Event

Solidaritas untuk Kendeng: Darurat Rakyat Agraria Selamatkan Pegunungan Kendeng!

Solidaritas untuk Kendeng: Darurat Rakyat Agraria Selamatkan Pegunungan Kendeng!

Kamis (2/3/2017) pukul 19.28 WIB bertempat di Gedung FSM Undip telah berlangsung diskusi dan menonton bersama tayangan mengenai pendirian pabrik PT. Semen Indonesia di Rembang yang terbuka untuk umum. Acara ini diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Pembela Kendeng (GMPK) Undip dengan melibatkan LBH Semarang sebagai salah satu pemantik diskusi. Dalam diskusi ini, GMPK memberi informasi dan tayangan yang bertujuan untuk membuka pikiran mahasiswa dalam menyikapi isu tersebut. Seperti aksi penolakan di Kantor Gubernur Jawa Tengah yang telah diadakan pada Januari lalu, isu ini ternyata tidak kunjung usai.

“Banyak yang tidak sesuai dari pendirian pabrik semen ini, karena mengancam keanekaragaman hayati dan adanya analisis AMDAL yang tidak sesuai,” jelas Hendra, salah satu pemantik diskusi. Menurutnya, masalah ini menyangkut konflik ekologis dan agraria yang merugikan masyarakat Rembang khususnya di sekitar Pegunungan Kendeng.

Menurut Ivan, perwakilan LBH Semarang mengatakan izin lingkungan merupakan izin kunci dari pendirian pabrik semen yang dijadikan gugatan di PTUN Semarang. Gugatan yang berlanjut ke Mahkamah Agung ini akhirnya dibatalkan. Hal tersebut harusnya menjadi kepastian yang tidak tergoyahkan lagi. Akan tetapi, kepastian itu direbut dan dimatikan oleh pengusaha dan penguasa sehingga kondisi saat ini menjadi suatu ketidakpastian.

Diskusi selama tiga jam ini berlangsung dengan tertib. Antusiasme audience terlihat dari banyaknya opini dan tanggapan yang disampaikan. “Isu yang terjadi di Kendeng ini hanya isu daerah yang price-nya nggak besar. Padahal sebenarnya isu ini bisa diangkat jadi isu nasional karena menyangkut kemaslahatan orang banyak,” ujar Hifzi, mahasiswa yang berasal dari Fakultas Teknik. Ia berharap agar seluruh mahasiswa sadar kalau isu di Indonesia itu bisa besar karena manusianya bukan karena price-nya.

GMPK menyebut bahwa kegiatan semacam ini harus terus dilaksanakan mengingat keturut-sertaan mahasiswa Undip dalam menanggapi isu masih sedikit. Harapannya setelah adanya kegiatan ini, mahasiswa Undip semakin tercerdaskan dan kedepannya pergerakan Undip dapat semakin masif.

“Kegiatan ini ada bottom up nya. Jadi, mungkin nanti kita bisa lempar ke temen-temen GMPK Semarang atau BEM Undip, agar mahasiswa yang awam dapat tersentral pemikirannya pada lembaga tertinggi di Undip. BEM Undip kan sudah pasti dikenal dan sudah ada track recordnya” ujar Agung, salah satu anggota GMPK Undip. Ia juga menyebutkan bahwa mahasiswa Undip yang aktif dalam pergerakan aksi tak lebih dari 5% dari total seluruh mahasiswanya.

(Momentum/Khur, Onix & Raudina)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Event

More in Event

Buruh dan Tuntutan Rakyat

adminMay 2, 2019

Kembali Menjadi Rektor Undip, Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H.,M.Hum Targetkan Undip Masuk 500 Besar World Class University

adminApril 30, 2019

Melihat Paus di Pantai Marina

adminApril 29, 2019

POR Teknik 2019 Telah Dibuka

adminApril 23, 2019

GRAND FINAL BATIK IN CAMPUS 2018

adminOctober 22, 2018

STERIL 2018: Milenia Klasika

adminOctober 2, 2018