Opini

Batu bara Indonesia

Batu bara Indonesia

Sumber : jateng.tribunnews.com

 

Semarang, Momentum – Sexy Killers telah tayang perdana pada Minggu (07/4/2019) dan resmi dirilis di channel youtube Watchdoc pada Sabtu (13/4/2019). Baru beberapa hari, film yang termasuk bagian dari ekspedisi Indonesia biru ini telah ditonton jutaan kali. Bahkan, banyak yang menyelenggarakan nonton bareng dan diskusi di berbagai komunitas dan kampus-kampus. Salah satu kegiatan nobar juga dilaksanakan di Student Center Undip pada Senin  (15/4/2019).

Sexy Killers mengungkap  kepiluan yang berada dibalik cahaya yang selama ini kita rasakan dan jarang dipublikasi oleh media. Terdapat beberapa isu yang diangkat dari film ini. Salah satunya isu lingkungan. Misalnya di krisis air bersih, penurunan hasil panen para petani, polusi udara yang mengancam keselamatan para warga yang tinggal di sekitar lokasi, serta kerusakan terumbu karang oleh kapal tonggang yang melintas dan memasang jangkar. Keberadaan tongkang batu bara ini juga menyebabkan para nelayan mengalami kerugian. Jumlah tangkapan yang biasa mereka dapatkan harus berkurang, dan terpaksa membat mereka harus berlayar lebih jauh dari biasanya.

Selain isu lingkungan, beberapa isu seperti penegakan hukum dan HAM juga disinggung. Misalnya ada beberapa petani yang menolak memberikan tanahnya pada perusahaan justeru malah dikriminalisasi karena dianggap menghalangi pengoperasian perusahaan. Padahal sudah jelas, dalam industri batu bara tidak boleh melakukan perampasan tanah para petani.  Film ini juga menyorot nama-nama yang sudah tak asing lagi di dunia politik Indonesia yang berkiprah di industri batu bara. Seakan-akan film ini hendak memberitahukan kepada kita bahwa kekayaan alam di Indonesia yang seharusnya dipergunakan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak sesuai dengan pasal 33 ayat 1 UUD 1945, nyatanya hanya dikuasai sekelompok elite saja.

Rencana menambah jumlah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terus digemborkan, meski dampak negatifnya secara nyata dirasakan oleh warga-warga di sekitar lokasi pembangunan. Sehingga memunculkan anggapan bahwa keuntungan yang didapatkan hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja.

Para aktivis lingkungan memang mengecam penambangan batu bara dan pembangunan PLTU secara terus-menerus. Terlebih lagi, banyak perusahaan yang tak taat pada aturan yang justru menyebabkan kerusakan-kerusakan seperti yang telah disebutkan diatas.

Menurut riset dampak PLTU Batu bara oleh Tim Peneliti Universitas Harvard- Atmospheric Chemistry Modeling Group (ACMG) dan Greenpeace Indonesia, jumlah cadangan batu bara Indonesia hanya 3% cadangan dunia. Maka sudah saatnya Indonesia mulai melirik penggunakan clean energy dan energi terbarukan. Negara-negara maju seperti Cina dan  Amerika secara perlahan telah beralih kepada energi ramah lingkungan.

Berdasarkan Jurnal Energi Kementerian ESDM Indonesia memiliki potensi yang cukup besar di bidang energi baru dan terbarukan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Tetapi tetap semua itu membutuhkan proses yang lama. Diperlukan riset mendalam dan persiapan yang matang untuk merencanakan penggunaan energi terbarukan. (Tita Nur Apriani)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

More in Opini

Kebebasan yang Dikekang

adminApril 21, 2019

ADA APA DENGAN UU ITE?

adminMarch 23, 2019

Menindaklanjuti Masa Studi Perguruan Tinggi

adminNovember 10, 2018

Aphelion dan Penurunan Suhu Permukaan

adminJuly 10, 2018

Booming Suku Asmat

adminJanuary 29, 2018

Netizen Baik atau Buruk?

adminJanuary 25, 2018