Coretan Teknik

Janji Terakhir

Janji Terakhir

Sumber gambar : https://www.vangoghgallery.com/painting/starry-night.html

Terik matahari yang menyengat membuat Karin mengeluh dengan alisnya yang mengerut dan bibirnya yang maju satu meter. Aldi yang menggenggam tangannya mendengarkan ocehan Karin yang membuatnya sedikit tertawa. Ini masih pukul 8 pagi dan kekasihnya itu sudah mengeluh kepanasan seakan-akan tengah hari mulai menyapa. Pagi itu mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di taman kota. Kata Aldi matahari pagi baik untuk kesehatan tapi jelas tidak baik bagi suasana hati Karin. Tangan kiri Karin yang menganggur diletakkan di depan dahinya untuk digunakan sebagai “topi” sementara.

“Untuk apa kau hormat? Ini hari Minggu dan tak ada upacara,” Aldi yang bingung akan kelakuan Karin tidak bisa menahannya untuk mengatakan hal itu.

“Panas Aldi, memang kau tidak kepanasan? Lagi pula tidak seperti biasanya kau mengajakku jalan-jalan sepagi ini.” jawab Karin

“Kau itu tidak sadar? Liburan ini kau terlalu banyak di dalam rumah hingga mukamu mejadi pucat! Oleh karena itu aku mengajakmu jalan-jalan pagi sambil menyapa matahari. ‘Hai matahari!’” Aldi pun melambaikan tangannya ke arah matahari yang hanya bisa membuat Karin menggelengkan kepalanya.

Liburan semester ini mereka memang jarang bertemu karena Karin mengaku pada Aldi jika ia terlalu malas untuk pergi keluar. Pukul 6 pagi tadi Aldi mengajak Karin keluar untuk bertemu karena memang sudah seminggu lamanya mereka tidak bertemu. Saat Karin mengiyakan ajakannya, Aldi sangat memanfaatkan kesempatan ini untuk berkencan seperti halnya pasangan lain. Mereka berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan, makan di kedai langganan mereka, berbicara tentang isu terbaru, mengambil foto bersama, tertawa tentang lelucon yang dilontarkan, dan hal kecil lainnya yang membuat suasana hati mereka senang.

Langit sudah berubah warna menjadi oranye, matahari yang disapa Aldi tadi pagi pun hampir selesai menjalankan tugasnya hari ini. Scooter yang ditumpangi mereka pun melaju perlahan menuju rumah Karin. Karin yang memeluk Aldi dari belakang berusaha mendekatkan kepalanya pada Aldi berniat untuk mengatakan sesuatu.

“Aldi, aku ingin memberimu tantangan!”

“Tantangan apa?” tanya Aldi.

“Sehari hidup tanpaku! Jadi nanti kita tidak berkomunikasi sama sekali selama 24 jam penuh dimulai jam 12 malam nanti sampai besok jam 12 malam. Jika kau berhasil, aku janji akan mencintaimu selamanya.” jawab Karin.

Tantangan ini membuat Aldi resah, pasalnya mereka selalu berhubungan online setiap saat untuk mengetahui kabar mereka masing-masing. Ia takut jika ada sesuatu yang terjadi pada Karin dan ia tidak mengetahui hal itu. Aldi berniat untuk menolak tantangan tersebut tetapi Karin memohon agar Aldi menerima tantangannya tersebut.

“Oke, tapi janji kau akan mencintaiku selamanya jika aku berhasil?” Dengan pasrah Aldi menerima tantangan Karin yang sulit baginya itu.

“Iya Aldi, aku janji!” jawab Karin.

Setelah mengantarkan Karin pulang dengan selamat, Aldi pun langsung bergegas ke rumahnya. Mereka masih berhubungan online hingga jam hampir menunjukkan pukul 12 malam dan tantangan itu pun dimulai. Selama sehari Aldi merasakan kegelisahan menyelimuti dirinya. Ia memikirkan kemungkinan terburuk terjadi pada kekasihnya yang membuat dirinya takut. Aldi yang berniat terjaga hingga tengah malam pun tertidur saat jam masih menunjukkan pukul setengah 12 malam mungkin karena lelah memikirkan hal itu.

Pagi itu Aldi baru bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat jam yang menunjukkan pukul 7 pagi. Ia mengambil ponselnya berniat menghubungi Karin, tetapi sialnya ponselnya mati kehabisan baterai. Umpatan kecil keluar dari mulut Aldi dan ia pun langsung mengisi daya ponselnya. Ia pun berjalan menuju kamar mandi untuk menjalankan rutinitasnya di pagi hari. Setelah itu ia bersiap-siap pergi ke rumah Karin karena sudah tidak sabar bertemu dengannya. Tanpa mengecek ponselnya, Aldi berlenggang menggunakan scooter-nya menuju kesana. Sesampainya di rumah Karin ia mengetuk pintu depan rumah itu dengan tidak sabar. Saat pintu terbuka karena ia piker Karin yang membukakannya pintu Aldi pun memasang wajah sumringah.

“Aku berhasil sayang!” kata Aldi.

Bukan Karin yang membukakannya pintu tetapi pembantu yang bekerja di rumahnya, dan ia menggunakan pakaian serba hitam. Mata Aldi langsung tertuju pada peti mati berwarna putih dan terdapat badan Karin yang terbujur kaku di dalamnya. Aldi tidak sadar selama ini Karin beralibi malas keluar rumah padahal ia berobat melawan penyakitnya. Aldi tidak sadar selama ini wajah pucat Karin memiliki arti tertentu. Aldi tidak sadar kencan mereka kemarin lusa adalah pertemuan terakhir mereka. Aldi tidak sadar bahwa Karin sedang sekarat. Aldi tidak sadar bahwa kekasihnya menyembunyikan hal besar darinya selama ini. Tetapi satu hal yang Aldi tahu, Karin meninggalkannya untuk selamanya.

Dengan lemas Aldi berjalan menuju peti mati yang dikelilingi berbagai bunga itu. Ia mengamati wajah pucat Karin yang terlelap dengan tenang dengan ekspresi yang tidak terbaca. Terdapat secarik kertas bertuliskan namanya yang membuat ia mengambil kertas kuning itu saat itu juga. Tulisan Karin tersebut membuat Aldi tak kuasa membendung air matanya lagi.

“Selamat sayang kamu berhasil! Sekarang lakukanlah hal itu setiap hari. Maafkan aku.

Karin, yang mencintaimu selamanya.”

(Penulis :Fancy Jane)

Click to add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Coretan Teknik

Prank Spaghetti BCC, Britania Raya Heboh !

adminSeptember 25, 2020

Pelaksanaan UKM Expo Undip Ditengah Pandemi

adminSeptember 14, 2020

Mungkin Bumi Cendrawasih Lahir Ketika Tuhan Sedang Cemberut: Sebuah Esai Tentang Kemiskinan, Ketimpangan dan Kegagalan Memahami Masyarakat Papua

adminSeptember 12, 2020

Mungkin Bumi Cendrawasih Lahir Ketika Tuhan Sedang Cemberut: Sebuah Esai Tentang Kemiskinan, Ketimpangan dan Kegagalan Memahami Masyarakat Papua – Bagian 4

adminSeptember 6, 2020

Mahasiswa KKN Undip Ajarkan Petani Produksi Siwang dan Edukasi Menghafal Al-qur’an, Belajar Bersama dimasa Pandemik Covid-19

adminAugust 20, 2020

Mahasiswa KKN UNDIP Membantu Warga RT 10/RW 04 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Mengurangi Penyebaran Virus COVID-19 Dan Menghadapi New Normal

adminAugust 17, 2020