Prestasi

Mahasiswi FT Undip Juarai Kompetisi Debat di Malaysia

Mahasiswi FT Undip Juarai Kompetisi Debat di Malaysia

Johor Bahru, Momentum – Debat terkadang disalahartikan sebagai awal dari suatu konflik yang akhirnya akan menimbulkan perpecahan. Oleh karena itu, tidak heran apabila debat seringkali mendapat konotasi negatif dari masyarakat, khususnya orang awam. Beruntung, saat ini sudah semakin banyak kompetisi debat yang diadakan dengan tujuan mengasah kemampuan pemuda, terutama mahasiswa untuk berpikir kritis sehingga stigma terhadap debat pun perlahan menghilang. Tidak terkecuali kompetisi debat yang diadakan dalam acara Professional, Engineering, Leadership, Teamwork & Awareness Camp (PELTAC) 2019 di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) Johor Bahru.

PELTAC 2019 sejatinya merupakan suatu acara pelatihan berbentuk kamp yang diadakan dari hari Minggu (13/1/2019) hingga Kamis (17/1/2019). Acara ini diikuti oleh 37 mahasiswa dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Mesir, Bangladesh, dan Somalia. Pada acara ini, peserta tidak hanya mendapatkan ilmu melalui materi-materi yang disampaikan oleh berbagai pembicara, tetapi juga melalui berbagai simulasi untuk membantu peserta memahami cara mempraktikkan materi yang telah mereka dapatkan. Salah satunya adalah kompetisi debat yang diikuti seluruh peserta pada hari kedua, yaitu hari Senin (14/1/2019) dengan mendatangkan juri dari Toastmasters International, sebuah organisasi pendidikan nonprofit yang berfokus pada peningkatan kemampuan komunikasi dan public speaking. Pada kompetisi tersebut, 37 peserta dibagi menjadi 12 tim yang melewati babak penyisihan hingga tersisa enam tim, lalu dari keenam tim tersebut diambil masing-masing satu pembicara terbaik dari tiap tim untuk digabungkan menjadi dua tim yang akan bertanding pada babak final.

Natasha Gardenia Ameniar, salah satu delegasi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro yang berasal dari Program Studi S1 Teknik Industri angkatan 2017, berhasil menjadi Winner (Juara 1) pada kompetisi debat ini bersama kedua anggota timnya, yaitu Faris Nur Khulafa dari Universitas Negeri Semarang dan Salmanita Sarasdewi Kamila dari Institut Teknologi Bandung. Mahasiswi yang akrab disapa Natasha ini juga meraih penghargaan Best Speaker (Pembicara Terbaik) pada kompetisi tersebut.

Pada awalnya, Natasha tidak menargetkan untuk meraih juara 1 apalagi menjadi best speaker. Hanya saja, dengan ilmu yang telah diberikan oleh Yasotha Arumugam dari Toasmasters International selaku pembicara pada materi debat dalam PELTAC 2019 dan dilengkapi dengan pengalamannya mengikuti pelatihan dan lomba debat semasa SMA dan kuliah, Natasha dapat bekerja sama dengan seluruh anggota timnya sehingga dapat unggul pada penyisihan dan final. Meskipun kedua penghargaan tersebut disyukurinya, namun menurut Natasha, hal terpenting yang ia dapatkan dari kompetisi debat ini adalah kesempatan untuk memaksa dirinya keluar dari zona nyaman. Hal ini dirasakannya ketika babak penyisihan dimana ia harus menghadapi tim lawan yang dua dari tiga anggotanya berasal dari Mesir dan Bangladesh. Tentunya, Natasha dan kedua rekan setimnya harus memastikan agar argumen mereka disampaikan dengan bahasa Inggris yang baik agar dapat dipahami oleh lawan mereka. Sebaliknya, mereka juga harus benar-benar menyimak argumen dari tim lawan agar dapat tepat sasaran saat menyanggahnya. Hal lain yang dipelajari Natasha selama mengikuti kompetisi ini adalah kemampuan untuk berpikir kritis dalam waktu singkat. Pada saat final, ia hanya memiliki waktu sekitar 10 menit untuk mendiskusikan mosi bersama anggota setimnya dan saat babak final telah dimulai, ia dan rekan setimnya harus berpikir cepat untuk menghasilkan sanggahan terhadap argumen tim lawan mereka, tentunya didasari dengan bukti yang valid untuk memperkuat argumen serta sanggahan mereka.

Natasha berpesan kepada mahasiswa Fakultas Teknik Undip agar tidak ragu untuk mengikuti PELTAC di tahun-tahun berikutnya karena dalam acara ini tidak hanya ada kompetisi, tetapi juga materi-materi yang disampaikan oleh pembicara kelas dunia dan kegiatan outdoor yang menantang. Menurutnya, sekalipun tidak meraih juara, seluruh peserta akan tetap mendapat kesempatan untuk meningkatkan kemampuan public speaking dan berpikir kritis melalui simulasi debat yang diadakan dalam acara ini serta tentunya kesempatan untuk memperluas networking hingga ke mancanegara melalui seluruh rangkaian acara yang ada. (Momentum/Nia)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Prestasi

More in Prestasi

MAWAPRES BUKAN STANDAR TERTINGGI MELAINKAN HADIAH KERJA KERAS

adminApril 28, 2019

Mahasiswa FT Undip Ciptakan Pengganti Solar dari Minyak Jelantah

adminNovember 16, 2018

Mahasiswa Undip Lakukan Diagnosis Performa Hitung melalui Test of Second Mathematic (ToSM)

adminJune 5, 2018

Kesibukan Bukan Penghalang Untuk Berprestasi

adminMarch 26, 2018

Mahasiswa FT Undip peraih 1st Runner Up Debate Competition dalam ajang PELTAC: Membuka Relasi, Mengukir Prestasi

adminFebruary 3, 2018

Delegasi Undip Raih Juara III Dalam Call For Paper Week of Writing 2017

adminDecember 4, 2017