Opini Publik

SARJANA TEKNIK ATAU INSINYUR?

SARJANA TEKNIK ATAU INSINYUR?

Ditulis oleh Herlangga/ S1 Teknik Mesin 2012


Bagi kalian mahasiswa teknik, pasti sudah sering dengar Program Profesi Insinyur yang akan digulirkan pemerintah dengan menggandeng 40 perguruan tinggi di Indonesia yang dilandasi UU No 11 Tahun 2014. Tujuan dari bergulirnya Program Profesi Insinyur ini adalah untuk menyetarakan kemampuan insinyur Indonesia dengan insinyur asing.  Namun, apakah Program Profesi Insinyur merupakan saran yang tepat bagi mahasiswa dengan menambah masa studinya selama satu tahun?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), insinyur /in·si·nyur/ n adalah sarjana teknik (sipil, listrik, pertambangan, per-tanian, mesin, dan sebagainya). Namun dalam Program Profesi Insinyur, seseorang yang dapat mengambil program ini adalah orang yang telah memperoleh gelar Sarjana Teknik. Maka dari itu, bukankah lebih baik pengertian insinyur dalam KBBI diganti sesuai dengan pengertian insinyur menurut UU No 11 Tahun 2014?

Menurut Rektor UMI Makassar, Program Profesi Insinyur yang dilakukan di 40 Perguruan Tinggi akan mulai digulirkan mulai Agustus tahun 2016. Sifat kurikulum Program Profesi Insinyur dan sistem kredit semester bermuatan 24 sks dan lebih 70% dilapangan dengan pembimbing magang dan 30% tatap muka diruang kelas dengan dosen pembimbing. Namun ada juga pemberitaan yang intinya, Program Profesi Insinyur dengan 24 sks akan diajarkan norma, etika dan ketrampilan insinyur. Maka yang jadi pertanyaan adalah dalam Program Profesi Insinyur apakah diajarkan secara spesifik yang kita kuasai atau belajar secara menyeluruh jurusan yang kita kuasai? Dicontohkan dalam hal ini Teknik Mesin, terdapat empat konsentrasi. Maka dalam Program Profesi Insinyur, apakah fokus pada satu konsentrasi atau kita akan diajarkan empat konsentrasi tersebut?

Seorang insinyur diharuskan memiliki berbagai aspek kemampuan berdasarkan ABET (Accreditation Board for Engineering and Technology) Engineering Criteria 2000, seperti mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan engineering, mampu merancang, melaksanakan eksperimen dan menganalisis serta menafsirkan data atau hasil uji, mampu memecahkan masalah engineer, mampu berperan dalam tim multidisiplin, mampu berkomunikasi dan lain sebagainya.

Menurut aspek kemampuan insinyur tersebut, semua orang yang dapat merekayasa dan merancang dengan ilmu pengetahuan dan engineer digolongkan sebagai insinyur. Lalu apakah industri kecil pengecoran dan industri kecil rekayasa yang mungkin tidak bergelar insinyur, mereka harus mengambil Program Profesi Insinyur ini agar tidak dipenjara? Karena menurut UU No 11 Tahun 2014 pasal 50 ayat 1, “Setiap orang bukan Insinyur yang menjalankan Praktik Keinsinyuran dan bertindak sebagai Insinyur sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah)”.

Apakah nantinya, orang yang mengambil Program Profesi Insinyur langsung terdaftar di Persatuan Insinyur Indonesia? Karena, untuk membuka praktik keinsinyuran diharuskan terdata di Persatuan Insinyur Indonesia. Dan setelah kita menjadi anggota Persatuan Insinyur Indonesia diwajibkan melakukan pembayaran iuran anggota serta memberikan sumbangan dana lainnya seperti yang cetuskan pada Pasal 43 Ayat 1 UU No 11 Tahun 2014 pasal 43 ayat 1, yaitu “Pendanaan PII bersumber dari: a. iuran anggota; dan b. sumber pendanaan lain yang sah menurut ketentuan peraturan perundang-undangan”.

Lalu mengapa kita harus menambah masa studi kita jika ingin menjadi seorang insinyur? Kalau toh ujung-ujungnya sertifikasi satu konsentrasi, mengapa tidak dilakukan sejak mahasiswa masih duduk dibangku kuliah semester akhir? Misalkan mahasiswa semester tujuh mengikuti pelatihan sertifikasi sesuai keinginan dan kemampuannya dengan difasilitasi universitas. Contoh pelatihan welding inspector, welding engineer, mananjemen kalibrasi, analisa kegagalan, desain CAD, sistem manajemen industri dan lain-lain. Dengan difasilitasi universitas, maka mahasiswa tidak perlu jauh-jauh mendatangi tempat sertifikasi tersebut.

Untuk mengatasi kesimpang siuran berita tentang Program Profesi Insinyur, ada baiknya di setiap jurusan yang terkena dampak program ini melakukan penyuluhan atau pencerdasan kepada mahasiswanya. Karena di Universitas Diponegoro sendiri, dosen-dosen telah dikumpulkan oleh Persatuan Insinyur Indonesia, yang mungkin disana membahas tentang Program Profesi Insinyur ini.

Lalu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang sudah dikemukakan diawal, masihkah kita membedakan Insinyur dan Sarjana Teknik?

 

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini Publik

More in Opini Publik

Kabar Terkini GKU FT

adminAugust 31, 2017

Keluhan Mahasiswa GKB FT

adminMay 24, 2016