Coretan Teknik

Kumpulan Puisi Andra Titano Busra – Bayi Bulan

Kumpulan Puisi Andra Titano Busra – Bayi Bulan

Wanita Sebelum Anggur

 

Kau adalah mutiara kecut yang kukejar

dari persimpangan kenangan

namun kau menolak untuk kutemukan.

melebur darahmu menjadi kembang api

lalu hunjam menjelma hujan anggur.

Kau hilang bersama dahaga para pemabuk.

 

Lara berkeliaran di kelopak matamu

menetaskan cerita-cerita orang dulu.

Tiba-tiba ada balita lahir dari rambutmu

dan kau ditikamnya dengan garpu tumpul.

Kau hampir mati namun kau mengabaikan ajal.

 

Luka di punggungmu belum kering,

goresan di kulitmu bercerita kau mampir untuk dinikmati

kemudian pergi setelah disakiti.

Bibir-bibirmu layu dan aku tak bisa

membedakannya dengan bunga di teras rumahku.

 

Getar pilu yang bergulir melalui jeritanmu,

memanggil jemariku untuk meraihmu.

Aku ingin mendekapmu ke dalam dadaku

yang ditanami kasur dan selimut hangat.

Tapi apa mau dikata, kau telah nyaman ditiduri ajal

dan nyenyak dipangkuan makam

bersama wanita-wanita yang pecah

menjadi anggur, sepertimu.

 

 

Kebaikan-kebaikan Orang Tak Baik

 

Akan kuceritakan kebaikan-kebaikan orang sepertiku.

Jangkar mata tetangga gemar mencakar pantai di bibirku.

Senyumku bernaung jadi fatamorgana di benak mereka.

Mereka hanya tidak tahu kebaikan-kebaikan orang sepertiku.

 

Aku suka mencuri ikan di rumah makan Padang,

tetapi tulangnya kusedekahkan kepada kucing tetanggaku yang kelaparan.

Kucingnya kelaparan, juga sang majikan, pun kelaparan.

Sengaja kubuat kucingnya gemuk agar majikannya bisa menyantap si kucing dengan lahap.

Pada akhir minggu tetangga baruku itu akan kumasak dan bahagialah perut kami.

 

Kalau lewat lampu merah, aku membagikan uang kepada pengamen.

Karena sudah menerima kekayaan dariku, mereka akan berhenti menyesaki jalanan.

Jalanan sepi adalah ladang bagi kejahatan.

Aku berbuat jahat demi kekayaan-kekayaan yang bisa menunaskan kebaikan bagi pengamen.

 

Senang pula diriku mencurangi kesetiaan kepada istriku

Demi melahirkan kebaikan bagi istri-istri temanku

yang belum mengenal kebaikan dari suami-suami mereka.

Akan kuajarkan cara menelaah kebaikan kepada mereka,

agar mereka sedia mengisahkan kepada istriku,

betapa aku dermawan membagi kebaikan-kebaikan kepada sesama.

 

 

Bayi Bulan

 

Ibu ingin aku melahirkan bulan dari perutku yang tak berahim.

Kasih sayang meluncur dari hati yang bersih.

Hati berada dekat perut, maka ibu ingin aku

menghadiahinya cucu seorang (sesatelit) bulan.

Ibu suka bulan tetapi belum pernah menyaksikannya.

Ia hanya melihat bulan dari buku, film, dan gosip para tetangga.

Ibu tidak bisa terjaga di malam hari sehingga

bulan tak pernah mengunjunginya.

Aku ingin Ibu bahagia, dengan bayi bulan merengek di pangkuannya.

 

 

Gaun Makam

 

Senja menguncup melahirkan benih malam.

Duka pendar lampu jalan menikam bulan,

lalu mendekapku dalam dekam kepak pucuk malam.

 

Siulan kabut menggetarkan lolongan lelap

di bibir tiang-tiang listrik yang berkarat,

lama tak dikecup serapah.

Atau dicumbui doa.

Atau dikencingi perpisahan.

Dan atau diperkosa obrolan telepon genggam tanpa suara.

 

Kamar di rongga dadaku lelah, usai diperah

senyummu yang memerah namun tak berarah.

Dia ingin istirahat sebentar, tanpa kedatangan tamu tak bersurat.

 

Matamu hantu. Kadang mataku tak mampu melihatnya.

Kadang dibuatnya aku kesurupan.

Menyelipkan asa dan cinta ke belahan dadamu

berarti menikam pedang kertas ke wajahku sendiri.

Tidak berhulu dan tak berujung.

Hati pecah jadi buih.

 

Aku akan mengidamkan malam saja.

Atau berkawan dengan malam.

Atau sekalian bersetubuh dengan malam.

Seperti wajah bumi yang padam, aku melebur menjadi malam lalu tertidur bergaun makam.

 

Semarang, 6 Mei 2017

Ditulis oleh: Andra Titano Busra

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Coretan Teknik

More in Coretan Teknik

Pendidikan Berbasis Kebun Cerdas dan Ceria

adminMay 16, 2018

Hening

adminMarch 16, 2018

WHAT HOME SUPPOSED TO BE

adminMarch 8, 2018

LUNAR ECLIPSE

adminFebruary 10, 2018

Diponegoro : Simbol yang Menandai Zaman

adminJanuary 27, 2018

Indonesia Darurat Membaca

adminJanuary 18, 2018