Coretan Teknik

Pentingkah Memahami Logical Fallacy?

Pentingkah Memahami Logical Fallacy?

Zaman sekarang tentu berbeda dengan zaman dulu. Fasilitas dan kemampuan media pun kian meningkat seiring berkembangnya teknologi di dunia. Tak dipungkiri, kemampuan media atau bahkan kemudahan untuk mengakses dan menggunakan media membuat manusia dengan mudah menyalurkan opini ataupun pendapat mereka di media sosial. Tak hanya itu, kasus yang tengah booming di Indonesia, seperti “kasus penistaan agama” bahkan menjadi berita viral yang dimanfaatkan banyak media, baik untuk kepentingan golongan, pejabat, politik, ketenaran media, pengalihan isu ataupun kepentingan pribadi demi kekayaan. Sadarkah bahwa secara tidak langsung masyarakat dengan mudah melahap, me-repost, menyetujui, dan ikut andil dalam tulisan ataupun berita yang sumbernya hanya berasal dari sumber terkenal dengan jumlah pendukung di sosial media yang banyak tanpa berusaha mengetahui sumber lain? Pada akhirnya, masyarakat telah terkena dampak dari Logical Fallacy.

Logical Fallacy atau dalam bahasa Indonesia yaitu kesalahan dalam berlogika atau kesalahan dalam melakukan suatu penalaran. Logical fallacies are like tricks or illusions of thought ini berarti bahwa kesalahan berlogika mirip seperti trik dan ilusi pemikiran yang menghasilkan ketidak-masuk-akalan atau jika diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana dikenal dengan istilah “ngawur”. Tak sedikit orang yang mempunyai penalaran terbatas dengan tidak sengaja menggunakan logical fallacy. Namun banyak juga orang-orang yang mempunyai intelek tinggi sengaja menggunakan logical fallacy untuk memperkuat argumen, mempengaruhi orang lain ataupun melakukan sebuah pembenaran. Hal ini sering kita jumpai pada ajang forum diskusi, perbincangan ataupun perdebatan sehingga pada akhirnya pihak yang sedang berpendapat akan kehilangan fokus dan  arah tentang topik yang dibicarakan.

Pelaku-pelaku yang sering menggunakan logical fallacy tentu sudah tidak asing didengar oleh masyarakat. Pengacara yang tidak adil, politisi-politisi yang kotor bahkan media yang tidak netral pun menjadi pelaku tindak logical fallacy. Dengan logical fallacy, pengacara dapat memutar balikkan fakta dari yang awalnya benar bersalah menjadi tidak bersalah ataupun sebaliknya. Selain itu, dengan niat awal untuk mencari kebenaran, dengan logical fallacy, semua berubah menjadi pembenaran.  Begitu pun dengan benda berwarna warni yaitu televisi sebagai media informasi masyarakat sehari-hari yang dapat dengan mudah mempengaruhi orang lain atau penontonnya. Tentu saja hal ini termasuk hal yang buruk.

Tanpa disadari dampak dari logical fallacy dapat menghambat masyarakat dalam mengetahui kebenaran. Ketidakmampuan dalam berpikir kritis juga dapat menjebak masyarakat pada manipulasi oleh orang-orang yang sudah ahli dalam berdialek ataupun beretorika, sehingga tampak dari luar tentu sangat meyakinkan. Memang terdengar dengan sebutan cuci otak ataupun doktrin. Penggunaannya pun dapat membuat seseorang memenangkan pendapatnya untuk melawan orang lain. Dibodohi menjadi salah satu kata yang tepat terhadap dampak jika seseorang belum paham betul dengan penalaran yang baik ataupun pemahaman logical fallacy.

Maka dari itu sangat penting dan krusial khususnya masyarakat untuk memahami logical fallacy. Dengan begitu masyarakat khususnya mahasiswa yang mempunyai semangat jiwa yang tinggi dapat mengetahui perbedaan antara pendapat yang tidak berguna seperti omong kosong dengan pendapat yang benar-benar berguna alias masuk akal. Dan pada akhirnya mereka yang sudah mempunyai penalaran yang bagus dapat mengidentifikasikan mana ajakan buruk atau baik ketika sedang dibujuk oleh orang lain. Namun, jangan dilupakan bahwa alangkah baiknya jika masyarakat dapat memenangkan dan membiarkan pendapat yang sudah diketahui bagus dan membawa solusi serta kebermanfaatan kepada masyarakat umum.

Salah satu jurnalis handal pernah menganjurkan untuk tidak menuliskan tulisan berita layaknya “octopus writing” yang berarti jangan pernah menulis dengan menggunakan tinta hewan gurita, karena bukannya memperjelas tetapi malah mengaburkan. Oleh karena itu penting sekali, terutama di zaman ini khususnya mahasiswa yang mempunyai kebebasan berpendapat agar dapat memilah dan bersikap skeptis (ketidakpercayaan atau keraguan tentang sesuatu yang belum tentu kebenarannya) dengan mencoba menelisik lebih dalam untuk mencari kebenaran sebelum menyimpulkan sebuah permasalahan. Kasus berita yang tengah viral di Indonesia menyangkut penistaan agama pun dapat menjadi salah satu contoh agar kita dapat mengaplikasikan pemahaman logical fallacy bahwa telah banyak media-media yang tidak netral dan oknum-oknum yang memanfaatkan persoalan ini untuk kepentingan pribadi atau golongan. Tanpa sadar kita telah termakan dengan pemberitaan yang berasal dari permukaannya saja sehingga melupakan ideologi negara Indonesia yakni pancasila. Apabila hal itu semakin diteruskan maka persatuan negara pun akan terpecah belah, sedangkan pengertian dan makna pancasila adalah terwujudnya kehidupan yang menjunjung tinggi ketuhanan, nilai kemanusiaan, kesadaran akan kesatuan, berkerakyatan serta menjunjung tinggi nilai keadilan sebagai visi atau arah dari penyelenggaran kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Ingin mengenal lebih dalam jenis – jenis logical fallacy? Berikut pengertian dan contohnya, semoga bermanfaat!

  1. Strawman – Membuat interpretasi yang salah dari argumen orang lain agar lebih mudah diserang.
    contoh:
    Ibu: “Dek, sudah dulu main komputernya. Akhir-akhir ini ade terlalu sering main komputer.”
    ade: “Jadi ibu ingin saya berhenti main komputer selamanya? Ingin saya terus-terusan belajar
    sampaistress gitu? Ibu jahat!”
  2. False Cause – Menyambungkan hal yang terjadi bersamaan sebagai hubungan sebab-akibat.
    contoh:
    Premanisme di negara X meningkat dari tahun 2011-2013. Di saat bersamaan, rata-rata Indeks Prestasi (IP) mahasiswa di negara X itu juga terus menaik. Jadi, tingginya IP menyebabkan tingginya premanisme.
  3. Appeal To Emotion– Menggunakan manipulasi perasaan (emosi) seseorang dalam berargumen daripada membuat argumen yang logis
    contoh:
    A : “Pejabat partai A menjadi tersangka korupsi!”
    B : “Tidak mungkin, dia orang baik. Lihat saja dia sering menyumbang ke orang-orang miskin.”
  4. The Fallacy Fallacy– Karena seseorang melakukan logical fallacy dalam memperkuat argumennya, maka argumen itu pasti salah.
    contoh:
    Jim mengatakan bahwa merokok itu berbahaya karena dapat menyebabkan diare. Hal ini tentu saja salah dan Andy membantahnya. Andy berkesimpulan bahwa merokok itu menyehatkan.
  5. Slippery Slope – Kita tidak setuju dengan kejadian A karena jika dibiarkan akan muncul kejadian B, C, D, E, dan seterusnya sampai Z.
    contoh:
    Kalau kita membolehkan perkawinan gay, lama-kelamaan kita akan membolehkan pernikahan dengan orangtua, saudara kandung, dan binatang.
  6. Ad Hominem– Menyerang personality traits atau karakter seseorang dalam berargumen daripada membalas argumen tersebut.
    contoh:
    Sarah berkata bahwa Zaki harus jadi presiden BEM universitas X. Bob menjawab dengan apakah kita harus percaya dengan perkataan wanita yang sering gonta-gant pacar, memiliki gaya rambut aneh, dan sering bangun kesiangan.
  7. Tu Quoque – Menjawab kritikan dengan kritikan ketika seharusnya menjawab argumen lawan.
    contoh:
    Anna memperingatkan David agar tidak lagi merokok karena sudah mengalami gejala kanker paru-paru. David menolak itu karena Anna juga perokok.
  8. Personal Incredulity – Menganggap sesuatu tidak ada karena sulit dipahami/tidak percaya.
    contoh:
    Max tidak percaya bahwa ada yang mau menjadi relawan politisi secara gratis. Jadi, dia menyimpulkan semua relawan politisi itu dibayar.
  9. Special Pleading – Membuat pengecualian/alasan saat klaim seseorang terbukti salah.
    contoh:
    Max mengklaim bahwa dirinya bisa terbang. Ketika dites secara ilmiah, kemampuannya tidak terbukti. Max beralasan bahwa mereka harus percaya dulu bahwa Max bisa terbang agar dia dapat menunjukkan kemampuannya.
  10. Loaded Question – Mengajukan pertanyaan yang menimbulkan praduga secara implisit dan tidak bisa dijawab tanpa memiliki rasa bersalah.
    contoh:
    Dillon dan Bill sama-sama menyukai Claire. Saat Claire berada di dekat mereka berdua, Bill menanyakan apakah Dillon sudah berhenti merokok atau belum. Padahal, faktanya adalah Dillon tidak pernah merokok.
  11. Burden of Proof – Menanggap bahwa orang lain yang harus membuktikan bahwa klaimnya salah, bukannya pembuat klaim harus membuktikan bahwa klaimnya benar.
    contoh:
    Billy mengklaim bahwa antara Bumi dan Mars ada sebuah kuda yang mengitari orbit bumi. Karena tidak ada yang bisa membuktikan bahwa klaimnya salah, Billy menganggap klaimnya valid.
  12. Ambiguity – Menggunakan kalimat multitafsir atau ambigu dalam berargumen agar lawannya salah menginterpretasi kebenarannya.
    contoh:
    Ketika hakim bertanya mengapa si X memarkir mobilnya di area terlarang, si X menjawab dengan “tulisannyafine for parking here“.
  13. Appeal to consequences – Seseorang merasa bahwa dirinya harus benar dalam perdebatan karena apabila ia tidak benar, maka hal-hal (yang ia percaya) tidak baik akan menjadi konsekwensinya
    contoh:
    A : “Apakah memang perlu untuk menghukum penganut aliran X sedemikian hingga padahal kebanyakan dari mereka tidak tahu apa-apa?”.

B : “Apapun alasannya, penganut aliran sesat harus dihukum berat!”.

  1. Bandwagon – Percaya bahwa sesuatu itu benar karena mayoritas orang mengikutinya atau itu sesuatu yang populer.
    contoh:
    Pada abad pertengahan, banyak orang percaya bahwa Bumi itu datar. Hal ini tentunya salah, tetapi dianggap benar karena banyak orang mempercayainya.
  2. Appeal to Authority – Percaya jika suatu otoritas membuat klaim, maka hal itu dinyatakan valid tanpa harus mencari lebih dalam tentang kebenarannya.
    contoh:
    Pemerintah negara X menyatakan bahwa virus H5N1 (flu burung) berasal dari lumba-lumba, rakyatnya mempercayai begitu saja tanpa mencari lebih dalam.
  3. Composition/Division – Percaya bahwa jika sesuatu berlaku untuk sebagianpart dari suatu sistem, maka berlaku juga bagi seluruhnya. Begitu juga sebaliknya.
    contoh:
    Anderson tahu bahwa atom itu tidak kasat mata. Anderson juga tahu bahwa tubuhnya terbuat dari atom. Maka dari itu, Anderson percaya bahwa dirinya tidak kasat mata.
  4. No True Scotsman – Menyatakan bahwa jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan klaim, maka contoh tersebut bukanlah “contoh asli”.
    contoh:
    A: “Semua siswa kelas X-6 bisa menendang bola dari jarak 100 meter dan tepat sasaran ke tiang gawang.”
    B: “Aku siswa kelas X-6 tetapi aku tidak bisa melakukan itu.”
    A: “Kamu bukan siswa kelas X-6 sejati.”
  5. Genetic– Menjudge sesuatu itu baik atau buruk berdasarkan asal pernyataan itu/siapa yang menyatakannya.
    contoh:
    Politisi partai X terkena skandal korupsi. Politisi tersebut menghimbau kepada masyarakat agar tidak percaya apa yang dikatakan media karena media tidak bisa dipercaya dan bukannya membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak benar.
  6. Black-or-White – Membatasi hanya dua pilihan sedangkan seharusnya ada banyak pilihan yang mungkin.
    contoh:
    Seseorang yang tidak mendukung partai X yang berbasis nasionalis dinyatakan sebagai “musuh” negara karena tidak nasionalis.
  7. Anecdotal – Menggunakan pengalaman pribadi sebagai argumen yang valid tanpa disertai argumen-argumen masuk akal lain yang menunjang.
    contoh:
    Ketika Stella dan Anderson berdebat mengenai bahaya rokok, Anderson berkata bahwa ada tetangganya yang perokok tetapi bisa hidup sampai 70 tahun. Maka dari itu, Anderson berkesimpulan bahwa merokok tidak berbahaya.

Ardania Meilaningrum – S1 Teknik Industri 2015

Sumber :

https://yourlogicalfallacyis.com/
http://anggriawan.web.id/2014/07/logical-fallacy.html

https://jurisarrozy.wordpress.com/

Source Photo : boingboing.net

View Comments (1)

1 Comment

  1. Hafidz

    January 9, 2017 at 10:16 am

    Nah ini keren nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

MOVIE REVIEW: FANTASTIC BEAST: THE CRIMES OF GRINDELWALD

adminNovember 20, 2018

(Ulasan Film) “Christopher Robin” : Kisah Beruang Pandir dalam Balutan Live Action

adminSeptember 6, 2018

Gerakan Nasional Revolusi Mental Untuk Indonesia yang Lebih Maju

adminAugust 28, 2018

GEMES (Gerakan Masyarakat Peduli Sanitasi) di Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa

adminAugust 27, 2018

Pola Hidup Sehat Tentang Hipertensi

adminAugust 27, 2018

KKN Undip Jelajahi dan Eksplorasi Pesona Alam sebagai Potensi Desa Kalimanggis

adminAugust 26, 2018