintah sehingga digunakan sebagai alat untuk pencitraan pemerintah.

Kemudian, Ilyas atau biasa disapa ”Bang One”, mengemukakan betapa strategisnya peran media dalam pembentukan realitas sosial. Berbagai contoh seperti pencitraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2004, kasus Manohara yang mengkonstruksi opini masyarakat bahwa dia sebagai orang yang perlu dilindungi, dan terakhir adalah citra terhadap KPK sebagai institusi pemberantasan korupsi tidak dapat dilepaskan dari peran media dalam membentuk opini publik.

Pencitraan semacam itu ternyata telah berhasil masuk kedalam pikiran masyarakat luas, berarti media mampu mempengaruhi masyarakat dalam memberikan stigma terhadap hal baru dalam hidupnya. Hal tersebut menunjukan bahwa rakyat secara terbuka menerima berita tanpa memfilter terlebih dahulu. Apalagi dengan krisis kepercayaan rakyat kepada pemerintah membuat rakyat tidak dapat berdiri tegak dan berprinsip pada suatu kebenaran berita, karena masyarakat tidak mengetahui realitas yang ada.

Pers sejatinya mengikuti kode etik jurnalistik, dimana pers harus bersikap netral, namun kini mulai tergerus karena oknum–oknum politik yang menggunakan media massa untuk kepentingan pribadi. Sebagai contoh pada saat musim pemilihan presiden, banyak media massa yang secara jelas memihak kepada salah satu kandidat terpilih. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri lagi karena pada saat itu media massa tersebut benar–benar secara terbuka memihak.

Bukan kah hal tersebut mampu menjadi virus pembunuhan karakter publik, karena publik terasa diombang–ambing dan tidak mempunyai pendirian teguh. Bahkan karena dahsyatnya pemberitaan tersebut, sampai–sampai banyak masyarakat yang diadu domba hanya karena membela kandidat presiden mereka. Semua berkelanjutan sampai media sosial dan kehidupan pribadi lainnya. Jadi tidak hanya para elit politik, masyarakat biasa pun dapat merasakan ketegangannya.

Ada baiknya masyarakat tidak boleh percaya begitu saja akan berita pada media massa, melainkan mereka harus mampu bersikap kritis dalam menyikapinya dengan melihat fenomena yang terjadi dan mengkaitkannya dengan realitas yang ada sehingga muncul stigma baru yang kenyang akan sebuah kebenaran, apalagi saat ini zamannya citizen journalism dimana rakyat mampu menyajikan berita yang paling dekat dengannya sehingga rahasia publik dapat terkuak dengan pemberitaan jurnalisme warga.

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Kerugian Masyarakat Papua demi Perluasan Lahan Sawit

adminDecember 20, 2020

Kondisi Kebebasan Pers Pada Lembaga Pers Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Posko Pengaduan UU Cipta Kerja, Cara Undip Menyerap Aspirasi Mahasiswa

adminNovember 2, 2020

Dilema Pilkada 2020 di Tengah Pandemi

adminOctober 10, 2020

Polemik Kata “Anjay”

adminSeptember 21, 2020

Mahasiswa Baru: Keresahan Kaderisasi, Teman, dan Dosen Online

adminAugust 17, 2020